==============================================
PENGUMUMAN !!! HARUS DIBACA!!!
==============================================

KARENA BANYAKNYA PESANAN MAKA UNTUK MEMPERLANCAR PROSES PEMBUATAN DIHARAP BAGI PEMESAN DAPAT MENGIRIMKAN CONTOH DAFTAR ISI, KARENA SISTEMATIKA PENULISAN MASING-MASING KAMPUS BIASANYA MEMILIKI PERBEDAAN.

BAGI PEMESAN KTI YANG SEKALIGUS MEMESAN BUKU REFERENSI DIHARAPKAN DAPAT MENGIRIMKAN ALAMAT YANG JELAS AGAR PROSES PENGIRIMAN BUKU TIDAK MENGALAMI HAMBATAN

BAGI MAHASISWA YANG MEMINTA BANTUAN PENGOLAHAN DATA HASIL PENELITIAN, MAKA DIHARAPKAN DAPAT MENGISI TABEL PENGOLAHAN DATA YANG KAMI SEDIAKAN DENGAN BENAR SEHINGGA PROSES UJI STATISTIK TIDAK MENGALAMI ERROR.

=====================================
PESAN KAMI... PENTING UNTUK DIBACA!!!
=====================================
IKUTILAH PETUNJUK/SARAN PEMBIMBING, JIKA TERJADI REVISI BERUSAHALAH SENDIRI SEMAMPUNYA, JIKA MASIH BINGUNG HUBUNGI KAMI.

LAKUKANLAH PENELITIAN DENGAN JUJUR, JANGAN MENGARANG HASIL PENELITIAN. JIKA MEMANG KESULITAN DALAM PENGOLAHAN DATA MAKA SILAHKAN HUBUNGI KAMI KARENA KAMI JUGA MELAYANI JASA PENGOLAHAN DATA.

KARENA ADA BEBERAPA PEMESAN KTI YANG BINGUNG DALAM PROSES PEMBAYARAN (PORSES TRANFER) MAKA SILAHKAN KLIK DI SINI UNTUK MENGETAHUI PANDUAN/CARA TRANFER.


====================================================

JUDUL KTI KEBIDANAN TERBARU!!!!

Sabtu, 28 Februari 2009

PENDERITA ASMA

Asma adalah suatu kelainan berupa inflamasi kronik saluran napas yang menyebabkan sensitifnya trakea dan cabang-cabangnya (hipereaktivitas bronkus) terhadap berbagai rangsangan. Rangsangan ini dapat menimbulkan obstruksi saluran napas yang menyeluruh dengan derajat yang bervariasi dan dapat membaik dengan atau tanpa diobati. Pada kelainan ini berperan berbagai sel inflamasi antara lain sel mast dan eosinofil. Penyakit asma dapat terjadi pada berbagai usia baik laki-laki maupun perempuan.
Angka kejadian asma bervariasi di berbagai negara, tetapi terlihat kecenderungan bahwa penderita penyakit ini meningkat jumlahnya, meskipun belakangan ini obat-obat asma banyak dikembangkan. Di negara maju angka kesakitan dan kematian karena asma juga terlihat meningkat. Tanggal 4 Mei 2004 ditetapkan oleh Global Initiative in Asthma (GINA) sebagai World Asthma Day (Hari Asma se-Dunia). Menurut data organisasi kesehatan dunia (WHO), penyandang asma di dunia mencapai

100-150 juta orang. Jumlah ini diduga terus bertambah sekitar 180 ribu orang per tahun. (http://outeapoci.wordpress.com/2008)
Di negara tetangga seperti Malaysia, Thailand, Brunei Darussalam dan Singapura, bronkitis, emfisema dan asma merupakan penyebab kematian ke delapan. Penelitian di Amerika Serikat mendapatkan prevalensi asma sekitar 3%, sementara di Inggris angkanya adalah sekitar 5%. Penelitian pada guru-guru di India menghasilkan prevalensi asma sebesar 4,1 %, sementara laporan dari Taiwan menunjukkan angka 6,2%.
National Health Interview Survey di Amerika Serikat memperkirakan bahwa setidaknya 7,5 juta orang penduduk negeri itu mengidap bronkitis kronik, Iebih dari 2 juta orang menderita emfisema dan setidaknya 6,5 juta orang menderita salah satu bentuk asma. Di tahun 1981 di Amerika Serikat dilaporkan ada 60.000 kematian akibat PPOM dan keadaan yang berhubungan dengannya. Laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam World Health Report 2000 menyebutkan, lima penyakit paru utama merupakan 17,4% dari seluruh kematian di dunia, masing-masing infeksi paru 7,2%, PPOK 4,8%, tuberkulosis 3,0%, kanker, paru/trakea/bronkus, 2,1%, dan asma 0,3% (http://www.suarapembaruan.com, 2008).
Peningkatan penderita asma bronchial juga terjadi di Indonesia, penelitian pada anak sekolah usia 13-14 tahun dengan menggunakan kuesioner ISAAC (International Study on Asthma and Allergy in Children) tahun 1995 menunjukkan, prevalensi asma masih 2,1%, dan meningkat tahun 2003 menjadi dua kali lipat lebih yakni 5,2%.
Asma terbukti menurunkan kualitas hidup penderitanya. Dalam salah satu laporan di Journal of Allergy and Clinical Immunology tahun 2003 dinyatakan bahwa dari 3.207 kasus yang diteliti, 44-51% mengalami batuk malam dalam sebulan terakhir. Bahkan 28,3% penderita mengaku terganggu tidurnya paling tidak sekali dalam seminggu. Penderita yang mengaku mengalami keterbatasan dalam berekreasi atau olahraga sebanyak 52,7%, aktivitas sosial 38%, aktivitas fisik 44,1%, cara hidup 37,1%, pemilihan karier 37,9%, dan pekerjaan rumah tangga 32,6%. Absen dari sekolah maupun pekerjaan dalam 12 bulan terakhir dialami oleh 36,5% anak dan 26,5% orang dewasa. Selain itu, total biaya pengobatan untuk asma di USA sekitar 10 milyar dollar per tahun dengan pengeluaran terbesar untuk ruang emergensi dan perawatan di rumah sakit. Oleh karena itu, terapi efektif untuk penderita asma berat sangat dibutuhkan (http://myhealing.wordpress.com/2008).
Baru-baru ini Howarth dan rekan menemukan bahwa ekspresi dari sitokin yang disebut tumor necrosis factor alpha (TNF-α) pada saluran napas berkaitan dengan tingkat keparahan asma. TNF-α adalah salah satu sitokin inflamasi yang berhubungan dengan alergi. Hasil penelitiannya memperlihatkan bahwa penderita asma berat memiliki TNF-α yang lebih tinggi konsentrasinya dibandingkan dengan orang normal. Pada penderita asma berat ditemukan bahwa tingkat ekspresi gen TNF-α lebih besar daripada pada penderita asma sedang maupun yang terkontrol, meskipun telah dilakukan terapi kortikosteroid dosis tinggi. Penelitian Berry dan rekan kemudian membuktikan bahwa TNF-α adalah efektor utama hiperresponsivitas bronkial pada penderita asma yang sulit disembuhkan dengan terapi kortikosteroid. Namun faktor TNF-α ini tidak berlaku pada semua tipe asma. Berbeda dengan pada asma berat, pada asma sedang, jumlah TNF-αnya sama dengan penderita asma yang terkontrol. (http://ririgituloch.multiply.com/2008)
Peningkatan jumlah penderita asma di negara berkembang termasuk Indonesia saat ini membutuhkan penanganan yang serius. Data dari medical record Rumah Sakit Umum Ahmad Yani Metro menunjukkan bahwa jumlah penderita asma bronkial pada tahun 2007 masuk dalam 10 besar penyakit yang ada di ruang Penyakit Dalam yaitu mencapai 148 orang (8,26%). Sedangkan pada tahun 2008 penderita asma bronkial tidak masuk dalam 10 besar. Dari data tersebut, penulis tertarik untuk melakukan asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan sistem pernapasan asma bronkial.

2 komentar:

Yanah mengatakan...

Saya Leli (75 tahun) menderita asma sejak 10 tahun lalu. Hidup saya tersiksa, karena selain asma, saya juga menderita jantung. Setiap obat yang saya konsumsi habis, maka asma dan jantung sayapun kembali kambuh. Pada Januari 2009 saya dilarikan ke rumah sakit karena asma kambuh lagi sekaligus jantung terjadi penyempitan. Saya sangat beruntung, karena semua family saya datang berkunjung ke rumah. Salah satu dari mereka memberikan saya sarang semut. Sejak saat itu, saya langsung mengkonsumsi 1 kapsul sarang semut 3 kali sehari. Setelah rutin minum sarang semut, saya memeriksakan diri ke dokter. Hasilnya, saya membaik dan asma tidak pernah kambuh lagi.

Untuk mendapatkan informasi tentang sarang semut, saya ada contact person y: 0818 0850 9714 / 0857 1903 3983

budi antoro mengatakan...

mbk leli, saran saya mbk melakukan latihan pernafasan buteyko dan ikut senam asma, karna bisa meningkatkan fungsi paru sehingga akan meningkatkan kualitas hidup mbk leli. tks.

Poskan Komentar

RUANG KERJA

RUANG KERJA
Kerja Lembur Yang Melelahkan