FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEPATUHAN IBU MEMBERIKAN 5 (LIMA) IMUNISASI DASAR LENGKAP PADA BAYINYA (ANALISIS KUALITATIF)
Kesehatan merupakan masalah yang penting dalam sebuah keluarga, terutama yang berhubungan dengan bayi dan anak. Mereka merupakan harta yang paling berharga sebagai titipan Tuhan Yang Maha Esa, juga dikarenakan kondisi tubuhnya yang mudah sekali terkena penyakit. Oleh karena itu, bayi dan anak merupakan prioritas pertama yang harus dijaga kesehatannya.
Pada saat seorang bayi dilahirkan ke dunia, ia sudah harus menghadapi berbagai ‘musuh’ yang mengancam jiwa. Virus, bakteri, dan berbagai bibit penyakit sudah siap menerjang masuk ke tubuh yang masih tampak lemah itu. Ternyata sang bayi mungil pun sudah siap untuk menghadapi kerasnya dunia. Berbekal antibodi yang diberikan ibunya, ia siap menyambut tantangan. Inilah contoh dari apa yang kita sebut sebagai daya imunitas (kekebalan) tubuh. Tanggal 8 Mei 1980 adalah merupakan hari bersejarah. Pada tanggal tersebut eradikasi atau pembasmian penyakit cacar atau smallpox eradication, secara resmi sudah tercapai. Virus penyebab penyakit cacar kini hanya tinggal kenangan, tersimpan dalam arsip laboratorium dibeberapa negara di dunia, dengan penjagaan yang amat ketat (http://datadeni.blogspot.com/2008/02/bab-i.html, 2009)
Menurut Undang-Undang Kesehatan No. 23 Tahun 1992, “Paradigma Sehat” dilaksanakan melalui beberapa kegiatan antara lain pemberantasan penyakit. Salah satu upaya pemberantasan penyakit menular adalah upaya pengebalan (imunisasi).
Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 1059/MENKES/SK/IX/2004, salah satu pembangunan kesehatan nasional untuk mewujudkan “Indonesia Sehat 2010” adalah menerapkan pembangunan nasional berwawasan kesehatan, yang berarti setiap upaya program pembangunan harus mempunyai kontribusi positif terhadap terbentuknya lingkungan yang sehat dan perilaku sehat. Sebagai acuan pembangunan kesehatan mengacu kepada konsep “Paradigma Sehat” yaitu pembangunan kesehatan yang memberikan prioritas utama pada upaya pelayanan peningkatan kesehatan (promotif) dan pencegahan penyakit (preventif) dibandingkan upaya pelayanan penyembuhan/pengobatan (kuratif) dan pemulihan (rehabilitatif) secara menyeluruh dan terpadu dan berkesinambungan.
Pemerintah mewajibkan setiap anak untuk mendapatkan imunisasi dasar terhadap tujuh macam penyakit yaitu penyakit TBC, Difteria, Tetanus, Batuk Rejan (Pertusis), Polio, Campak (Measles, Morbili) dan Hepatitis B, yang termasuk dalam Program Pengembangan Imunisasi (PPI) meliputi imunisasi BCG, DPT, Polio, Campak dan Hepatitis B. Imunisasi lain yang tidak diwajibkan oleh pemerintah tetapi tetap dianjurkan antara lain terhadap penyakit gondongan (mumps), rubella, tifus, radang selaput otak (meningitis), HiB, Hepatitits A, cacar air (chicken pox, varicella) dan rabies.
Penyelenggaraan program imunisasi pemerintah Indonesia mengacu pada kesepakatan-kesepakatan internasional untuk pencegahan dan pemberantasan penyakit, antara lain: 1) 1. WHO tahun 1988 dan UNICEF melalui World Summit for Children pada tahun 1990 tentang ajakan untuk mencapai target cakupan imunisasi 80-80-80, Eliminasi Tetanus Neonatorum dan Reduksi Campak; (2. Himbauan UNICEF, WHO dan UNFPA tahun 1999 untuk mencapai target Eliminasi Tetanus Maternal dan Neonatal (MNTE) pada tahun 2005 di negara berkembang; (3. Himbauan dari WHO bahwa negara dengan tingkat endemisitas tinggi > 8% pada tahun 1997 diharapkan telah melaksanakan program imunisasi hepatitis B ke dalam program imunisasi rutin; (4. WHO/UNICEF/UNFPA tahun 1999 tentang Joint Statement on the Use of Autodisable Syringe in Immunization Services; (5. Konvensi Hak Anak: Indonesia telah meratifikasi Konvensi Hak Anak dengan Keputusan Presiden Nomor 36 Tahun 1999 tertanggal 25 Agustus 1990, yang berisi antara lain tentang hak anak untuk memperoleh kesehatan dan kesejahteraan dasar; (6. Resolusi Majelis Kesehatan Dunia (World Health Assembly) tahun 1988 dan tahun 2000 yang diperkuat dengan hasil pertemuan The Eight Technical Consultative Group Vaccine Preventable Disease in SEAR tahun 2001 untuk mencapai Eradikasi Polio pada tahun 2004 untuk regional Asia Tenggara dan sertifikasi bebas polio oleh WHO tahun 2008; (7. The Millenium Development Goal (MDG) pada tahun 2003 yang meliputi goal 4 : tentang reduce child mortality, goal 5: tentang improve maternal health, goal 6: tentang combat HIV/AIDS, malaria and other diseases (yang disertai dukungan teknis dari UNICEF); (8. Resolusi WHA 56.20, 28 Mei 2003 tentang Reducing Global Measles Mortality, mendesak negara-negara anggota untuk melaksanakan The WHO-UNICEF Strategic Plan for Measles Mortality Reduction 2001-2005 di negara-negara dengan angka kematian campak tinggi sebagai bagian EPI; (9. Cape Town Measles Declaration, 17 Oktober 2003, menekankan pentingnya melaksanakan tujuan dari United Nation General Assembly Special Session(UNGASS) tahun 2002 dan World Health Assembly (WHA) tahun 2003 untuk menurunkan kematian akibat campak menjadi 50 % pada akhir tahun 2005 dibandingkan keadaan pada tahun 1999; dan mencapai target The United Millenium Development Goal untuk mereduksi kematian campak pada anak usia kurang dari 5 tahun menjadi 2/3 pada tahun 2015 serta mendukung The WHO/UNICEF Global Strategic Plan for Measles Mortality Reduction and Regional Elimination 2001-2005; (10.Pertemuan The Ninth Technical Consultative Group on Polio Eradication and Polio Eradication and Vaccine Preventable Diseases in South-East Asia Region tahun 2003 untuk menyempurnakan proses sertifikasi eradikasi polio, reduksi kematian akibat campak menjadi 50% dan eliminasi tetanus neonatal, cakupan DPT3 80% di semua negara dan semua kabupaten, mengembangkan strategi untuk Safe Injections and Waste Disposal di semua negara serta memasukkan vaksin hepatitis B di dalam Program Imunisasi di semua negara; (11.WHO-UNICEF tahun 2003 tentang Joint Statement on Effective Vaccine Store Management Initiative (http://www.desentralisasi-kesehatan.net, 2009).
Kendala utama untuk keberhasilan imunisasi bayi dan anak dalam sistem perawatan kesehatan yaitu rendahnya kesadaran yang berhubungan dengan tingkat pengetahuan dan tidak adanya kebutuhan masyarakat pada imunisasi, jalan masuk ke pelayanan imunisasi tidak adekuat, melalaikan peluang untuk pemberian vaksin dan sumber-sumber yang adekuat untuk kesehatan masyarakat dan program pencegahannya (Nelson, 2000)
Banyak anggapan salah tentang imunisasi yang berkembang dalam masyarakat. Banyak pula orang tua dan kalangan praktisi tertentu khawatir terhadap resiko dari beberapa vaksin. Adapula media yang masih mempertanyakan manfaat imunisasi serta membesar-besarkan resiko beberapa vaksin (Muhammad Ali, 2005).
Kecemasan para orang tua ini ditimbulkan oleh diterbitkannya laporan pada tahun 1998 oleh seorang spesialis organ dalam untuk anak, Dr. Andrew Wakefield, yang menyatakan bahwa kemungkinan bahwa anak yang mendapat vaksin MMR bisa mengalami gangguan usus dan autisme. Namun sebenarnya laporan yang diterbitkan di Lancet itu menyimpulkan bahwa mereka tidak berhasil membuktikan adanya hubungan antara vaksin MMR dengan sindrom tersebut (Grifford, 2008: 7).
Kepercayaan dan perilaku kesehatan ibu juga hal yang penting, karena penggunaan sarana kesehatan oleh anak berkaitan erat dengan perilaku dan kepercayaan ibu tentang kesehatan dan mempengaruhi status imunisasi. Masalah pengertian dan keikutsertaan orang tua dalam program imunisasi tidak akan menjadi halangan yang besar jika pendidikan yang memadai tentang hal itu diberikan.
Peran seorang ibu pada program imunisasi sangatlah penting. Karenanya suatu pemahaman tentang program ini amat diperlukan untuk kalangan tersebut. (Muhammad Ali, 2005). Dalam hal ini peran orang tua, khususnya ibu menjadi sangat penting, karena orang terdekat dengan bayi dan anak adalah ibu. Demikian juga tentang pengetahuan, kepercayaan, dan perilaku kesehatan ibu. Pengetahuan, kepercayaan, dan perilaku kesehatan seorang ibu akan mempengaruhi kepatuhan pemberian imunisasi dasar pada bayi dan anak, sehingga dapat mempengaruhi status imunisasinya. Masalah pengertian, pemahaman dan kepatuhan ibu dalam program imunisasi bayinya tidak akan menjadi halangan yang besar jika pendidikan dan pengetahuan yang memadai tentang hal itu diberikan.
Standar Pelayanan Minimum Kesehatan ( SPMK ) yang dicanangkan oleh pemerintah, bahwa pada tahun 2010 nanti setiap bayi yang lahir harus mendapatkan imunisasi lengkap secara merata 100% ke semua desa. Sedangkan berdasar Indikator Imunisasi Dasar lengkap untuk anak bayi yaitu imunisasi, BCG, DPT- HB3, Polio 4 dan Campak lebih dari 80 %. Dari uraian tersebut, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan ibu memberikan 5 imunisasi dasar lengkap pada bayinya, pada hasil prasurvei, di Desa Sumber Sari Natar diketahui bahwa dari jumlah bayi usia 9-11 bulan yang ada di wilayah tersebut baru 70% yang telah mendapatkan imunisasi lengkap. Dengan demikian penelitian memilih Desa Sumber Sari Natar sebagai tempat penelitian.
Senin, 01 Juni 2009
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEPATUHAN IBU MEMBERIKAN 5 (LIMA) IMUNISASI DASAR LENGKAP PADA BAYINYA
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI IBU MENYUSUI YANG MENGALAMI PUTTING SUSU LECET PADA SAAT AWAL LAKTASI
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI IBU MENYUSUI YANG MENGALAMI PUTTING SUSU LECET PADA SAAT AWAL LAKTASI (ANALISIS KUALITATIF)
Salah satu tujuan pembangunan nasional adalah membangun Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas agar mereka dapat melanjutkan perjuangan pembangunan nasional untuk menuju masyarakat sejahtera, adil, dan makmur. Setiap ibu menghasilkan air susu, yang kita sebut air susu ibu (ASI) sebagai makanan alami yang disediakan untuk bayi. Pemberian ASI eksklusif proses menyusui yang benar merupakan sarana yang dapat diandalkan untuk membangun SDM yang berkualitas. Seperti kita ketahui, ASI adalah makanan satu-satunya yang paling sempurna untuk menjamin tumbuh kembang bayi pada 6 bulan pertama. Selain itu dalam proses menyusui yang benar, bayi akan mendapatkan perkembangan jasmani, emosi, maupun spiritual yang baik dalam kehidupannya. Selama ini, masih banyak ibu-ibu yang mengalami kesulitan untuk menyusui bayinya. Hal ini disebabkan kemampuan bayi untuk menghisap ASI kurang sempurna sehingga secara keseluruhan proses menyusu terganggu. Keadaan ini ternyata disebabkan terganggunya proses alami dari bayi untuk menyusu sejak dilahirkan (Roesli, 2008: 1).
Menyusui adalah proses alami manusia tetapi tidak sederhana seperti yang di bayangkan khalayak umum.Banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan ini. Agar menyusui berhasil, setiap ibu harus percaya dapat melakukannya dengan didukung petunjuk pengetahuan dan manajemen praktek menyusui yang benar dan tepat. Persiapan dini sejak masa kehamilan hingga menyusui sangat membantu kelancaran proses menyusui secara keseluruhan. Penggunaan ASI telah dideklarasikan sebagai gerakan nasional yang merupakan upaya peningkatan derajat kesehatan ibu dan anak.Untuk mencapai keberhasilan gerakan nasional perlu didukung oleh peran serta seluruh anggota masyarakat para ibu sebagai pelopor peningkatan kualitas sumberdaya Indonesia. Praktek menyusui yang baik dan benar setiap ibu perlu mempelajarinya.bukan pada ibu yang pertama kali hamil dan melahirkan tetapi juga ibu - ibu yang melahirkan anak yang ke 2 dan seterusnya. peranan petugas kesehatan sangat penting dalam melindungi,meningkatkan, dan mendukung usaha menyusui baik sebelum, selama maupun setelah kehamilan dan persalinan. Petugas kesehatan harus mampu memotivasi , memberikan bimbingan dan penyuluhan manajemen menyusui dikalangan ibu. Dukungan tenaga kesehatan ini akan sangat menentukan suksesnya kampaye ASI disamping dukungan keluarga dan lingkungan. Dengan mengikuti dan mempelajari pengetahuan mengenai menyusui atau laktasi diharapkan setiap ibu hamil, bersalin dan menyusui dapat memberikan ASI secara optimal sehingga bayi dapat tumbuh kembang normal sebagai calon sumberdaya manusia yang berkualitas (http://kuliahbidan.wordpress.com, 2009).
Jumlah ibu menyusui di AS kini kian meningkat. Bahkan mencapai rekor
tertinggi dalam 20 tahun terakhir. Sebanyak 3 dari 4 ibu di AS kini menyusui bayi mereka. Demikian hasil laporan badan pemerintah AS, Centers for Disease
Control and Prevention (CDC). Laporan terbaru ini didasarkan pada survei federal komprehensif yang melibatkan wawancara langsung dan juga pemeriksaan medis. Temuan ini berdasarkan informasi untuk 434 bayi dari tahun 2005 dan 2006. (http://health.dir.groups.yahoo.com, 2009)
Pemberian air susu ibu (ASI) secara eksklusif dapat menyelamatkan lebih dari 30 ribu balita di Indonesia. Dalam siaran pers yang dikirim UNICEF, jumlah bayi di Indonesia yang mendapatkan ASI eksklusif terus menurun. Menurut Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) dari 1997 hingga 2002, jumlah bayi usia enam bulan yang mendapatkan ASI eksklusif menurun dari 7,9% menjadi 7,8%.
Sementara itu, hasil SDKI 2007 menunjukkan penurunan jumlah bayi yang mendapatkan ASI eksklusif hingga 7,2%. Pada saat yang sama, jumlah bayi di bawah enam bulan yang diberi susu formula meningkat dari 16,7% pada 2002 menjadi 27,9% pada 2007. UNICEF menyimpulkan, cakupan ASI eksklusif enam bulan di Indonesia masih jauh dari rata-rata dunia, yaitu 38%.
Dari survei yang dilaksanakan pada tahun 2007 oleh Nutrition & Health Surveillance System (NSS) yang berkerjasama dengan Balitbangkes dan Helen Keller International di 4 perkotaan (Jakarta, Surabaya, Semarang, Makasar) dan 8 perdesaan (Sumbar, Lampung, Banten, Jabar, Jateng, Jatim, NTB, Sulsel), menunjukan bahwa cakupan ASI eksklusif 4-5 bulan di perkotaan antara 4%-12%, sedangkan dipedesaan 4%-25%. Pencapaian ASI eksklusif 5-6 bulan di perkotaan berkisar antara hanya 1%-13% sedangkan di pedesaan 2%-13%. Permasalahan yang utama rendahnya angka cakupan ASI ini adalah karena faktor sosial budaya, kesadaran akan pentingnya ASI, pelayanan kesehatan dan petugas kesehatan yang belum sepenuhnya mendukung serta gencarnya promosi susu (http://dinkesjatengprov.go.id, 2009).
Berdasarkan Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2003, cakupan ASI di Propinsi Lampung adalah 42,83% sedangkan target yang ada sebesar 72% cakupan ASI eksklusif di Kabupaten Lampung Selatan adalah 53,49% yaitu sebanyak 12.203 dari 21.724 bayi yang ada. Di Wilayah Desa Sumber Sari cakupan ASI eksklusif 47% dari bayi yang ada yaitu 99 bayi (Dinkes Lamsel, 2008).
Selain permasalahan masih rendahnya cakupan ASI saat ini, permasalahan lain yang dihadapi adalah masalah payudara yang bisa mengganggu kelancaran pemberian ASI seperti yang dijelaskan dr. Hj. Hasnah Siregar, SpOG dari RSAB Harapan Kita Jakarta, masalah-masalah tersebut seperti putting susu rata, putting susu lecet, saluran tersumbat, payudara bengkak, mastitis atau infeksi payudara, dan abses payudara.
Masalah yang paling sering terjadi pada ibu yang menyusui adalah puting susu yang lecet. Keadaan ini biasanya terjadi karena posisi bayi yang salah saat disusui. Bayi hanya menghisap pada puting karena sebagian besar areola tidak masuk ke dalam mulut bayi. Hal ini juga dapat terjadi pada akhir menyusui bila cara melepaskan hisapan bayi tidak benar. Dapat juga terjadi bila sering membersihkan puting dengan alkohol atau sabun. (http://www.kesehatan-anak.com, 2009). Menurut Prawirohardjo (2007) masalah-masalah dalam proses menyusui dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain tingkat pendidikan, usia, informasi tentang perawatan payudara, dukungan keluarga, ekonomi, dan paritas ibu.
FAKTOR PENYEBAB SUAMI MEMILIH VASEKTOMI DAN TIDAK MEMILIH VASEKTOMI (ANALISIS KUALITATIF)
PENELITIAN TENTANG: FAKTOR PENYEBAB SUAMI MEMILIH VASEKTOMI
DAN TIDAK MEMILIH VASEKTOMI
(ANALISIS KUALITATIF)
Perkembangan penduduk saat ini terus mengalami peningkatan yang begitu pesat. Kesadaran dunia tentang bahaya pertumbuhan penduduk yang besar dan cepat telah mengundang pemimpin dunia untuk mempersoalkan penduduk dunia yang makin membahayakan, dunia semakin sempit pada hari hak asasi manusia 1967 dengan inti bahwa persoalan penduduk setiap negara merupakan masalah vital dalam kaitan dengan tujuan pembangunan untuk meningkatkan martabat manusia dalam arti luas (Manuaba, 1999: 205).
Berdasarkan estimasi yang diterbitkan oleh Biro Sensus Amerika Serikat, penduduk dunia mencapai 6,5 milyar jiwa pada tanggal 26 Februari 2006. Dari sekitar 6,5 milyar penduduk dunia, 4 milyar diantaranya tinggal di Asia. Tujuh dari sepuluh negara berpenduduk terbanyak di dunia berada di Asia (meski Rusia juga terletak di Eropa). Sejalan dengan proyeksi populasi, angka ini terus bertambah dengan kecepatan yang belum ada dalam sejarah. Diperkirakan seperlima dari seluruh manusia yang pernah hidup pada enam ribu tahun terakhir, hidup pada saat ini. Pada tanggal 19 Oktober 2012 pukul 03.36 WIB, jumlah penduduk dunia akan mencapai 7 milyar jiwa. Badan Kependudukan PBB menetapkan tanggal 12 Oktober 1999 sebagai tanggal dimana penduduk dunia mencapai 6 milyar jiwa, sekitar 12 tahun setelah penduduk dunia mencapai 5 milyar jiwa. (http://www.kompas.com/read/xml/2009).
Pada tahun 2007, menurut catatan Geohive (sebuah situs statisik kependudukan dunia) jumlah penduduk yang menghuni permukaan dunia hingga tanggal 30 Januari 2007 berjumlah 6.647.186.407 (enam milyar enam ratus empat puluh tujuh juta seratus delapan puluh enam ribu empat ratus tujuh) jiwa. Negara Indonesia berada di urutan ke-4 penduduk terbanyak dunia setelah Cina, India dan Amerika dengan jumlah penduduk sebanyak 236.355.303 jiwa (http://id.wikipedia.org/wiki/Populasi_dunia).
Jumlah penduduk Propinsi Lampung pada tahun 2007 telah mencapai 7.289.767 jiwa. Adapun jumlah penduduk Kota Metro dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 1. Jumlah Penduduk Kota Metro
No Kecamatan Jumlah (Jiwa)
1 Metro Pusat 42.361
2 Metro Utara 19.470
3 Metro Barat 18.408
4 Metro Timur 27.010
5 Metro Selatan 11.199
Total 118.448
Sumber: Badan Statistik Kota Metro 2008.
Dari peningkatan jumlah penduduk yang cukup pesat seperti yang telah diuraikan di atas, maka pemerintah Indonesia khususnya terus berupaya untuk meningkatkan kualitas program Keluarga Berencana. Program Keluarga Berencana selama lebih dari 30 tahun, telah berhasil menurunkan tingkat fertilitas 5,2 pada tahun 1975 menjadi hanya 2.6 per tahun 2002/2003. Sampai dengan tahun 2007 program KB terus mengalami peningkatan kualitas yang cukup baik.
Menurut Presiden Susilo Bambang Yudiyono, jumlah anak di kalangan lebih berpendidikan dan lebih mampu, rata-rata 2 orang anak. Sedangkan di kalangan keluarga kurang mampu mencapai rata-rata 3 orang anak. Sebagian masyarakat ada yang memiliki 4 sampai 5 anak, terutama yang tinggal di pedesaan dan pantai. Dikatakan, program Keluarga Berencana bukan hanya untuk membatasi jumlah penduduk semata – mata, tetapi di luar itu kita ingin membangun keluarga kecil keluarga bahagia dan sejahtera. (http://www.indonesia.go.id, 2009).
Faktor tersebut menjadi salah satu dasar dari kebijakan program KB yang lebih memfokuskan pelayanan KB kepada keluarga miskin. Salah satu upaya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat miskin akan pelayanan KB, adalah dengan cara memperluas akses pelayanan baik melalui jaringan pelayanan yang dipunyai pemerintah, maupun jaringan pelayanan swasta. Kebijakan tersebut dijabarkan antara lain kesepakatan bersama antara BKKBN dengan Muslimat Nahdatul Ulama (tahun 2004), Ikatan Bidan Indonesia (tahun 2004), Majelis Kesehatan dan Kesejahteraan Masyarakat Muhammadyah/Aisiyah (tahun 2004), Kepolisian Negara Republik Indonesia (tahun 2004), dan Tentara Nasional Indonesia (tahun 2004). (http://www.bkkbn.go.id., 2009)
Tahun-tahun belakangan ini, banyak program-program keluarga berencana dan kesehatan reproduksi tertarik kepada topik laki-laki. partisipasi pria dalam kb merupakan manifestasi kesetaraan gender, ketidaksetaraan gender dalam bidang KB dan Kesehatan Reproduksi yang sangat berpengaruh pada keberhasilan program. Sebagian besar masyarakat dan provider serta penentu kebijakan masih mengganggap bahwa penggunaan kontrasepsi adalah urusan perempuan. Oleh karena itu, peserta KB pria di Indonesia masih sangat rendah yaitu masih di bawah 2 persen. Meskipun rendahnya pengguna kontrasepsi berkaitan dengan pula dengan keterbatasan teknik kontrasepsi yang tersedia bagi pria, angka ini menunjukkan bahwa kepedulian pria terhadap keluarga berencana masih rendah. Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) tahun 2004-2009 salah satu indikator keberhasilan BKKBN adalah tercapainya kesertaan KB pria sebesar 4,5 persen pada tahun 2009 (http://www.bkkbn.go.id/gemapria/articl, 2009).
Vasektomi merupakan salah satu program KB yang diperuntukkan laki-laki. Vasektomi telah dikenal kurang lebih 100 tahun yang lalu. Penelitian dan percobaan pada binatang serta aplikasi pada manusia telah dilakukan oleh para ahli diseluruh dunia, para ahli tersebut antara lain; Sir Astley Cooper, Reginard Harrison 1893, Felix Guyon, Harry Sharp 1893, Wood 1900, Prous 1904, Eugene Steinach 1910. Di seluruh dunia jumlah peserta vasektomi kurang lebih 43 juta . Di Amerika 13 % dari jumlah Pasangan Usia Subur di negeri itu. Di Indonesia 1% dari total pengguna kontrasepsi. Di Jakarta tahun 2005 kurang lebih 960 akseptor. (http://www.geocities.com/klinikfamilia/vasektomi1.html, 2009)
Meskipun sudah dilakukan penyuluhan dengan berbagai metode, baik bekerjasama dengan instansi-instansi desa, maupun lewat media tetapi banyak target pemerintah yang belum tercapai. Hal ini dapat dilihat dari target BKKBN untuk program vasektomi hingga September 2007 sebanyak 1100 akseptor yang tercapai hanya 877 akseptor. Dari sekian banyak akseptor, yang masih menjadi peserta aktif hanya 1,85%.
Tabel. Jumlah PUS Menurut Kecamatan dan Alat Kontrasepsi yang Digunakan Tabel 2008
Kecamatan Jumlah Alat KB yang digunakan
Kondom IUD MOP MOW PIL Susuk/
Implant Suntik KB
Tradisional Jumlah
Metro Pusat 8,052 46 906 21 185 1,314 580 2,779 0 5,831
Metro Selatan 2,575 19 231 5 33 313 543 807 0 1,951
Metro Barat 3,951 41 348 12 95 644 457 1,270 0 2,867
Metro Timur 5,678 62 829 27 196 1,139 457 1,189 0 3,879
Metro Utara 4,871 14 451 19 129 1,479 526 1,217 0 3,835
Jumlah 25,097 182 2,745 84 638 4,889 2,563 7,262 0 18,363
% 0,99 14,95 0,46 3,47 26,62 13,96 39,55
Sumber: Badan Pusat Statistik Kota Metro, 2008
Data di atas menunjukkan bahwa pelayanan metode KB khusus pria dengan vasektomi untuk Wilayah Kota Metro masih sangat rendah. Sebagaimana hasil pra survey yang peneliti lakukan pada 5 Kecamatan di Kota Metro ada dua Kecamatan yang masih sangat rendah peserta vasektomi yaitu Kec. Metro Selatan yang berjumlah 5 peserta (0,02%), dan Wilayah Metro Barat berjumlah 12 peserta (0,06%) dari 18.363 pasangan usia subur. Dari data tersebut penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan menggunakan pendekatan kualitatif terhadap suami yang memilih metode vasektomi dan suami yang tidak memilih vasektomi di wilayah Kecamatan Metro Selatan untuk mengetahui secara mendalam mengenai sebab-sebab suami menggunakan metode vasektomi dan suami yang tidak menggunakan metode vasektomi.
bersambung...
Minggu, 31 Mei 2009
Sabtu, 16 Mei 2009
HARI KIAMAT
Tanda-tanda datangnya hari kiamat sudah mulai nampak. Oleh karena itu, marilah kita beribadah hanya kepada Alloh semata.
Kamis, 14 Mei 2009
SOP JANIN MANUSIA? WUEK...2

Berita ini aku dapat dengan tidak sengaja ketika saya sedang mencari gambar sup buah, tetapi tiba2 saja saya terhenti disalah satu blog yang membuat aku merinding... karena di blog tersebut tertulis adanya sop/sup yang terbuat dari janin manusia... (Innalillahi wa innailahi roji'un. Semoga Alloh memberikan balasan yang setimpal kepada orang2 kafir dan bejat ini).
Silahkan baca sendiri berikut ini.....
Dari Milis, oleh : Angky budianti FK UI
Cerita ini ditulis oleh seorang wartawan di Taiwan sehubungan dengan adanya
gosip mengenai makanan penambah kekuatan dan stamina yang dibuat dari
sari/kaldu janin manusia.
'Healthy Soup' yang dipercaya dapat mendapat stamina dan keperkasaan pria
terbuat dari janin bayi manusia berumur 6 – 8
Salah seorang pengusaha pemilik pabrik di daerah Tong Wan, Taiwan mengaku
sebagai pengkonsumsi tetap 'Healthy Soup'.
Sebagai hasilnya, pria berusia 62 tahun menjelaskan khasiat 'Healthy Soup' ini
mempertahankan kemampuannya untuk dapat berhubungan seks beberapa kali dalam
semalam.
Penulis diajak oleh pengusaha tersebut di atas ke salah satu restoran yang
menyediakan 'Healthy Soup' di kota Fu San Canton dan diperkenalkan kepada juru masak restoran tersebut. Kata sandi untuk 'Healthy Soup' adalah BAIKUT.
Juru masak restoran menyatakan jenis makanan tersebut tidak mudah didapat
karena mereka tidak tersedia 'ready stock'.
Ditambahkan pula bahwa makanan tersebut harus disajikan secara fresh, bukan
frozen.
Tetapi kalau berminat, mereka menyediakan ari-ari bayi (plasenta) yang
dipercaya dapat meningkatkan gairah seksual dan juga obat awet muda.
Juru masak restoran tersebut mengatakan jika memang menginginkan Healthy Soup',
dia menganjurkan untuk datang ke sebuah desa di luar kota dimana ada sepasang suami istri yang istrinya sedang mengandung 8 bulan.
Diceritakan pula bahwa si istri sebelumnya sudah pernah mengandung 2 kali,
tetapi kedua anaknya lahir dengan jenis kelamin perempuan.
Jika kali ini lahir perempuan lagi, maka 'Healthy Soup' dapat didapat dengan waktu dekat. Cara pembuatan 'Healthy Soup', seperti yang diceritakan oleh jurnalis yang
meliput kisah ini adalah sebagai berikut: Janin yang berumur beberapa bulan, ditambah Pachan, Tongseng, Tongkui, Keichi, Jahe, daging ayam dan Baikut, di tim selama 8 jam, setelah itu dimasak selayaknya memasak sup.
Beberapa hari kemudian seorang sumber menghubungi penulis untuk memberitahukan
bahwa di Thaisan ada restoran yang sudah mempunyai stok untuk 'Healthy Soup'.
Bersama sang pengusaha, penulis dan fotografer pergi ke restoran di Thaisan
untuk bertemu dengan juru masak restoran tersebut yang tanpa membuang waktu
langsung mengajak rombongan untuk tour ke dapur.
Di atas papan potong tampak janin tak bernyawa itu tidak lebih besar dari
seekor kucing. Sang juru masak menjelaskan bahwa janin tersebut baru berusia 5 bulan, tidak dijelaskan berapa harga belinya, yang pasti itu tergantung besar-kecil,
hidup-mati janin tersebut dan sebagainya (Masya Allah!!!).
Kali ini, harga per porsi 'Healthy Soup' 3,500 RMB karena stok sedang sulit
untuk didapat. Sambil mempersiapkan pesanan kami, dengan terbuka juru masak
tersebut menerangkan bahwa janin yang keguguran atau digugurkan, biasanya mati,
dapat dibeli hanya dengan beberapa ratus RMB saja, sedang kalau dekat tanggal
kelahiran dan masih hidup, bisa semahal 2.000 RMB.
Urusan bayi itu diserahkan ke restoran dalam keadaan hidup atau mati, tidak ada
yg mengetahui. Setelah selesai, 'Healthy Soup' disajikan panas di atas meja, penulis dan
fotografer tidak bernyali untuk ikut mencicipi, setelah kunjungan di dapur, sudah kehilangan semua selera makan, maka cepat-cepat meninggalkan mereka dengan alasan tidak enak badan. Menurut beberapa sumber, janin yang dikonsumsi semua adalah janin bayi perempuan. Apakah ini merupakan akibat kebijaksanaan pemerintah China untuk
mewajibkan satu anak dalam satu keluarga yg berlaku sampai sekarang, atau hanya karena kegemaran orang akan makanan sehat sudah mencapai kondisi yang sangat terkutuk.
Catatan:
Harap teruskan cerita ini kepada setiap orang demi menghindari penyebarluasan
kebiasaan yang tak berperikemanusiaan tersebut. Sebagai manusia beragama dan berpikiran sehat, kita untuk apapun. Bangsa manusia adalah bangsa yang derajatnya paling tinggi dari mahluk di bumi ini, dan tindakan tersebut adalah tindakan yang sesungguhnya bukan berasal dari pemikiran manusia waras. memilukan hati. (Kalau memang benar adanya kenyataan seperti ini maka hari kiamat memang sudah dekat, saya juga cuma baca dari alamat ini -->(http://suicunesoul.blogspot.com/2008/07/makan-bayii-huwek.html#comments)
Jumat, 08 Mei 2009
KEKEJAMAN TENTARA PERANG SALIB DAN KEADILAN SALAHUDDIN
Tentara Perang Salib merampas Yerusalem setelah pengepungan lima minggu, dilanjutkan perampasan perbendaharaan kota dan membantai orang-orang Yahudi dan Islam.
Ketika orang-orang Yahudi, Nasrani, dan Muslim hidup bersama dalam damai, sang Paus memutuskan untuk mempersiapkan perang Salib. Mengikuti seruan Paus Urbanus II pada 27 November 1095 di Dewan Clermont, lebih dari 100.000 orang Eropa bergerak ke Palestina untuk "membebaskan" tanah suci dari orang Islam dan mencari kekayaan di Timur sebagaimana dituturkan dalam dongeng. Setelah perjalanan panjang dan melelahkan, dan melakukan banyak perampasan dan pembantaian di sepanjang perjalanannya, mereka mencapai Yerusalem pada tahun 1099. Kota ini jatuh setelah pengepungan hampir 5 minggu. Ketika Tentara Perang Salib masuk ke dalam, mereka melakukan pembantaian kejam. Seluruh orang Islam dan Yahudi dibabat dengan pedang.
Dalam perkataan seorang sejarawan: "Mereka membunuh semua orang Saracen dan Turki yang mereka temui. pria maupun wanita."1 Salah satu tentara Perang Salib, Raymond dari Aguiles, membanggakan kekejian ini:
Pemandangan mengagumkan terlihat. Sebagian orang kami (dan ini lebih belas kasih) memenggal kepala musuh-musuh mereka; lainnya membidik mereka dengan panah, sehingga mereka berjatuhan dari menara-menara; lainnya menyiksa mereka lebih lama dengan memasukkan mereka ke dalam nyala api. Tumpukan kepala, tangan, dan kaki terlihat di jalan-jalan kota. Perlu berjalan di atas mayat-mayat manusia dan kuda. Tapi ini hanya masalah kecil dibandingkan dengan apa yang terjadi di Kuil Sulaiman, tempat di mana ibadah keagamaan biasanya disenandungkan. di kuil dan serambi Sulaiman, para pria bergerak dalam [kubangan] darah hingga lutut dan tali kekang mereka.2
Dalam dua hari, tentara Perang Salib membunuh sekitar 40.000 orang Islam secara biadab seperti yang digambarkan.3 Kedamaian dan kerukunan di Palestina, yang telah berlangsung semenjak Umar, berakhir dengan sebuah pembantaian mengerikan.
Tentara Perang Salib menjadikan Yerusalem sebagai ibu kota mereka, dan mendirikan Kerajaan Katolik yang terbentang dari Palestina hingga Antakiyah. Namun pemerintahan mereka berumur pendek, karena Salahuddin mengumpulkan seluruh kerajaan Islam di bawah benderanya dalam suatu perang suci dan mengalahkan tentara Perang Salib dalam pertempuran Hattin pada tahun 1187. Setelah pertempuran ini, dua pemimpin tentara Perang Salib, Reynald dari Chatillon dan Raja Guy, dibawa ke hadapan Salahuddin. Beliau menghukum mati Reynald dari Chatillon, yang terkenal keji karena kekejamannya yang mengerikan yang ia lakukan kepada orang-orang Islam, namun membiarkan Raya Guy pergi, karena ia tidak melakukan kejahatan serupa. Palestina sekali lagi menyaksikan arti keadilan yang sebenarnya.
Tiga bulan setelah pertempuran Hattin, dan pada hari yang tepat sama ketika Nabi Muhammad SAW diperjalankan dari Mekah ke Yerusalem untuk perjalanan mikrajnya ke langit, Salahuddin memasuki Yerusalem dan membebaskannya dari 88 tahun pendudukan tentara Perang Salib. Bertolak belakang dengan "pembebasan" oleh tentara Perang Salib, Salahuddin tidak mendzalimi seorang Nasrani pun di kota tersebut, sehingga menyingkirkan rasa takut mereka bahwa mereka semua akan dibantai. Ia hanya memerintahkan semua umat Nasrani Latin (Katolik) untuk meninggalkan Yerusalem. Umat Nasrani Ortodoks, yang bukan tentara Perang Salib, dibiarkan tinggal dan beribadah menurut yang mereka pilih.
Karen Armstrong menggambarkan penaklukan kedua atas Yerusalem ini dengan kata-kata berikut ini:
Pada tanggal 2 Oktober 1187, Salahuddin dan tentaranya memasuki Yerusalem sebagai penakluk dan selama 800 tahun berikutnya Yerusalem tetap menjadi kota Muslim. Salahuddin menepati janjinya, dan menaklukkan kota tersebut menurut ajaran Islam yang murni dan paling tinggi. Dia tidak membalas dendam pembantaian tahun 1099, seperti yang Al Qur'an anjurkan (16:127), dan sekarang, permusuhan telah berakhir, ia menghentikan pembunuhan (2:193-194). Tak ada satu orang Kristen pun dibunuh dan tidak ada perampasan. Jumlah tebusan pun disengaja sangat rendah.. Salahuddin menangis terharu karena kesedihan keluarga-keluarga yang terpecah-belah dan ia membebaskan banyak dari mereka tanpa tebusan, sesuai himbauan Al Qur'an, meskipun menyebabkan keputusasaan bendaharawannya yang telah lama menderita. Saudara lelakinya Al Adil begitu tertekan karena penderitaan para tawanan sehingga dia meminta Salahuddin seribu orang dari mereka untuk diambilnya sendiri dan kemudian membebaskan mereka di tempat itu juga. Semua pemimpin Muslim dibuat geram melihat orang-orang Kristen kaya melarikan diri dengan kekayaan mereka, yang semestinya dapat digunakan untuk menebus semua tawanan. [Uskup] Heraclius membayar tebusan dirinya sepuluh dinar seperti halnya tawanan lain dan bahkan diberi pengawalan khusus untuk menjaga keamanan harta bendanya selama perjalanan ke Tyre.4
Pendeknya, Salahuddin dan tentaranya memperlakukan orang-orang Nasrani dengan kasih sayang dan keadilan yang agung, dan menunjukkan kepada mereka kasih sayang yang lebih dibanding yang telah diperlihatkan oleh pemimpin mereka.
Setelah Yerusalem, tentara Perang Salib melanjutkan kebiadaban mereka dan orang-orang Islam meneruskan keadilannya di kota-kota Palestina lainnya. Pada tahun 1194, Richard Si Hati Singa, yang digambarkan sebagai seorang pahlawan dalam sejarah Inggris, memerintahkan menghukum mati 3000 orang Islam, di antaranya banyak wanita dan anak-anak, secara tak berkeadilan di Kastil Acre. Meskipun orang-orang Islam menyaksikan kekejaman ini, mereka tidak pernah memilih cara yang sama. Mereka malah tunduk kepada perintah Allah: "Dan janganlah sekali-kali kebencian(mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka)." (Qur'an 5:2) dan tidak pernah melakukan kekejaman kepada orang-orang sipil tak bersalah. Di samping itu, mereka tidak pernah menggunakan kekerasan yang tidak perlu, bahkan kepada tentara Perang Salib yang terkalahkan sekalipun.
Kekejaman tentara Perang Salib dan keadilan orang-orang Islam sekali lagi mengungkapkan kebenaran sejarah: Sebuah pemerintahan yang dibangun di atas dasar-dasar Islam memungkinkan orang-orang dari keyakinan berbeda untuk hidup bersama. Kenyataan ini terus diperlihatkan selama 800 tahun setelah Salahuddin, khususnya selama masa Khalifah Utsmaniyyah.
_______________
Pustaka
1. "Gesta Francorum, or the Deeds of the Franks and the Other Pilgrims to Jerusalem," trans. Rosalind Hill, (London: 1962), hlm. 91. tanda penegasan ditambahkan
2. August C. Krey, The First Crusade: The Accounts of Eye-Witnesses and Participants (Princeton & London: 1921), hlm. 261. tanda penegasan ditambahkan
3. Krey, The First Crusade, hlm. 262.
4. Armstrong, Holy War, hlm. 185. tanda penegasan ditambahkan.
Sumber: harunyahya.com
Jumat, 01 Mei 2009
Alat Peraga Pengajaran
Alat Bantu pengajaran (alat pelajaran, media, alat peraga)
Fungsi dari alat peraga ialah memvisualisasikan sesuatu yang tidak dapat dilihat atau sukar dilihat, hingga nampak jelas dan dapat menimbulkan pengertian atau meningkatkan persepsi seseorang (R.M. Soelarko, 1995: 6).
Ada enam fungsi pokok dari alat peraga dalam proses belajar mengajar yang dikemukakan oleh Nana Sudjana dalam bukunya Dasar-dasar Proses Belajar-Mengajar (2002: 99-100):
1. Penggunaan alat peraga dalam proses belajar mengajar bukan merupakan fungsi tambahan tetapi mempunyai fungsi tersendiri sebagai alat bantuuntuk mewujudkan situasi belajar mengajar yang efektif
2. Penggunaan alat peraga merupakan bagian yang integral dari keseluruhan situasi mengajar
3. Alat peraga dalam pengajaran penggunaannya integral dengan tujuan dan isi pelajaran
4. Alat peraga dalam pengajaran bukan semata-mata alat hiburan atau bukan sekedar pelengkap
5. Alat peraga dalam pengajaran lebih diutamakan untuk mempercepat proses belajar mengajar dan membantu siswa dalam menangkap pengertian yang diberikan guru
6. Penggunaan alat peraga dalam pengajaran diutamakan untuk mempertinggi mutu belajar mengajar
Di samping enam fungsi di atas, penggunaan alat peraga mempunyai nilai-nilai:
• Dengan peragaan dapat meletakkan dasar-dasar yang nyata untuk berfikir, oleh karena itu dapat mengurangi terjadinya verbalisme
• Dengan peragaan dapat memperbesar minat dan perhatian siswa untuk belajar
• Dengan peragaan dapat meletakkan dasar untuk perkembangan belajar sehingga hasil belajar bertambah mantap
• Memberikan pengalaman yang nyata dan dapat menumbuhkan kegiatan berusaha sendiri pada setiap siswa
• Menumbuhkan pemikiran yang teratur dan berkesinambungan
• Membantu tumbuhnya pemikiran dan membantu berkembangnya kemampuan berbahasa
• Memberikan pengalaman yang tidak mudah diperoleh dengan cara lain serta membantu berkembangnya efisiensi dan pengalaman belajar yang lebih sempurna.
Dalam menggunakan alat peraga hendaknya guru memperhatikan sejumlah prinsip tertentu agar penggunaan alat peraga tersebut dapat mencapai hasil yang baik.
Prinsip-prinsip ini adalah sebagai berikut (Nana Sudjana, 2002: 104-105)
• Menentukan jenis alat peraga dengan tepat, artinya sebaiknya guru memilih terlebih dahulu alat peraga manakah yang sesuai dengan tujuan dan bahan pelajaran yang hendak diajarkan
• Menetapkan atau memperhitungkan subjek dengan tepat, artinya perlu diperhitungkan tingkat kemampuan/kematangan anak didik
• Menyajikan alat peraga dengan tepat
• Menempatkan dan memperlihatkan alat peraga pada waktu, tempat, dan situasi yang tepat.
R.M. Soelarko dalam buku Audio Visual Media Komunikasi Ilmiah Pendidikan Penerangan (1995: 6) menggolongkan macam-macam alat peraga berdasarkan pada bahan yang dipakai:
1. Gambar-gambar (lukisan), dalam IPA misalnya Zoologie (gambar-gambar binatang), Botanie (gambar pohon, bunga, daun, dan buah), dan gambar tentang ilmu bumi (gambar gunung, laut, danau, hutan)
2. Benda-benda alam yang diawetkan, misalnya daun kering yang dipres, bunga, serangga misalnya kupu-kupu, jangkrik, belalang.
3. Model, Fantom, dan Manikkin. Yang disebut model adalah bentuk tiruan dalam skala kecil. Fantom atau Manikkin adalah model anatomi dari bagian-bagian tubuh manusia itu sendiri misal rangka manusia.
Contoh Judul Karya Tulis, PTK (Penelitian Tindakan Kelas)
1. IKIP Negeri Singaraja Dr. Ida Bagus Putu Arnyana, M.Si. Dra. Ida Ayu Putu SuastiniDra. Ni Wayan Suwitri
Penerapan Model PBL pada Pelajaran Biologi untuk Meningkatkan Kompetensi dan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Kelas X SMA Negeri 1 Singaraja Tahun Pelajaran 2006/2007
2. IKIP Negeri Singaraja Drs. I Made Suryadi, M.Si. Ni Wayan SuastiniNi Ketut Darmini
Pengembangan Model Keterampilan Proses Berbasis Kompetensi untuk Meningkatkan Kualitas Proses dan Produk Pembelajaran Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar
3. IKIP Negeri Singaraja Drs. I Nyoman Retug, M.Si. I Nyoman Selamat, S.Si., M.Si.Drs. I Wayan SomaI Gusti Ayu Indrawati, S.Pd.Dra. Ni Luh Maharani Merta
Implementasi Metode Pembelajaran SQ3R Berbantuan LKS untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Kimia Siswa Kelas X SMA Negeri 4 Singaraja
4. IKIP Negeri Singaraja Dr. Ketut Suma, M.S. Drs. I Nyoman RetaI Made Sriana, S.Pd.
Penerapan Pengajaran Konseptual Interaktif dan Pemecahan Masalah untuk Meningkatkan Hasil Belajar Fisika Siswa Kelas X3 SMA Negeri 3 Singaraja
5. IKIP Negeri Singaraja Drs. Ketut Tika, M.Pd. Desak Nyoman Hariningsari, S.Pd.Ni Nyoman Sukerti, S.Pd..
Implementasi Strategi 5E dengan Bahan Ajar Bermuatan Perubahan Konseptual sebagai Upaya Mengubah Miskonsepsi, dan Meningkatkan Hasil Belajar Siswa SMPN 6 Singaraja
6. IKIP Negeri Singaraja Cok Istri Raka Marsiti, S.Pd., M.Pd. Dra. IDAM Budhyani, M.Pd.Nyoman Koni Erniati, S.Pd.Nyoman Yasa, S.Pd.Luh Sari, S.Pd.
Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw dalam Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Diklat Menyiapkan, Menyajikan Minuman Non-Alkohol Siswa II A1 SMKN 2 Singaraja
7. IKIP Negeri Singaraja Drs. I.B. Mardana, M.Si. Drs. Nengah SukartaI Nyoman Sukandar
Pemberdayaan Prior Experience dalam Pembelajaran Modul Praktikum dengan Model Experential Learning sebagai upaya Meningkatkan Kompetensi Sains Siswa SMPN 2 Singaraja
8. IKIP Negeri Singaraja Drs. Putu Yasa, M.Si. Ketut Arya, S.Pd.Wayan Suhartayasa, S.Pd.
Penerapan Strategi Pembelajaran Berbasis Masalah dengan Penilaian Berbasis Kelas untuk Meningkatkan Kompetensi Fisika Siswa Kelas II SMP Negeri 2 Singaraja
9. IKIP Negeri Singaraja Drs. I Gede Nurjaya, M.Pd. Ni Ketut Noriasih, S.Pd.Drs. Nyoman Suardana
Penggunaan Pendekatan Kontekstual Berbasis Inkuiri Bermedia Karikatur untuk Meningkatkan Keterampilan Berbicara dan Menulis Siswa SMP Lab. IKIP Singaraja
10. IKIP Negeri Singaraja Dra. Ni Ketut Rapi, M.Pd. Drs. Putu KajengNi Luh Sumatri, S.Pd.
Implementasi Model Pembelajaran Inkuiri Terpimpin dalam Pembelajaran Fisika untuk Meningkatkan Hasil Belajar pada Siswa Kelas X SMA Negeri 2 Singaraja
11. IKIP Negeri Singaraja Drs. I Gusti Ngurah Pujawan, M.Kes. Dewa Made Kembar, S.Pd.Ni Nyoman Sri Aryani, S.Pd.
Implementasi Pendekatan Matematika Realistik Berbantuan LKS dengan Model Pembelajaran Kooperatif TPS dalam Meningkatkan Motivasi dan Prestasi Belajar Matematika Siswa SMP
12. IKIP Negeri Singaraja Dra. Ary Subariyati Drs. Wayan Sogog, M.Pd.I Made Sukardi, S.Pd.Si Luh Komang PurniatiI Made Suantara
Implementasi Teori Belajar Action, Process, Object, Schema dengan Menggunakan Pendekatan Siklus: Activities, Class-Discussion, Exercise untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Matematika Siswa SMP
13. IKIP Negeri Singaraja Dra. Ni Nyoman Parwati, M.Pd.Made Sukemi Giri, S.Pd.Made Toni, S.Pd.
Implementasi Model Pembelajaran Reasoning and Problem Solving Berbasis Open-Ended Problem untuk Meningkatkan Kompetensi Penalaran dan Komunikasi Matematika Siswa Kelas VII SMP Negeri 2 Singaraja
14. IKIP PGRI Semarang Dra. Ngurah Ayu Nyoman Murniati, M.Pd.Masrikan, S.Pd.Ali Imron, S.Pd.
Pengembangan Model Pembelajaran Fisika Berbasis Masalah untuk Meningkatkan Kreativitas Siswa SMP Negeri 38 Semarang Tahun Pelajaran 2006/2007
15. IKIP PGRI Semarang Dra. M. Th.S.R. Retnaningdystuti, M.Pd.Drs. Harjito, M.HumTrimo, S.Pd., M.Pd.Tri Umuyani, S.Pd.Rustantiningsih
Peningkatan Penguasaan EYD Karangan Narasi dengan Teknik Koreksi Teman Sebaya Siswa Kelas VI SD Anjasmoro 02 Semarang
16. IKIP PGRI Semarang Drs. Harto Nuroso, M.Pd.Ernawati Saptaningrum, S.Pd.Rahayu Sri Hastuti, S.Pd.Nur Edy, A.Md.Pd.M. Irines, A.Md.Pd.
Upaya Meningkatkan Kemampuan Pemahaman Konsep Fisika dengan Metode Presentasi Siswa Kelas Imersi SMP 1 Magelang Tahun Pembelajaran 2006/2007
17. IKIP PGRI Semarang Ir. Suwarno Widodo, M.Si.Kuswanto, S.Pd.SupraptoTri Sujatmi
Upaya Meningkatkan Pencapaian Kompetensi Dasar Pelajaran PKPS melalui Program Pembiasaan Siswa Kelas IV SD Negeri 2 Karanggedang Tahun Pelajaran 2006/2007
18. IKIP PGRI Semarang Drs. Rasiman, M.Pd.Siti Rochani, S.Pd.Dwi Ratna
Efektivitas Problem Solving dengan Memanfaatkan Alat Peraga dalam Pembelajaran Geometri di Kelas VIII B SMP Negeri 2 Demak Tahun 2006
19. STKIP Hamzanwadi Selong Eni Titikusumawati, S.Pd.Atikaturrahmaniah, S.Pd.Drs. Sahlan
Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Konsep Peluang melalui Pendekatan Kontekstual pada Siswa Kelas XI MA Mualimat NW Pancor Lombok Timur NTB
20. STKIP Hamzanwadi Selong Jujuk Ferdianto, S.Pd.H. Suhaidi, S.Pd.Kus Sumami, A.Md.
Peningkatan Daya Berpikir Kritis Siswa terhadap Kondisi Lingkungannya melalui Penggunaan Peta Konsep pda Pembelajaran Sosiologi Kelas VII SMPN 1 Aikmel
21. STKIP Hamzanwadi Selong Drs. Ridwan, M.Pd.Muh. Riadi, BAMartinah, A.Md.Hafadah, A.Md.Muh. Nasri, A.Md.
Strategi Manajemen Saluran Penanganan Bimbingan dan Konseling untuk Meningkatkan Kemandirian dan Tanggung Jawab pada Siswa SMPN 1 Selong
22. STKIP Hamzanwadi Selong Drs. Edy WaluyoDra. SK. NurhayatiRohdi, S.Pd.
Pembelajaran Berbasis Masalah sebagai Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas I Madrasah Aliyah Negeri Selong
23. STKIP PGRI Lubuk Linggau Rismar Riansih, S.Pd., M.Pd.Endrik Prasetyo, S.Pd.Eppi Pasaribu, S.Pd.
Upaya Meningkatkan Kemampuan Reading Comprehension Siswa Kelas X2 SMA PGRI 1 Lubuk Linggau dengan Menggunakan Pendekatan Genre-Based Approach
24. STKIP PGRI Lubuk Linggau Dra. Nur Nisai Muslihah, M.Pd.Dra. Nyayu Masnon Ar.M. Amin Nur, S.Pd.Santi Mariami, S.Pd.Eva Yuliartha, S.Pd.
Kolaborasi Pendekatan Struktural dengan Pendekatan Kontekstual Melalui Metode Diskusi dalam Mengoptimalisasikan Pembelajaran Apresiasi Puisi Siswa Kelas VIII MTsN Lubuk Linggau
25. STKIP PGRI Lubuk Linggau Rusmana Dewi, S.Pd.Jamaludin, S.Pd.ZulasmawatiAmistiatiMariati
Peningkatan Kemampuan Mengapresiasi Unsur Instrinsik Dongeng Melalui Teknik Bercerita Siswa Kelas 5 SD Negeri 4 Lubuk Linggau
26. STKIP PGRI Lubuk Linggau Alamsyahril, S.Pd., M.Pd.Jazili Haryadi, S.Pd.Dewi Utari, S.Pd.
Peningkatan Kemampuan Menulis Paragraf Narasi Siswa Kelas XI SMA Negeri 4 Lubuk Linggau Melalui Pengintegrasian Metode Clustering dan Journalist’s Questions
27. Universitas Al Muslim Bireun - NAD Drs. M. Taufiq, M.Pd.Khuzaimah, S.Pd.Tasriwati, S.Pd.
Upaya Meningkatkan Hasil Belajar IPA/Sains Siswa Kelas IV dengan Pendekatan Kontekstual pada Sekolah Dasar Negeri 6 Matangglumpangdua Kecamatan Peusangan
28. Universitas Al Muslim Bireun - NAD Marnita, S.Pd., M.Pd.Nurmalawati, S.Si.Yetty Tavriani, A.Md.
Upaya Menuntaskan Indikator Pembelajaran Siswa dengan Model Direct Instruction Konsep Tata Surya Mata Pelajaran IPA - Fisika (Studi pada Siswa Kelas I-1 SMPN 12 Langsa)
29. Universitas Bengkulu Dr. Saleh Haji, M.Pd.RusmaniarSuhana Suheimi
Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah melalui Pendekatan Matematika Realistik di Kelas 7 SMPN 1 Kotamadya Bengkulu
30. Universitas Bengkulu Gumono, S.Pd., M.Pd.Kasman, S.Pd.Nora Vitaria, S.Pd.
Meningkatkan Keterampilan Menulis Wacana Argumentasi Siswa Kelas X SMA Negeri 8 Kota Bengkulu dengan Metode Investigasi Kelompok
31. Universitas Bengkulu Drs. Rusdi, M.Pd.Drs. Agus Susanta, M.Ed.Dra. RosnelyTalena Simanjuntak, S.Pd.Azmawati, S.Pd.
Pengkombinasian Problem Possing dan Cooperative Learning untuk Pengajaran Matematika di Kelas Unggul pada SMP Rintisan Sekolah Standar Nasional
32. Universitas Haluoleo Drs. Suhar, M.Kes.La Muli, S.Pd.Sriwati Dangga, S.Pd.
Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Siswa Kelas I-B SMPN 5 Kendari Melalui Model Kooperatif Tipe Think-Paire-Share
33. Universitas Haluoleo Dra. Hunaidah M., M.Si.Rusmawan, S.Pd.Darwis, S.Pd.
Meningkatkan Keterampilan Proses Sains dan Hasil Belajar Siswa Kelas III IPA SMA Negeri 8 Kendari Melalui Model Pembelajaran Inquiri
34. Universitas Haluoleo Drs. ParakkasiHj. Herianti, S.Pd.Wa Ode Nurdiana Baitullah, S.Pd.
Meningkatkan Keterampilan Merumuskan Kesimpulan Melalui Penggunaan Peta Konsep pada Pengelompokan Makhluk Hidup Mata Pelajaran Sains-Biologi di Kelas VII-1 SMP Negeri 9 Kendari
35. Universitas Haluoleo Drs. H.M. Sirih, M.Si.Drs. Muh. AliHj. Fatmawati
Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw dengan Tongkat Estafet untuk Meningkatkan Penguasaan Konsep Sistem Pencernaan Makanan (Kaji Tindak di Kelas VIII A SMP Negeri 2 Kendari)
36. Universitas Haluoleo Drs. La Misu, M.Pd.Hartana, S.Pd.Hidayah, A.Ma.
Meningkatkan Kemampuan Siswa Kelas VI SD Negeri 32 Poasia Kendari dalam Menyelesaikan Soal Matematika Berbentuk Cerita Melalui Pendekatan Matematika Realistik
37. Universitas Haluoleo Drs. Kadir Tiya, M.Kes.Dra. Mikarna HaryaniNurdin, S.Pd.
Meningkatkan Penguasaan Konsep Matematika Pokok Bahasan Statistika dengan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT pada Siswa Kelas XI SMA Negeri 2 Kendari
38. Universitas Haluoleo Dra. Ratna, M.Si.Drs. Syam BasriOliva Muliani K., S.Pd.
Penerapan Model Pembelajaran Advanced Organizer untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Mata Pelajaran Kimia Siswa XI Ilmu Alam SMA Negeri 5 Kendari
39. Universitas Haluoleo Drs. H. Muchtar Ibrahim, M.Pd.Syarifuddin La Tiga, S.Pd.Abdul Salam, S.Pd.
Efektivitas Model Pembelajaran Rogers dalam Mengatasi Kesulitas Siswa Memahami Konsep Matematika Pokok Bahasan Bentuk Pangkat, Akar dan Logaristma di Kelas X Madrasah Aliyah Pesri Kendari
40. Universitas Haluoleo Drs. H. Muh. Kasim, M.Pd.Dra. Hj. HerlimaDrs. Madra’i
Meningkatkan Pemahaman dan Hasil Belajar Bangun Ruang Siswa Kelas X SMAN 4 Kendari dengan Menerapkan Model Pembelajaran Kooperatif
41. Universitas Haluoleo Drs. H. La Hama Hamid, S.Pd., M.Pd.Sitti SiarahHj. Sri Narti Ama
Upaya Pengembangan Pembelajaran Matematika dengan Pendekatan Raklin dalam Meningkatkan Hasil Belajar Siswa SD Negeri No. 9 Mandonga
42. Universitas Haluoleo Drs. Kasman Arifin, M.Si.Drs. MuliadiSri Mardikaningsih, S.Pd.
Meningkatkan Hasil Belajar Siswa pada Pokok Bahasan Sistem Gerak Melalui Penerapan Strategi Concept Mapping pada Kelas II.2 SMPN 12 Kendari
43. Universitas Islam Nusantara Bandung Prof. Dr. H. Koyo Kartasurya, MA, M.Sc.Dra. Nita Isaeni, S.IP., M.Pd.Euis Lesmini Djuanda, S.Pd.Imas Kartika, S.Pd.Kusnadi, S.Pd.
Upaya Meningkatkan Pemahaman Siswa dalam Mempelajari Naratif Teks Melalui Model Pembelajaran Cooperative Learning
44. Universitas Jambi Dra. Roseli Theis, MSMilyarni, S.Pd.Ernaili, S.Pd.
Meminimalkan Kesalahan Operasi Hitung Bentuk Aljabar Siswa Kelas II MTsN Kenali Besar Jambi Melalui Penggunaan Pita Garis Bilangan
45. Universitas Jember Dra. Wiwiek Istianah, M.Kes., MEd.App.LingDrs. Bambang Suharjito, MEd.Joko Suprianto, S.Pd.Mohamad Sahri, S.Pd.
Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Keterampilan Menyimak dan Berbicara Bahasa Inggris di SMPN 1 Jember melalui Learning Community dengan Teknik Permainan Komunikatif
46. Universitas Jember Dra. Siti Sundari, MADrs. HairudinSri Rahayu W, S.Pd.
Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Menyimak, Membaca, dan Menulis Bahasa Inggris Siswa SMP 1 Jember melalui Cerita
47. Universitas Jember Drs. Suratno, M.Si.N. Ernawati, A.Ma.Aminah, A.Ma.
Pembelajaran Sain Berbasis Proyek (Project Based Learning) untuk Meningkatkan Academic Skill Siswa MI Miftahul Ulum Serut 02 Jember
48. Universitas Jember Drs. Supriyanto, M.Si.Ida Rosanti, S.Pd.Gandu Wadiono, S.Pd.
Penerapan Metode Pembelajaran Konsultatif (Sebuah Inovasi dalam Pembelajaran Kurikulum Berbasis Kompetensi) untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Mata Pelajaran Biologi Kelas II SMAN 1 Arjasa Jember
49. Universitas Jember Drs. Didik Sugeng Pambudi, M.S.YettiningsihSutrisno
Peningkatan Kualitas Pembelajaran Matematika pada Materi Aritmetika Sosial Menggunakan Pendekatan Kontekstual
50. Universitas Jember Drs. Susanto, M.Pd.Eko Adi Siswoyo, S.Pd.Nahtim Siti Komariyah, S.Pd.
Meningkatkan Pemahaman Siswa SLTPN 8 Jember tentang Kesebangunan dengan Penemuan Terbimbing (Guide Discovery)
51. Universitas Jember Drs. H.M. Syafi’i NoerDra. Wiwiek S.Dra. Ratnaningsih
Penerapan Strategi Belajar dengan Model Pembelajaran Quantum Teaching untuk Meningkatkan Keaktipan Belajar Siswa Prestasi Hasil Belajar pada Siswa Kelas III di SMA Negeri 3 Jember Tahun Ajaran 2005 – 2006
52. Universitas Jember Chumi Zahrotul Fitriyah, S.Pd.Eny Yuliana, S.Pd.Mudawaroh, S.Pd.
Peningkatan Image Anak tentang Tempat-Tempat Jauh (Hubungannya dengan Kehidupan Manusia dan Lingkungan) melalui Media Gambar dan Group Discussion di SDN Kranjingan 3 Sumbersari-Jembe
53. Universitas Lambung Mangkurat Dra. St. Wahidah Arsyad, M.Pd.Dra. Aulia Azizah, M.Kes.Niluh Putu Yuliani, S.Pd.Rahmadi, S.Pd.Lasiah, S.Pd.
Peningkatan Pemahaman Konsep-Konsep Biologi Melalui Strategi M2E (Mapping, Matrix, & Elaboration) pada Siswa Kelas 1 SMP Negeri 5 Banjarmasin
54. Universitas Lambung Mangkurat Drs. Zainuddin, M.Pd.Dra. Suriasa, M.Pd.Ida Martini, S.Pd.
Mengatasi Miskonsepsi Siswa Kelas III SMPN 24 Banjarmasin pada Materi Ajar Listrik Dinamis dengan Menerapkan Teknik Pemodelan dalam Setting Pembelajaran Generatif
55. Universitas Lambung Mangkurat Dra. Agni DanaryantiDra. Duratul WahidahFerry Setiawan, S.Pd
Meminimalkan Kesalahan Siswa Kelas III-IPA SMAN 1 Banjarmasin dalam Menyelesaikan Persamaan Trigonometri Melalui Strategi Konflik Kognitif dan Problem Solving dalam Pembelajaran Kooperatif
56. Universitas Lambung Mangkurat Dra. Atiek Winarti, M.Pd.Suratminingsih, S.Pd.Rusliana Sari, S.Pd.
Penerapan Model Kooperatif Tipe Team Accelerated Instruction (TAI) untuk Mengatasi Permasalahan dalam Pembelajaran Kimia Akibat Heterogenitas Kemampuan Siswa di Kelas X SMA Negeri 2 Banjarmasin
57. Universitas Lambung Mangkurat Dr. H. Muhammad Zaini, M.Pd.Drs. Akhmad Naparin, M.Si.Dra. Mis AmbrahIlda Ruhama, S.Pd.Dra. Erni Rahmadiyani
Memanfaatkan Metode Debat Secara Formal untuk Mengoptimalkan Pemahaman Bioetika pada Pembelajaran Materi Kesehatan Reproduksi Siswa Kelas XI MAN 1 Banjarmasin
58. Universitas Lambung Mangkurat Drs. H. Aminuddin Prahatamaputra,M.Pd.Fithri Erliana, S.Pd.Hj. Sri Ellyana, S.Pd.
Implementasi Pendekatan Pembelejaran Kooperatif dalam Pembelajaran Biologi Semester Gasal Tahun Ajaran 2005/2006 untuk Mengatasi Rendahnya Pemahaman Siswa Kelas IIIB SMPN 21 Banjarmasin
59. Universitas Lampung Drs. Sunyono, M.Si.Siti Maryatun, S.Pd.Sri Suwanti, S.Pd.
Efektivitas Pembelajaran Kimia Kelas X Semester I SMA Swadhipa Natar melalui Penerapan Metode Eksperimen Berwawasan Lingkungan
60. Universitas Lampung Dra. Ari Nurweni, MADra. Yulia Tri DianaDra. Siti Rumini
Meningkatkan Kemampuan Mendengarkan Wacana Berbahasa Inggris Siswa Kelas XI dengan Text-Based Listening di SMAN I Natar Lampung Selatan
61. Universitas Lampung Dra. Endang Komariah, M.Pd.Hj. Rosdihawati, S.Pd.Dra. Dwi Purwati
Meningkatkan Kemampuan Bahasa Inggris Siswa Kelas VII SMPN 5 Bandar Lampung melalui Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning)
62. Universitas Lampung Dr. Cucu Sutarsyah, MANurhadewi, S.Pd.
Pembelajaran Bahasa Inggris dengan Memanfaatkan Aneka Sumber Belajar di SMPN I Pugung Kabupaten Tanggamus
63. Universitas Lampung Neni Hasnunidah, S.Pd., M.Si.Juriyah, S.Pd.Rahmat Suryanto, S.Pd.
Implementasi Model Pembelajaran Berbasis Portofolio untuk Meningkatkan Kualitas Proses dan Hasil Belajar Biologi Siswa Kelas X Semester 1 SMA YP UNILA Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2005/2006
64. Universitas Mataram Dra. Sri Subarinah, M.Si.Darmiati JafarDra. Hj. Aminah
Pengembangan Model Pembelajaran Matematika Realistik untuk Meningkatkan Aktifitas dan Hasil Belajar Siswa Kelas IV SDN 27 Ampenan
65. Universitas Mataram Dra. Ni Made Novi Suryanti, M.SiKhairun Nisa, S.Pd.Hj. Zohriah, S.Pd.
Upaya Meningkatkan Keaktifan dan Tanggungjawab Siswa dalam Proses Pembelajaran PKn Melalui Penggunaan Metode Cooperative Learning Model Jigsaw di SMP Negeri 2 Mataram Kelas VIII
66. Universitas Muhammadiyah Malang Drs. Abdul Haris, MAMohammad Ja’far, S.Pd.IDrs. Bambang Mulyadi
Meningkatkan Penguasaan Kosa Kata Bahasa Arab melalui Permainan (Studi di Sekolah Dasar Muhammadiyah 8 KH. Mas Mansur Malang)
67. Universitas Muhammadiyah Metro Drs. Anak Agung Oka, M.Pd.Ujang Hasan, STMaria Woro PantiningsihDrs. SutarnoSamadi, Am.Pd.
Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) dengan Model Jigsaw dalam Pembelajaran Sains di SMP Kartikatama Metro Tahun Pelajaran 2005/2006
68. Universitas Muhammadiyah Metro Dr. H. Agus Sujarwanta, M.Pd.Dra. Hj. Rita Iryanti, M.Pd.Drs. Sugiyono
Upaya Meningkatkan Motivasi Belajar dan Hasil Belajar Biologi melalui Pembelajaran Kooperatif (Tipe Pendekatan Struktural Think-Pair-Share) Siswa SMA Negeri I Metro Tahun Pelajaran 2006/2007
69. Universitas Muhammadiyah Metro Drs. Handoko Santoso, M.Pd.Drs. Agus Susanto, M.Si.Dra Siti SuwarniIr Hepi RositaDrs. Wahyudi
Peningkatan Kualitas Pembelajaran Biologi melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe Penyelidikan Kelompok pada Siswa Kelas X SMAN 3 Metro Lampung
70. Universitas Muhammadiyah Metro Dra. Hening Widowati, M.Si.Kartikasari, S.Si.Dra. Lilis SuryaniDra. Tri RudiastutiSiti Fathonah, S.Pdi.
Pembelajaran di Luar Kelas dengan Pendekatan Pemecahan Masalah Bersama untuk Meningkatkan Motivasi Belajar dan Pemahaman Konsep Lingkungan Siswa Kelas III SDM Kota Metro
71. Universitas Muhammadiyah Metro Drs. Triyono WisnutomoSri HayatiSuwarso
Peningkatan Kualitas Pembelajaran IPS melalui Pendekatan Pembelajaran Kontekstual (CTL) Kelas VII di SMP Negeri 3 Metro Tahun 2005
72. Universitas Muhammadiyah Metro Muhfahroyin, S.Pd., M.TATursila Widiastuti, S.Pd.Drs. Edi Supriyono
Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) untuk Mengintegrasikan Nilai-Nilai Imtaq dalam Pembelajaran Biologi di SMAN 1 Trimurjo Lampung Tengah Tahun Pelajaran 2006/2007
73. Universitas Muhammadiyah Metro Drs. H. Radius Noorie, M.Pd. Dewi Novita, S.Pd.Anisa
Model Penemuan dan Pemecahan Masalah dengan Pendekatan Realistik pada Pembelajaran Matematika di SD Pertiwi Teladan Metro Tahun Pelajaran 2005/2006
74. Universitas Muhammadiyah Surabaya Dra. Iis Holisin, M.Pd. Dra. Meksi RahayuDrs. Agus Sulistyono
Meningkatkan Partisipasi Siswa Kelas VII SMP Maryam Surabaya dalam Pembelajaran Matematika Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw
75. Universitas Muhammadiyah Surabaya Dra. Yuni Gayatri, M.Pd.Nur Kholidah, S.Pd.Lilik Suryani, S.Pd.
Penerapan Pembelajaran Berbasis Kerja Ilmiah pada Konsep Ciri-ciri Makhluk Hidup untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas I SLTP Muhammadiyah 5 Surabaya
76. Universitas Muhammadiyah Surakarta Dra. Main Sufanti, M.Hum.Isminatun, S.Pd.Dwiana O I, S.Pd.
Peningkatan Kompetensi Menulis Pengalaman Siswa Kelas VII F SMP Negeri 2 Gatak Melalui Pola Latihan Berjenjang
77. Universitas Muhammadiyah Purwokerto Drs. Kusno, M.Pd.Edi Riyanto, S.Pd.Desi Puspitasari
Peningkatan Peran Aktif dan Motivasi Belajar Siswa SMP Muhammadiyah Sumbang melalui Pendekatan Keterampilan Proses dengan Metode Discovery
78. Universitas Muhammadiyah Purwokerto Teguh Julianto, S.Pd., M.Si.Tuti PrihantiNurhayatiEndah ChristianaSiti Badriyah
Peningkatan Kualitas Pembelajaran IPA Menggunakan Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan (PAKEM) pada Siswa Kelas 5 SD Negeri 2 Ledug Kecamatan Kembaran Kabupaten Banyumas
79. Universitas Muhammadiyah Purwokerto Drs. Pamujo, MMErnawati Purworini, S.Pd.Sri Rahayu ningsih, S.Pd.Badri, S.Pd.
Peningkatan Motivasi Belajar Siswa Kelas VII pada Pelajaran Sejarah melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD (Student Teams Achievement Devision) di Madrasah Tsanawiyah (MTs) Muhammadiyah Purwokerto
80. Universitas Muhammadiyah Purwokerto Drs. Suwarno, M.Si.Drs. Kartono, M.Si.Dra. Budi EkowatiDra. NugraheniDra. Endang Iriani S.
Upaya Mengembangkan Kemampuan Siswa Meneliti Sejarah Lokal melalui Model Inkuiri pada Siswa Kelas X SMA Negeri 5 Purwokerto Tahun Ajaran 2006 – 2007
81. Universitas Muhammadiyah Purwokerto Drs. Sony IriantoNyata, S.Pd.Irma Pujiati, S.Pd.
Penerapan Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT (Teams Game Tournaments) untuk Meningkatkan Kreativitas dan Prestasi Belajar Matematika (Studi di SMP Negeri 4 Purwokerto)
82. Universitas Mulawarman Dr. Lambang Subagiyo, M.Si.Wulyo Slamet, S.Pd.Ayu Nurjannah, S.Pd.
Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif dalam Peningkatan Motivasi dan Partisipasi Siswa serta Kualitas Hasil Belajar di SMA Negeri II Samarinda
83. Universitas Negeri Jakarta Dra. Maratun Nafiah, M.Pd Dra. Marwati Mansyur, M.Pd.Emay KomariTuti AlawiyahBambang Irawan, BA
Penerapan Metode Permainan untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Matematika pada Siswa Kelas II Sekolah Dasar Negeri Jatinegara 05 Pagi Cakung Jakarta Timur
84. Universitas Negeri Jakarta Dra. Siti Rohmi Yuliati, M.Pd. Dra. Endang M. Kurniati, M.Ed.Kris Yuda Supriyatin, S.Pd.Muganefti, S.Pd.Djarwati, S.Pd.
Upaya Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Matematika dengan Menerapkan Pendekatan Realistik Matematik di SDN Mekarsari 06 Tambun – Bekasi
85. Universitas Negeri Makassar Asdar, S.Pd., M.Pd. St. Usniah, S.Pd.Raehana Kadriah, S.Pd
Implementasi Portofolio Berbasis Asesmen Autentik untuk Meningkatkan Kualitas Proses dan hasil Pembelajaran Matematika di SMA Negeri 1 Sungguminasa Kabupaten Gowa
86. Universitas Negeri Makassar Drs. Munir Tanrere, M.Pd. Drs. H.A. Syamsur MasoangDrs. Iswan Abd. Latif
Penerapan Pembelajaran Berbasis Pemecahan Masalah yang Diintervensi dengan Peta Konsep untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Kimia di SMU
87. Universitas Negeri Makassar Drs. Azis Sappr, M.Si. Dra. Rasmi Djabba, S.Pd.Sulhasmi, S.Pd.Mursida, S.Pd.Asnaeni, S.Pd.
Efektivitas Pendekatan Cooperative Learning dalam Meningkatkan Hasil IPA di SDN 62 Pare-Pare
88. Universitas Negeri Makassar Drs. Latri Aras, S.Pd., M.Pd. Drs. Muh. Idris Jafar, M.Pd.Hj. Maskawati, A.Ma.Hj. Nurjannah, BADra. Nurhasmi
Pembelajaran Bangun Ruang Secara Konstruktivis dengan Menggunakan Alat Peraga di Kelas V SD Negeri 10 Watampone
89. Universitas Negeri Makassar Aswi, S.Pd., M.Si. Bakhtiar, S.Pd., M.Pd.Andi Waru AP, S.Pd
Peningkatan Mutu Proses dan Hasil Belajar Matematika melalui Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Masalah pada Siswa Kelas II SMA Negeri 21 Makassar
90. Universitas Negeri Makassar Dra. Hj. Nurhinda Bakkidu, M.Pd. Aminullah P., S.Pd.Kamsidah, S.Pd.
Peningkatan Motivasi Belajar Siswa dalam Mata Pelajaran Biologi melalui Pembelajaran Kooperatif di SMP Negeri 24 Makassar
91. Universitas Negeri Malang Dra. Tjitjik SW Drs. Imam MuhadjirDrs. Tri HaryonoKuncahyo Pitono, S.Pd.
Model Pembelajaran Seni Rupa di SMU Negeri 2 Malang dengan Penggunaan Desain Media Reproduksi Grafika untuk Mengembangkan Kreativitas Anak
92. Universitas Negeri Malang Dr. I Wayan Dasna, M.Si., M.Ed.Dra Dwi Rahayu NarulitawatiMohamad Kodim, S.Pd
Penggunaan Model Pembelajaran Siklus Belajar dan Belajar Kooperatif Tipe STAD untuk Meningkatkan Kualitas Proses dan Hasil Belajar Kimia Siswa Kelas X SMA Negeri I Tumpang – Malang
93. Universitas Negeri Malang Dra. Nur Hidayah, M.Pd. Dwi Effendi, S.Pd.Masykur, S.Pd.
Aplikasi Pembelajaran Kolaboratif Berbasis Asesmen Autentik untuk Meningkatkan Pembelajaran PSKn Kelas IV di SDI Sabilillah Malang
94. Universitas Negeri Malang Dra. Ratna Trieka Agustina, S.Pd., M.Pd.Muhammad Kurnianto, S.Pd.Anton Budisastono, S.Pd.
Peningkatan Keterampilan Berbicara Bahasa Inggris melalui Pendekatan Proses Membaca dalam Membaca Cerita di Kelas 3 SD Negeri Bendogerit Kota Blitar
95. Universitas Negeri Malang Mohamad Amin, S.Pd., M.Si, Ph.DDra. Yayuk PrihatnawatiDra. Ida Nurain
Penerapan kegiatan Hands on Activity dan Modified Discovery-Inquiry pada Mata Pelajaran Biologi untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Siswa Kelas I SMP Laboratorium Universitas Negeri Malang
96. Universitas Negeri Malang Drs. Parlan, M.Si.Dra. Dewi AmbarwatiEny Suhartini, S.Pd.
Penggunaan Model Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning) Tipe STAD untuk Meningkatkan Kualitas Proses dan Hasil Belajar Kimia Siswa Kelas XII SMA Negeri 9 Malang
97. Universitas Negeri Malang Dra. Siti Zubaidah, S.Pd., M.Pd.Chairuddin, BADra. Uswatul Chasanah
Pembelajaran Kontekstual dengan Metode Inkuiri untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir, Hasil dan Motivasi Belajar IPA pada Siswa Kelas V Madrasah Ibtidaiyah Wahid Hasyim III Malang
98. Universitas Negeri Malang Dr. Mohammad Efendi, M.Pd., M.Kes.Dra. Esni TriawatiPujiati Hariyanto, S.Pd
Penggunaan Media Cerita Bergambar Berbasis Pendekatan Komunikasi Total untuk Meningkatkan Kemampuan Bahasa Anak Tunarungu Kelas Rendah di SLB Bagian B YPTB Malang
99. Universitas Negeri Malang Dra. Susriyati Mahanal, M.Pd.Drs. Kukuh Satuhu YuwonoSuyanto, S.Pd.
Penerapan Pembelajaran Berdasarkan Masalah dengan Strategi Kooperatif Model STAD pada Mata Pelajaran Sains untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Kelas V MI Jenderal Sudirman Malang
100. Universitas Negeri Malang Drs. Bustanul Arifin, SH, M.Hum.Drs. Jamal, M.Pd.Riyono, S.Pd.
Pengefektifan Pembelajaran Menulis Cerpen melalui Pemanfaatan Pertanyaan “Bagaimana Jika …” pada Siswa Kelas X MAN Malang I
101. Universitas Negeri Malang Dra. Yuswanti Ariani Wirahayu, M.Si.Drs. Marhadi Slamet K., M.Si.Drs. Muhammad Puguh, M.Pd.drs. Sugeng SugiastopoDra. Sulastri
Peningkatan Pemahaman Geografi dengan Strategi Pembelajaran Berbasis Masalah dalam Kerangka Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) di Kelas X SMA Negeri I Batu
102. Universitas Negeri Medan Drs. Rahmat Husein, M.Ed.Drs. I Wayan Dirgayasa, M.HumMarlina Tobing, S.Pd.S. SimarmataChairiyah, S.Pd
Penerapan Metode SQ3R sebagai Upaya untuk Meningkatkan Tingkat Kemampuan Penguasaan Membaca Pemahaman Siswa Kelas III SLTP Negeri 27
103. Universitas Negeri Medan Dra. Rosmala Dewi, M.Pd. Drs. Zulkifli DalimuntheDrs. Juani SimanjuntakNoviyanti Lubis
Implementasi Konseling Perkembangan dalam Pembelajaran sebagai Model Pembiasaan Perilaku Belajar Siswa SD Negeri 064018 di Medan Sunggal
104. Universitas Negeri Padang Dra. Yasnidawati, M.Pd. Dra. BudiwatiDra. Loviani
Upaya Peningaktan Keaktifan Belajar Siswa melalui Metode Demonstrasi dan Latihan pada Pembelajaran Teknik Tailoring Kelas II A Semester 3 SMKN 6 Padang
105. Universitas Negeri Padang Dra. Murtiani Kari Ermawati, S.Pd.Rismayeti, S.Pd
Upaya Meningkatkan Penalaran Fisika Siswa melalui Penekanan Konsep Esensial dan Peta Konsep di Kelas 2 SMP 7 Padang
106. Universitas Negeri Padang Dra. Hj. Dalismar Drs. AlmasriDra. Mislinda R
Upaya Peningkatan Kemampuan Belajar Siswa melalui Model Mengajar Perubahan Konseptual pada Mata Pelajaran Sejarah di SMP Pembangunan KORPRI UNP
107. Universitas Negeri Padang Drs. Amali Putra, M.Pd. Dra. Yunida HerawatiM. Efendi, S.Pd.
Optimalisasi Pemanfaatan Lingkungan sebagai Sumber Belajar dalam Meningkatkan Aktivitas Bertanya dan Kemampuan Menjelaskan Konsep dan Prinsip Fisika di Kelas 1 SMA 3 Padang
108. Universitas Negeri Padang Drs. Darmansyah, ST, M.Pd. Azwarman, S.Pd.Erdawati, S.Pd.
Upaya Menciptakan Suasana Belajar Menyenangkan melalui Optimalisasi Jeda Strategis dengan Karikatur Humor pada Mata Pelajaran Matematika di SMA Negei 7 Padang
109. Universitas Negeri Padang Drs. Zafri, M.Pd. Drs. AlmasriDrs. Yoprizal
Usaha Peningkatan Efektifitas Belajar Mengajar melalui Pendekatan Penyajian Garis Gerak Perubahan pada Mata Pelajaran Sejarah di SMA
110. Universitas Negeri Semarang Dr. A. Tri Widodo Dra. Indah SunaryatiDra. Sri Lesmonowati
Pemaksimalan Kompetensi Siswa Kelas X SMA 3 Semarang dengan Pendekatan Penerapan Penelitian dalam Pembelajaran Kimia
111. Universitas Negeri Semarang Dra. Emi Pujiastuti, M.Pd. Drs. Catonggo SulistyonoDrs. Suko Prajitno
Meningkatkan Kompetensi Dasar Siswa Kelas IX SMP 25 Semarang dalam Pokok Bahasan Lingkaran melalui Penerapan Cooperative Learning Tipe TGT Bercirikan CTL
112. Universitas Negeri Semarang Harjono, S.Pd. Dra. Ajeng DinariniDra. Nufchasanah
Upaya Mengatasi Kesulitan Belajar Kimia sesuai KBK 2004 di Kelas X SMA Negeri 5 Semarang dengan Model Pembelajaran Kooperatif STAD
113. Universitas Negeri Semarang Riza Arifudin, S.Pd. Mukhamat, A.Md.Sudarmo, S.Pd.
Upaya Meningkatkan Pemahaman Siswa pada Materi FPB dan KPK dengan Mendayagunakan Alat Peraga dan Serangkaian Pertanyaan Kognitif di SD Sekaran 01 Semarang
114. Universitas Negeri Semarang Dra. Nurkaromah Dwidayati, M.Si. Dra. Kristin UsadaniSuwarsi, S.Pd.
Optimalisasi Pontensi Unggulan Lokal dalam Pembelajaran Aritmetika Sosial pada Siswa Kelas VII SMPN 9 Semarang, sebagai Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi
115. Universitas Negeri Semarang Drs. Y. Ulung Anggraito, M.Si. Izzun Nadlah, S.Pd.Sutomo, S.Pd.
Penerapan Asesmen Kinerja untuk Meningkatkan Kompetensi Siswa dalam Kerja Ilmiah pada Pembelajaran PA-Biologi di SMP Negeri 40 Semarang
116. Universitas Negeri Semarang Dra. Sri Ngabekti, M.S. Drs. Bambang Priyono,
Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Konsep Keanekaragaman Hayati melalui Penerapan Model Investigasi Kelompok di SMA 9 Semaran
117. Universitas Negeri Semarang Drs. Partaya, M.Si.Purwaningsih, S.Pd.Arba’a Insani, S.Pd.
Penggunaan Bagan Dikhotomi Konsep sebagai Pendekatan Kontekstual untuk Meningkatkan Hasil Belajar Keanekaragaman Hewan pada Siswa Kelas I SMP Negeri 9 Semarang
118. Universitas Negeri Semarang Dra. Isti Hidayah, M.Pd.Drs. SugiartoMaslinda, A.Ma.Pd.Nofrida, A.Ma.Pd.Dwi Sunarmi, A.ma.Pd.
Pembelajaran Matematika Berbantuan Alat Peraga untuk Menciptakan Pembelajaran yang Menyenangkan bagi Siswa Kelas 3 SD Sampangan 04 Semarang
119. Universitas Negeri Semarang Prof. Dr. SukestiyarnoDra. MuslikhahDra. Titi Indriastuti
Upaya Menumbuhkan Semangat Siswa Mencapai Standar Kompetensi dengan Model Pembelajaran Heroik dan Turnamen Matematika SMA
120. Universitas Negeri Surabaya Dra. Darni, M.Hum Soehartin, S.Pd.Porweni Darmiati, S.Pd
Peningkatan Kualitas Pembelajaran Apresiasi Sastra pada Mata Pelajaran Bahasa Daerah di Kelas 7 SMPN 2 Sidoarjo melalui Penerapan Asesmen Autentik
121. Universitas Negeri Surabaya Maryam Isnaini Damayanti, S.Pd. Mohammad Irfan, A.Ma.FM. Retno A., A.Ma.
Pembelajaran Konstruktivisme dalam Meningkatkan Kemampuan Membaca Pemahaman Siswa Kelas III Madrasah Ibtidaiyah Darul Ulum
122. Universitas Negeri Surabaya Drs. Wagino, M.Pd. Dra. Sukarlik, M.Si.Dadang Bagoes Prihantono, S.Pd.Isnainatun, S.Pd.
Peningkatan Efektifitas Pembelajaran Anak Autis melalui Implementasi Pendekatan Individualized Education Program (IEP) di SDN Inklusif Klampis Ngasem 1-246 Surabaya
123. Universitas Negeri Surabaya Dra. Siti Masitoh, M.Pd. Drs. Ujarwanto, M.Pd.Djumini, S.Pd.Sri Wahyuni, S.Pd.Taryono, S.Pd.
Peningkatan Hasil Belajar Pengetahuan Sosial melalui Pembelajaran Kontekstual Model Berkemah dan Media Pembelajaran Lingkungan di SD
124. Universitas Negeri Surabaya Eko Hariyono, S.Pd., M.Pd. Dra. Madewi Mulyanratna, M.Si.Bambang Sutedjo, S.Pd.Wiwien Maryuni, S.Pd.Dra. Ani Setyowati
Penerapan Model Pembelajaran Inquiri dalam rangka Meningkatkan Penguasaan Konsep Siswa dan Keterampilan Siswa dalam Penemuan Konsep secara Mandiri di SMPN 21 Surabaya
125. Universitas Negeri Surabaya Dra. Martini, M.Pd.Dra. Endah Purwani, M.Pd.Drs. Ponijan
Meningkatkan Kemampuan Aspek Psikomotor melalui Pembelajaran Berbasis Laboratorium pada Materi Termokimia di SMA Negeri 1 Jombang
126. Universitas Negeri Surabaya Drs. Supriyono, M.Sc.Dra. Isnawati, M.Si.Iswanto, S.Pd.Misri Asinah, S.Pd.Ismi Rodiah, S.Pd.
Penerapan Perangkat Pembelajaran Inovatif dalam rangka Peningkatan Penguasaan Keterampilan Proses Sains pada Siswa Kelas IV Sekolah Dasar Negeri Kertajaya XIII Surabaya
127. Universitas Negeri Surabaya Elok Sudibyo, S.Pd., M.Pd. Inna Nur Anisjak, S.Pd.M. Ikhsan, S.Pd.
Penerapan Pembelajaran Kontekstual untuk Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Fisika Siswa SMPN 3 Porong
128. Universitas Negeri Surabaya Drs. Agus Supriyono, M.Si. Drs. Sugeng Harianto, M.Si.Dra. Hj. Sri LestariNgunsiati, S.Pd.dra. Hj. Restu Kemala
Menciptakan Iklim Pembelajaran Sejarah yang Menyenangkan melalui Snowball Drilling Method
129. Universitas Negeri Surabaya Dra. Endah Budi R., M.Pd. Dra. Hj. Masriyah, M.Pd.Kardiyono, S.pd.Dra. Nudjum SetyanihUntung, S.Pd.
Penerapan Pola Pembelajaran Edutainment untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa di Kelas XI IPS SMA Negeri 9 Surabaya
130. Universitas Negeri Surabaya Dra. Asri Susetyo Rukmini, M.Pd. Ummama, S.Ag.Toeminingsih
Penggunaan Buku Bergambar untuk Meningkatkan Keterampilan Membaca Cerita Siswa Kelas II SDN Jepara 2 Surabaya
131. Universitas Negeri Yogyakarta Juli Astono Barbara Elen N.Sri Palmurasih
Pembelajaran Interaktif Berbasis Multimedia dengan Pendekatan Kooperatif Tipe Jigsaw untuk Peningkatan Keterampilan Scientifik dalam Mata Pelajaran Fisika di SMUN 1 Depok Slemant Yogyakarta
132. Universitas Negeri Yogyakarta Ari Kusmiatun, M.Hum Tusti Arini, S.Pd.Afdina Afitri, S.S.
Upaya Peningkatan Keterampilan Berbicara Siswa SD Kelas V dalam Mata Pelajaran Bahasa Indonesia dengan Pendekatan Cooperative Learning
133. Universitas Negeri Yogyakarta Susilo Pradoko, M.Si. Kun Setyaning Astuti, M.Pd.Fikta Devit, S.Pd.Sukialfini, A.Md.Pd.Landung Hardono, A.Md.Pd.
Perbaikan Teknik Menyanyikan Nada-nada Melodi melalui Teknologi MIDI di SD Negeri Kalasan I – Yogyakarta
134. Universitas Palangkaraya Alifiah Nurachmana, S.S.Drs. SupardiMenik Dwi Astuti, S.Pd.
Peningkatan Minat Baca Siswa Kelas 1 SMK Negeri 1 Palangkaraya dalam Pelajaran Bahasa Indonesia Melalui Pemberiaan Feedback dan Reinforcement
135. Universitas Palangkaraya Drs. Albertus PurwakaYunalis, A.Ma.
Peningkatan Pembelajaran Menulis dengan Pendekatan Proses dan Media Gambar di Kelas II SDN Menteng 6 Palangkaraya
136. Universitas Palangkaraya Drs. Sarjoko, M.Pd. Defina, S.Pd.Drs. Simpei Adjang
Penerapan Pembelajaran Perspektif Pemodelan Matematika Bermediasi RME untuk Penalaran dan Penguasaan Konsep Statistika bagi Siswa Kelas II SMUN 3 Palangkaraya
137. Universitas Palangkaraya Dr. Yohanes Edy Gunawan, M.Si. Drs. AkhmadiRabiah, S.Pd.Janter Sirait, S.Pd.Lilik Widianto, S.Pd.
Peningkatan Kualitas Pembelajaran untuk Melatih Keterampilan Berpikir dalam Proses Ilmiah Melalui Model Pembelajaran Berdasarkan Masalah di SMA Negeri-1 Palangkaraya
138. Universitas Pendidikan Indonesia Drs. Dede Kosasih, M.Si. Retty Isnendes, S.Pd., M.Hum.Dra. Irma KarmilaDra. Nia RusyatiDra. Entin Sri Prihatin
Model Reader Respons untuk Meningkatkan Minat dan Keberanian Siswa Mengemukakan Tanggapan dalam Pembelajaran Sastra Sunda di SMA Pasundan 2 Bandung
139. Universitas Pendidikan Indonesia Drs. Dadan Djuanda, M.Pd. Ilah Ruspilah, S.Pd.Sahya Sunarya, S.Pd.Kundang, S.Pd.
Pengembangan Strategi Pembelajaran Menulis dengan Model Menulis Proses dan Penilaian Portofolio di Sekolah Dasar Kabupaten Sumedang
140. Universitas Pendidikan Indonesia Dra. Sri Widati, M.Pd. Dra. Hj. Ehan, M.Pd.Onot RekaahSartika DewiOtim Chotimah, S.Pd.
Peningkatan Prestasi Belajar Membaca Menulis Permulaan Anak Berkesulitan Belajar Melalui Strategi Pembelajaran Kooperatif dengan Metode VAKT di SD Permata Hijau Rancaekek Kab. Bandung
141. Universitas Pendidikan Indonesia Dr. Wahyu Sopandi, MA Drs. Z. AbidinHani Cahya Maulani, S.Pd.
Pelaksanaan Pembelajaran Kimia yang Berorientasi pada Struktur dalam rangka Mengatasi Kesulitan Belajar Siswa SMA PGRI Cililin Kab. Bandung
142. Universitas Pendidikan Indonesia Riche Cynthia Johan, S.Pd. Ida Rachmawati, S.Pd.Dian Andayani, S.Pd.
Peningkatan Kualitas Pembelajaran Gejala-Gejala Alam dengan Menggunakan Media Pembelajaran Mock Up di Sekolah Dasar Negeri Embong 2 Bandung
143. Universitas Pendidikan Indonesia Drs. Asep Saepulrohman Dra. Yasbiati, M.Pd.Ujang Jualeni, S.Pd.Nana Suryana, S.Pd.Sopi Sukmawati, S.Pd.
Optimalisasi Penggunaan Asesmen Otentik untuk Meningkatkan Kerja Ilmiah Siswa pada Pembelajaran Sains di SDN Puncakmulya Kecamatan Manonjaya Kabupaten Tasikmalaya
144. Universitas Pendidikan Indonesia Drs. Aan Kusdiana, M.Pd. Drs. Enuh Zainuddin, MADrs. Tatang S.Hj. Farida Arif, S.Pd.Sumartini
Dramatisasi Cerita Bergambar untuk Mengembangkan Kompetensi Dasar Berekspresi Sastra di Sekolah Dasar
145. Universitas Pendidikan Indonesia Dr. Lely Halimah, M.Pd. Dra. Hj. Entang Kartika, M.Pd.Ujang Sopian, S.Pd.Jajang Sudirman, A.Ma.Rosmayasari, A.Ma.
Pemberdayaan Lingkungan sebagai Sumber Belajar dalam Upaya Meningkatkan Kompetensi Berbahasa Indonesia Siswa Kelas 4 SD Laboratorium UPI Kampus Cibiru
146. Universitas PGRI Yogyakarta Dr. Buchory MS, M.Pd. Drs. SamidiRusdijati, S.Pd.
Peningkatan Partisipasi Siswa dengan Model Inkuiri Berbasis CTL (Contextual Teaching and Learning) pada Pembelajaran Kewarganegaraan Kelas XI SMA Negeri 1 Jetis, Bantul Yogyakarta
147. Universitas Sebelas Maret Dra. Sumarwati, M.Pd. Sudarsono WP, S.Pd.Drs. Suradi
Pemakaian bahasa Komunikatif untuk Meningkatkan Kemampuan Memecahkan Soal Cerita Matematika pda Siswa Kelas 5 SD Negeri 15 Surakarta
148. Universitas Sebelas Maret Drs. Suhartono, M.Pd. Drs. NgatmanSutariyah, A.Ma.Ari Karyani, S.Pd.Setyana Widyastuti, S.Pd.
Penggunaan Aktivitas-Aktivitas Model (Model Activities) dalam Pembelajaran Menulis di Sekolah Dasar.
149. Universitas Sebelas Maret Drs. Sugiyanto, M.Si. Dra. Sri MilangsihDrs. SuyotoDra. Eny Wiji LestariRahning Utomowati, S.Si.
Penggunaan Software SIG Khusus dengan Pendekatan Pembelajaran Aktif untuk Mempermudah Penguasaan Kompetensi SIG pada Pembelajaran Geografi di SMAN I Surakarta
150. Universitas Sriwijaya Dra. Yulia Djahir, MM Fitriyanti, S.Pd.Irasniwati, S.Pd.Tuti Handini, S.Pd.Nurlaili, S.Pd.
Peningkatan Pembelajaran Aktif pada Mata Pelajaran Pengetahuan Sosial dengan Teknik Jigsaw di SMP Negeri 17 Palembang
151. Universitas Sriwijaya Zahra A., M.Pd. Dwi Mayheppi, S.Pd.Husniati, S.Pd.
Upaya Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Keterampilan Bahasa Indonesia di SMA Srijaya Negara melalui Penerapan Cooperative Learning dan Authentic Assessment
152. Universitas Sriwijaya Drs. Kodri Madang, M.Si. Desti WahyuniIriantini
Upaya Meningkatkan Prestasi Belajar Biologi Siswa Kelas II SMP Negeri 52 Palembang melalui Pembelajaran Kooperatif dengan Teknik Jigsaw
153. Universitas Sriwijaya Dra. Sri Indrawati, M.Pd. Darul QudniSuwandi
Peningkatan Pemerolehan Bahasa Indonesia Ragam Tulis Siswa Madrasah Ibtidiyah Aliyah II Palembang melalui Strategi Kooperatif Integrasi Membaca dan Menulis
154. Universitas Sriwijaya Dra. Nurhayati, M.Pd. Een Jaenah, S.Pd.Esana Laili Yuliati, S.Pd.
Penerapan Strategi Suggestopedia dalam upaya Meningkatkan Kemampuan Menulis Cerpen Berdasarkan Kurikulum Berbasis Kompetensi di SMP Negeri 1 Palembang
155. Universitas Sriwijaya Ernalida, S.Pd., M.Hum. Novianti, A.Ma.Mardiana, A.Ma.
Peningkatan Kemampuan Berbicara melalui Teknik Tell Me What You See I pada Siswa Kelas V SD Negeri 210 Palembang
156. Universitas Sriwijaya Dra. Trimurti Saleh, MA Farida Aryani, S.Pd.Nurjannah, S.Pd.
Peningkatan Pemahaman Guru tentang Pembelajaran Matematika dalam Bahasa Inggris melalui Supervisi Klinis di Kelas VII Koalisi SMP Negeri 1 Palembang
157. Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Hepsi Nindiasari, S.Pd., M.Pd. Dra. Wawat RuswiatiNiluh Putu Natalina
Penerapan Pembelajaran Matematika dengan Metode Improve untuk Meningkatkan Pemahaman Matematik dan Aktifitas Belajar Siswa Kelas 2 Sekolah Menengah (SMA) Negeri I Balaraja Kabupaten Tangerang – Banten
158. Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Drs. Yuyu Yuhana, M.Si. Sukirwan, S.Pd.Sri Redjeki, S.Pd.Wawat Koswati, S.Pd.Bahriyati, A.Ma.Pd.
Penggunaan Alat Peraga Matematika dalam Upaya Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Siswa Kelas IV SD Negeri 20 Serang
159. Universitas Tadulako Sahrul Saehana, S.Pd. Nurjannah, S.Pd.Usman Nasir, S.Pd.Abdul Razak, S.Pd.Arsul Rahman, S.Pd.
Pemanfaatan Simulasi Komputer sebagai Media Pembelajaran untuk Mengatasi Miskonsepsi Fisika Konsep Mekanika Siswa Kelas XI SMA Negeri 5 Palu
160. Universitas Tadulako Drs. Sukayasa, M.Pd. WinarkoSarmila Penerapan Teori
Bruner untuk Meningkatkan Pemahaman Siswa SD Karunadipa Palu terhadap Konsep Keliling dan Luas Daerah Bangun Datar
161. Universitas Tadulako Rita Lefrida, S.Pd., M.Si. Idris, S.Pd.Sugeng
Penerapan Pendekatan Open-Ended dan PAKEM (Pembelajaran Aktif Kreatif Efektif dan Menyenangkan) pada Sub Pokok Bahasan Operasi Pecahan di Kelas VII SLTP Negeri 1 Palu
162. Universitas Tadulako Purnama Ningsih, S.Pd., M.Si. Muhammad Al Rasyid Zain, S.Pd.Irmawati, S.Pd.
Pendekatan Salingtemas dikombinasikan Pemakaian Multimedia dalam Pembelajaran Kimia kelas X untuk Meningkatkan Kompetensi Kerja Ilmiah Siswa SMA Negeri 6 Palu
163. Universitas Tadulako Drs. Marinus B. Tandiayuk, M.Si. Ni Made Martina, S.Pd.Daud Surandana, S.Pd.
Implementasi Perangkat Model Bangun Ruang Sisi Lengkung dalam Pembelajaran Pokok Bahasan Tabung, Kerucut dan Bola di Kelas II SMP Negeri 1 Palu
164. Universitas Tadulako Drs. Tri Santoso, M.Si. Dra. Sitti Aminah, M.Si.Drs. HaeruddinDra. NurasiahDra. Wahdia
Peningkatan Kualitas Pembelajaran Kimia di Madrasah Aliyah Negeri Model Kota Palu Melalui Pendekatan Kontekstual dengan Mengoptimalkan Kegiatan Pembelajaran di Laboratorium.
165. Universitas Tadulako Drs. Fihrin, M.Si. Roemawati Asjud, S.Pd.Mahrufi T., S.Pd.Munirah, S.Pd.
Penerapan Pendekatan Struktur Konsep untuk Peningkatan Pemahaman dan Penerapan Konsep Fisika dalam Mengatasi Miskonsepsi Siswa SMP Negeri 19 Palu
166. Universitas Tadulako Haeruddin, S.Pd., M.Si. Murdiyah, S.Pd.Albar Rabak Pabianan, S.Pd.
Pengembangan Instrumen Evaluasi Berbasis Kelas dalam Pembelajaran Fisika Melalui Optimasi Rubrik Performance Assessment
167. Universitas Tadulako Drs. Lukman, M.Hum. Idrus, S.Pd.Mahmuddin, S.Pd.
Penerapan Pendekatan Cooperative Learning Model Jigsaw untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa dalam Pembelajaran Sejarah (Penelitian Tindakan Kelas di SMA Negeri 2 Dolo)
168. Universitas Tadulako Dra. Sri Mulyani Sabang, M.Si. Kusrini Burase, S.Pd.Budiono, S.Pd.
Implementasi Perangkat Model Geometri Molekul dalam Pembelajaran Pokok Bahasan Teori Domain Elektro dan Gaya Antarmolekul di Kelas XI SMU Negeri 1 Palu
169. Universitas Tadulako Drs. Lilik Prihadi Utomo, M.Si. Abu Hasan, M.Pd.Muhlis, S.Pd.
Pembelajaran Berbasis Masalah dengan Media Komputer Program Interactive Atlas 2002 untuk Meningkatkan Penguasaan Materi Region Siswa Kelas IX SMPN 4 Sindue
170. Universitas Tanjungpura Dr. Tomo Djudin, M.Pd. Judyanto Sirait, S.Si.Titik Suryani, S.Pd.Bambang Supriyanto, S.Pd.Paryoto
Meningkatkan Kualitas Hasil dan Proses Pembelajaran Siswa tentang Kinematika Melalui Pembelajaran Multimodel Berbasis CTL pada Siswa Kelas X SMAN 1 Kabupaten Pontianak
MASIH ADA YANG LAINNYA……….
Contoh Judul Ptk
1. Upaya Meningkatkan Gairah Belajar Siswa Dalam Pembelajaran Ips Dengan Menggunakan Media
Gambar - 04
2. Tindakan. Kelas Upaya Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Sd Melalui Peranan Hadiah Sebagai
Perangsang Timbulnya Kompetensi – 03
3. Upaya Meningkatkan Kedisplinan Siswa Melalui Penerapan Hukuman - 01
4. Upaya Meminimalkan Miskonsepsi Dan Meningkatkan Pemahaman Konsep-Konsep Ipa Melalui
Pembelajaran Konstruktivistik Bagi Siswa Kelas Iv Sd - 03
5. Upaya Meningkatkan Prestasi Belajar Ipa Si Sd Dengan Pendekatan Ketrampilan Proses - 04
6. Upaya Mengatasi Kesulitan Belajar Melallui Pemberian Bimbingan Belajar Di Sd Wanagiri Kab.
Kulon Progo Yk - 04
7. Peningkatan Kedisplinan Siswa Melalui Keteladanan Guru Sd Negeri Prawirotaman - 01
8. Upaya Meningkatkan Pembelajaran Fisika Pada Sekolah Sltp Melalui Optimalisasi Kegiatan
Laboratorium Berbasis Cooperative Learning Sebagai Implementasi Kbk - 03
9. Peranan Bertanya Siswa Sd Dalam Meningkatkan Proses Belajar Mengajar Matematika - 01
10. Peranan Penggunaan Metode Ceramah Dan Tanya Jawab Terhadap Peningkatan Prestasi Belajar Mata
Pelajaran Ips Terpadu Kelas Vi Cawu I Sd Muhammadiyah 4 Surakarta Th Pelajaran 2001/2002 - 01
11. Upaya Mengaktifkan Siswa Dalam Pembelajaran Matematika Di Sd Melalui Pendekatan Rani - 04
12. Penelitian Tindakan Kelas Melalui Pembelajaran Kooperatif Learning Untuk Meningkatkan Minat
Belajar Siswa Kelas Iv Sdn I Madukara - 03
13. Prop. Penelitian Tindakan Kelas Meningkatkan Motivasi Belajar Matematika Dengan Strategi Pakem
Kelas Iv Sdn Soronalan I Th Ajaran 2003/2004 - 04
14. Prop. Penelitian Tindakan Kelas Upaya Meningkatkan Minat Dan Motivasi Belajar Pada Mata
Pelajaran Ips Melalui Metode Ceramah Bervariasi Siswa Kelas V Cawu I Di Sdn 2 Karangturi Mrebet
Purbalingga – 04
15. Peningkatan Pembelajaran Matematika Di Sd Melalui Penggunaan Alat Peraga Secara Efektif – 01
16. Prop. Penelitian Tindakan Kelas Upaya Meningkatkan Motivasi Belajar Ipa Melalui Pendekatan
Eksploratory Discovery - 03
________________________________________
Page 2
17. Laporan Proposal Penelitian Peranan Media Dalam Meningkatkan Ketrampilan Membaca Di Kelas
Rendah - 01
18. Prop. Penelitian Tindakan Kelas Upaya Menumbuhkan Bakat Dan Kreativitas Siswakelas Iv Sdn
Wanadadi Dalam Pembelajaran Matematika Melalui Metode Discovery Learning - 03
19. Prop. Penelitian Tindakan Kelas Upaya Meningkatkan Minat Belajar Siswa Dalam Pembelajaran
Matematika Dengan Menggunakan Metode Laboratory – 04
20. Prop. Penelitian Tindakan Kelas Upaya Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Dalam Pembelajaran
Ipa Di Sd Melalui Pendekatan Sains Teknologi Masyarakat - 03
21. Prop. Penelitian Tindakan Kelas Peningkatan Pembelajaran Matematika Di Sd Melalui Penggunaan
Alat Peraga Secara Efektif – 01
22. Prop. Penelitian Tindakan Kelas Upaya Meningkatkan Kemampuan Menulis Karangan Bahasa
Indonsesia Sd Dengan Mengefektifkan Penggunaan Media Gambar Seri – 04
23. Usulan Penelitian Tindak Kelas Peningkatan Motivasi Belajar Siswa Dalam Mata Pelajaran Ppkn.
Melalaui Model Pembelajaran Berbasis Portopolio Di Kelas 11 – A Sltpn 12 Bandung -03
24. Prposalpenelitian Tindakan Kelas Upaya Meningkatkan Motivasi Belajar Ipa Melalui Model
Pembelajaran Quantum Teaching – 04
25. Proposal Penelitian Tindakan Kelas Upaya Meningkatkan Keaktifan Siswa Dalam Pembelajaran Ipa
Di Sd Melalu Pendekatan Inkuiri – 04
26. Proposal Penelitian Upaya Meningkatakan Kreativitas Siswa Dalam Pembelajaran Ipa Menggunakan
Model Pembelajaran Konstruktivisme - 04
27. Proposal Penelitian Tindakan Kelas Upaya Meningkatkan Pemahaman Siswa Dalam Pembelajaran Ipa
Dengan Metode Demonstrasi -04
28. Proposal Upaya Meningkatkan Efektifitas Pembelajaran Bahasa Inggris Sebagai Pelajaran Muatan
Lokal Di Sdn Percobaan 4 Wates – 01
29. Proposal Penelitian Tindak Kelas Upaya Mengoptimalkan Bimbingan Konseling Di Sd Untuk
Mengatasi Kesulitan Belajar Anak -04
30. Prop. Penelitian Tindakan Kelas Peranan Alat Peraga Terhadap Peningkatan Minat Belajar Matematika
- 01
31. Prop. Penelitian Tindakan Kelas Upaya Peningkatan Kemampuan Bahasa Lisan (Berbicara) Melalui
________________________________________
Page 3
Metode Sosiodrama - 03
32. Prop. Penelitian Tindakan Kelas Upaya Mengatasi Kesulitan Belajar Membaca Melalui
Pengintegrasian Permainan Dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia - 03
33. Prop. Penelitian T. Kelas Peranan Penggunaan Metode Ceramah Dan Tanya Jawab Terhadap
Peningkatan Prestasi Belajar Mata Pelajaran Ips Terpadu Kelas Vi Cawu I Sd Muhammadiyah 4
Surakarta Th Pelajaran 2001/2002 - 01
34. Prop. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Keaktifan Murid Dalam Kegiatan Belajar Mengajar Ditinjau
Dari Penggunaan Media Dan Kondisi Kelas Pada Sekolah Dasar - 01
35. Laporan Penelitian Tindakan Kelas Melalui Perpustakaan Dapat Meningkatkan Belajar Bagi Siswa Di
Kelas Iv - 01
36. Prop. Penelitian Tindakan Kelas Upaya Meningkatkan Kedisiplinan Siswa Melalui Keteladanan Guru
Sdn I Bandingan - 03
37. Prop. Penelitian Tindakan Kelas Upaya Meningkatkan Prestasi Mata Pelajaran Matematika Melalui
Penerapan Pendekatan Mastery Learning - 04
38. Prop. Penelitian Upaya Mengatasi Kesulitan Belajar Melalui Pemberian Bimbingan Belajar Di Sd
Wanigiri Kab. Kulon Progo Yk - 04
39. Prop. Penelitian Efektivitas Penggunaan Media Gambar Seri Guna Meningkatkan Kemampuan
Menulis Karangan Bahasa Indonesia Siswa Kelas Iv Sdn Pujokusuman Iii Yk - 01
40. Prop. Penelitian Tindakan Kelas Meningkatkan Ketrampilan Siswa Melalui Optimalisasi Perpaduan
Hands-On Dan Minds-On Menggunakan Kit Ipa Dalam Pembelajaran Ipa Di Sdn Gumiwang - 03
41. Prop. Penelitian Upaya Mengatasi Masalah Belajar Siswa Kelas Iii Melalui Bimbingan Belajar Di Sdn
Karangkobar I - 03
42. Prop. Penelitian Tindakan Kelas Upaya Meningkatkan Motivasi Belajar Ipa Dengan Pendekatan (Stm)
Sains Teknologi Masyarakat - 03
43. Prop. Penelitian Tindakan. Kelas Peranan Hadiah Sebagai Perangsang Timbulnya Kompetisi Dalam
Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Sd – 01
44. Prop. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Keaktifan Murid Dalam Kegiatan Belajar Mengajar Ditinjau
Dari Penggunaan Media Dan Kondisi Kelas Pada Sekolah Dasar - 01
45. Prop. Penelitian Tindakan Kelas Peranan Metode Inkuiri Dan Alat Peraga Tiga Dimensi Dalam
________________________________________
Page 4
Peningkatan Prestasi Pembelajaran Ipa Di Kelas Iv Sd - 03
46. Prop. Penelitian Tindakan Kelas Upaya Meningkatkan Prestasi Belajar Ipa Di Kelas Iv Sdn I Babadan
Dengan Model Pembelajaran Kostruktivisme - 03
47. Prop. Penelitian Tindakan Kelas Upaya Meningkatkan Keaktifan Belajar Matematika Pada Anak Kelas
V Sdn Singamerta I Melalui Metode Inkuiri - 03
48. Prop. Penelitian T. Kelas Peranan Penggunaan Metode Ceramah Dan Tanya Jawab Terhadap
Peningkatan Prestasi Belajar Mata Pelajaran Ips Terpadu Kelas Vi Cawu I Sd Muhammadiyah 4
Surakarta Th Pelajaran 2001/2002 - 01
49. Faktor-Faktor Yang Memepngaruhi Minat Siswa Kelas I Smk Piri I Yk Dalam Pemilihan Program
Keahlian - 05
50. Peranan Motivasi Guru Dalam Penggunaan Alat Olahraga Untuk Meningkatkan Prestasi Siswa Di Sd
Kepundung - 01
51. Prop. Penelitian T. Kelas Peranan Penggunaan Metode Ceramah Dan Tanya Jawab Terhadap
Peningkatan Prestasi Belajar Mata Pelajaran Ips Terpadu Kelas Vi Cawu I Sd Muhammadiyah 4
Surakarta Th Pelajaran 2001/2002 - 01
52. Prop. Penelitian Pengaruh Perilaku Anak Yang Menyimpang Terhadap Keberhasilan Proses
Pembelajaran Di Sdn Dukuh Ii Yk Pada Murid Kelas I Cawu 2 Th Pelajaran 2001/2002 – 01
53. Prop. Penelitian Tindakan Kelas Efektivitas Pembelajaran Bahasa Dengan Pendekatan Komunikatif -
04
54. Prop. Penelitian Tindakan Kelas Upaya Meningkatkan Motivasi Belajar Bahasa Indonesia Dengan
Pendekatan Terpadu Siswa Kelas Ii-B Sdn Wonolelo I Th 2003/2004 - 04
55. Prop. Laporan Hasil Uji Coba Tes Di Sdn Sangkarayu Mbrebet Purbalingga Jateng - 03
56. Prop. Penelitian Tindakan Kelas Peranan Kewibawaan Guru Dalam Meningkatkan Kedisplinan Kelas -
03
57. Prop. Penelitian Tindakan Kelas Upaya Meningkatkan Minat Belajar Ppkn Dengan Kbk Pada Siswa
Kelas Iv Sdn Jati Ii Kec. Sawangan Kab. Magelang Th 2003/2004 - 04
58. Prop. Upaya Peningkatan Efektivitas Pembelajaran Bahasa Inggris Sebagai Pelajaran Muatan Lokal Di
Sdn Percobaan 4 Wates - 01
59. Prop. Kelas Melalui Perpustakaan Dapat Meningkatkan Belajar Bagi Siswa Di Kelas Iv - 01
________________________________________
Page 5
60. Prop. Penelitian Tindakan Kelas Peranan Alat Peraga Terhadap Peningkatan Minat Belajar Matematika
- 01
61. Prop. Penelitian Tindakan Kelas Peningkatan Prestasi Belajar Matematika Melalui Penggunaan Media
Pengajaran (Alat Peraga) - 01
62. Prop. Penelitian Tindakan Kelas Upaya Meningkatkan Keaktifan Belajar Matematika Pada Anak Kelas
V Sdn Singamerta I Melalui Metode Inkuiri - 03
63. Prop. Penelitian Tindakan Kelas Upaya Peningkatan Kreativitas Siswa Kelas Iv Sdn Kutayasa I Dalam
Pembelajaran Ipa Dengan Metode Diskoveri-Inkuiri - 04
64. Prop. Penelitian Upaya Keaktifan Siswa Belajar Ipa Kelas Iv Sd Pesangkalan Ii Melalui Pendekatan
Ketrampilan Proses - 04
65. Prop. Penelitian Tindakan Kelas Upaya Peningkatan Motivasi Belajar Matematika Dengan Media
Pengajaran Di Sd Gondangsari Iv Kelas Iv - 04
66. Prop. Penelitian Meningkatkan Gairah Belajar Siswa Dalam Pembelajaran Ips Dengan Menggunakan
Media Gambar - 01
67. Laporan Hasil Observasi Penataan Kelas Di Tk Aba Godongkuning Banguntapan - 02
68. Prop. Penelitian Tindakan Kelas Upaya Meningkatkan Kemampuan Menulis Karangan Bahasa
Indonesia Siswa Kelas Iv Sdn Pucang 02 Banjarnegaramelalui Penggunaan Media Gambar Seri - 04
69. Pembelajaran Bahasa Terpadau Dapat Meningkatkan Kemampuan Berbsa Siswa Sd Di Kelas 2 Sdn
Wanolelo I Sawangan Magelang - 03
70. Prop. Penelitian Tindakan Kelas Upaya Meningkatkan Motivasi Kemampuan Berbicara Siswa Melalui
Metode Diskusi Dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas V Sdn Bongkot - 05
71. Prop. Penelitian Tindakan Kelas Upaya Meningkatkan Kemampuan Pemahaman Konsep Matematika
Dengan Menggunakan Metode Pembelajaran - 05
72. Prop. Penelitian Tindakan Kelas Upaya Meningkatkan Motivasi Belajar Ipa Melalui Metode Quantum
Teaching - 05
73. Prop. Penelitian Tindakan Kelas Upaya Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Dengan Pemberian
Penguatan - 05
74. Prop. Penelitian Tindakan Kelas Upaya Meningkatkan Daya Kreativitas Pada Anak Sd Melalui
Metode Pemberian Tugas - 05
________________________________________
Page 6
75. Prop. Penelitian Tindakan Kelas Upaya Meningkatkan Ketrampilan Menulis Lanjut Melalui Media
Gambar - 05
76. Upaya Menimbulkan Keantusiasan Siswa Dalam Pembelajaran Apresiasi Sastra Indonesia Di Sd
Melalui Metode Quantum
77. Prop. Penelitian Tindakan Kelas Evaluasi Efektivitas Penggunaan Metode Pembelajaran Pkps Di Kelas
V Sdn Godongkiwo - 06
78. Prop. Penelitian Tindakan Kelas Upaya Peningkatan Kreativitas Siswa Melalui Bimbingan Karir Di
Sdn Kedung Pomahan Desa Kedung Pomahan Kec. Kemiri Kab. Purworejo – 06
79. Upaya Meningkatkan Penerapan Konsep Pelajaran Ppkn Melalui Model Pembelajaran Berbasis
Portofolio Dengan Pendekatan Sains Teknologi Masyarakat – 05
80. Upaya Menimbulkan Keantusiasan Siswa Dalam Pembelajaran Apresiasi Sastra Indonesia Di Sd
Melalui Metode Quantum Teaching - 06
81. Prop. Penelitian Tindakan Kelas Upaya Mengatasi Kenakalan Anak Yang Mencari Perhatian Di Kelas
Ii Sdn Ngupasan Purworejo Dengan Bimbingan Moral - 05
82. Prop. Penelitian Tindakan Kelas Upaya Peningkatan Kreativitas Siswa Melalui Bimbingan Karir Di
Sdn Krakitan Iii Kec. Bayat Kab. Klaten – 06
83. Makalah Penelitian Tindakan Kelas Upaya Meningkatkan Minat Siswa Belajar Ekonomi Melalui
Metode Pemberian Tugas Terstruktur Prapembelajaran - 06
84. Prop. Penelitian Upaya Meningkatkan Keaktifan Belajar Ipa Dengan Pendekatan Ketrampilan Proses
Di Sd Plipir Purworejo - 05
85. Penelitian Tindakan Kelas Upaya Meningkatkan Minat Siswa Terhadap Pelajaran Matematika Melalui
Pendekatan Cooperative Learning - 04
86. Prop. Penelitian Tindakan Kelas Upaya Meningkatkan Kemampuan Mengungkapkan Pendapat Dalam
Pelajaran Bahasa Indonesia Dengan Metode Diskusi Pada Siswa Kelas Iv Sdn Jatimulyo Kebumen –
04
87. Prop. Penelitian Upaya Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Ipa Melalui Pendekatan Ketrampilan
Proses - 04
88. Prop. Penelitian Upaya Meningkatkan Ketrampilan Berbahasa Lisan Siswa Kelas V Sd Mi Maarif
Ambarketawang Menggunakan Metode Diskusi Th Pelajaran 2004/2005 - 04
________________________________________
89. Prop. Penelitian Upaya Meningkatkan Pemahaman Siswa Melalui Cara Repetitif Atau Pengulangan
Dalam Pelajaran Matematika – 03/04
90. Prop. Penelitian Tindakan Kelas Peningkatan Keberwacanaan Melalui Efektivitas Sastra Siswa Kelas
Iii Sd - 03
91. Prop. Penelitian Tindakan Kelas Melalui Alat Peraga Gambar Untuk Meningkatkan Minat Belajar
Membaca Permulaan Siswa Kelas Ii Sdn I Kemangkon - 03
92. Prop. Penelitian Tindakan Kelas Upaya Meningkatkan Belajar Mengajar Yang Efektif Dalam
Pembelajaran Ipa Di Kelas Vi Dengan Sistem Cara Belajar Siswa Aktif (Cbsa) - 03
93. Prop. Penelitian Tindakan Kelas Upaya Meningkatkan Ketrampilan Menulis Siswa Di Kelas V Sd
Melalui Pembelajaran Holistik - 03
94. Prop. Penelitian Tindakan Kelas Upaya Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Melalui Pemberian
Penguatan Di Sdn I Grantung - 03
95. Prop. Penelitian Upaya Guru Untuk Meningkatkan Kemampuan Mengarang Dengan Media Gambar
Berseri Di Sdn Bapangsari Purworejo - 04
Minggu, 05 April 2009
CONTOH PENELITIAN DENGAN ANALISIS KUALITATIF
FAKTOR PENYEBAB SUAMI MEMILIH ALAT KONTRASEPSI KONDOM DAN TIDAK MEMILIH ALAT KONTRASEPSI KONDOM (ANALISIS KUALITATIF)
Oleh: Arief (Embah Budie). Untuk Lebih Mendetail Hub: ebd_osama@yahoo.com
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Perkembangan penduduk saat ini terus mengalami peningkatan yang begitu pesat. Pada zaman batu jumlah penduduk dunia ditaksir tidak lebih dari 10 juta. Pada awal tahun Masehi jumlah manusia sekitar 200-300 juta orang, sedang pada tahun 1650 jumlah penduduk dunia menjadi 500 juta orang. Hal ini berarti pelipatan 50 kali dalam waktu 80-100 abad sesudah zaman batu. Namun ini belum seberapa jika dibandingkan dengan peledakan penduduk yang terjadi kemudian. Pada 1830 jumlah penduduk telah meningkat menjadi 1 milyar orang. Seratur tahun kemudian, pada 1830, sudah meningkat menjadi 1 milyar orang. Seratur tahun kemudian, pada tahun 1930, sudah menjadi 2 milyar orang. Pada tahun 1975 berlipat dua kali menjadi 4 milyar orang. Tahun 1989 penduduk dunia telah mencapai 5,2 milyar. Kemudian setiap tahunnya meningkat dengan lebih dari 90 juta. Pada akhir abad ini jumlah penduduk dunia diperkirakan akan menjadi 6,25 milyar. Pada tahun 2025 diperkirakan akan bertambah sebesar 2 milyar atau menjadi 8,5 milyar. Selanjutnya seabad dari sekarang penduduk dunia baru akan berhenti tumbuh pada angka 10 milyar (Wiknjosastro, dkk. 2005: 900).
Di Indonesia berdasarkan hasil akhir Sensus Penduduk tahun 2000 yang baru saja diumumkan oleh pemerintah, Prof. Dr. Haryono Suyono, seorang Pengamat Masalah Sosial Kemasyarakatan (dalam http://www.haryono.com, 2008) mengungkapkan dari hasil pengumuman sensus itu jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2000 adalah 206,3 juta jiwa. Pengumuman itu sekaligus juga menjelaskan bahwa penduduk Indonesia makin mendekati penduduk negara maju karena angka jumlah penduduk di daerah perkotaan telah naik menjadi sekitar 45 persen dan angka pertumbuhan penduduk rata-rata selama sepuluh tahun terakhir adalah sekitar 14,9 persen.
Jumlah penduduk Provinsi Lampung pada tahun 2000 sebanyak 6.649.181 jiwa, tahun 2001 sebanyak 6.780.260 jiwa, tahun 2002 sebanyak 6.787.655 jiwa, tahun 2003 sebanyak 6.852.998 jiwa dan pada tahun 2004 menjadi 6.983.700 jiwa. Pertumbuhan penduduk pada periode 2000-2004 rata-rata sebesar 0,99 %. Pada tahun 2007 penduduk Provinsi Lampung diprediksi menjadi 6.996.700 jiwa. Untuk wilayah Kota Metro berdasarkan pendataan terakhir yang dilakukan Disnakersos pada tahun 2006 lalu, jumlah penduduk di Kota Metro sebanyak 152 ribu jiwa.
Dari peningkatan jumlah penduduk yang cukup pesat seperti yang telah diuraikan di atas, maka pemerintah Indonesia khususnya terus berupaya untuk meningkatkan kualitas program Keluarga Berencana. Program Keluarga Berencana selama lebih dari 30 tahun, telah berhasil menurunkan tingkat fertilitas 5,2 pada tahun 1975 menjadi hanya 2.6 per tahun 2002/2003. Apabila dianalis lebih mendalam, ternyata keberhasilan tersebut belum merata. Tingkat fertilitas pada keluarga miskin ternyata lebih tinggi dibandingkan dengan keluarga yang tingkat ekonominya lebih tinggi, berturut-turut tingkat fertilitas tersebut adalah 3.0 dan 2.2.
Faktor tersebut menjadi salah satu dasar dari kebijakan program KB yang lebih memfokuskan pelayanan KB kepada keluarga miskin. Salah satu upaya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat miskin akan pelayanan KB, adalah dengan cara memperluas akses pelayanan baik melalui jaringan pelayanan yang dipunyai pemerintah, maupun jaringan pelayanan swasta. Kebijakan tersebut dijabarkan antara lain kesepakatan bersama antara BKKBN dengan Muslimat Nahdatul Ulama (tahun 2004), Ikatan Bidan Indonesia (tahun 2004), Majelis Kesehatan dan Kesejahteraan Masyarakat Muhammadyah/Aisiyah (tahun 2004), Kepolisian Negara Republik Indonesia (tahun 2004), dan Tentara Nasional Indonesia (tahun 2004).
Tahun-tahun belakangan ini, banyak program-program keluarga berencana dan kesehatan reproduksi tertarik kepada topik laki-laki. Partisipasi Pria Dalam KB Merupakan Manifestasi Kesetaraan Gender Ketidaksetaraan gender dalam bidang KB dan Kesehatan Reproduksi sangat berpengaruh pada keberhasilan program. Sebagian besar masyarakat dan provider serta penentu kebijakan masih mengganggap bahwa penggunaan kontrasepsi adalah urusan perempuan. Oleh karena itu, peserta KB pria di Indonesia masih sangat rendah yaitu masih di bawah 2 persen. Meskipun rendahnya pengguna kontrasepsi berkaitan dengan pula dengan keterbatasan teknik kontrasepsi yang tersedia bagi pria, angka ini menunjukkan bahwa kepedulian pria terhadap keluarga berencana masih rendah. Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) tahun 2004-2009 salah satu indikator keberhasilan BKKBN adalah tercapainya kesertaan KB pria sebesar 4,5 persen pada tahun 2009.
Penggunaan kondom di Indonesia masih dinilai kurang signifikan jika dibandingkan dengan jumlah penduduk yang besar dan laju penyebaran Infeksi Menular Seksual (IMS), termasuk HIV/AIDS, yang tinggi. Tingkat penggunaan kondom yang dinilai masih rendah tersebut disebabkan oleh beberapa alasan. Pertama, lingkungan sosial yang masih belum sepenuhnya mendukung membuat stigma terhadap kondom tidak kunjung hilang. Kedua, pengetahuan dan kesadaran yang masih perlu ditingkatkan tentang manfaat penggunaan kondom. Ketiga, rendahnya kesadaran pentingnya penggunaan kondom bagi kesehatan pribadi maupun pasangan untuk mencegah HIV/AIDS atau kehamilan yang tidak terencana. Untuk itu berbagai pihak, antara lain KPA Nasional bersama DKT Indonesia, dengan mengundang partisipasi aktif berbagai organisasi dan instansi lainnya, mengadakan program edukasi penggunaan kondom di Indonesia untuk membuka wawasan masyarakat mengenai pentingnya penggunaan kondom sebagai perlindungan diri. Demi menyatukan visi mengenai hal ini, hendaknya diadakan suatu kampanye nasional agar menjadi momentum yang memberikan pandangan yang menyeluruh kepada semua instrumen bangsa akan pentingnya penggunaan kondom. Adapun kampanye tersebut akan menjadi kesempatan yang sangat baik bagi seluruh organisasi yang peduli terhadap pencegahan HIV/AIDS dan kehamilan yang tidak terencana, untuk tidak hanya meningkatkan pengetahuan masyarakat namun juga membangkitkan kesadaran kolektif maupun individu, serta keinginan untuk mengadopsi perilaku seksual yang lebih aman, untuk turut serta menjaga diri dan sesama dari penyebaran virus tersebut. Berbagai kegiatan edukatif maupun atraktif bisa dilakukan dalam naungan kampanye nasional yang akan disebut sebagai “Pekan Kondom Nasional (National Condom Week) 2007”.
Di wilayah Propinsi Lampung saat ini pengguna kondom sangat rendah. Penggunaan kontrasepsi oleh peserta KB aktif didominasi oleh Pil 35,90%, suntik 39,08%, IUD 13,01%, Inplan 12,80%, MOP 2,85%, dan Kondom 0,34% (BKKBN, 2006). Sedangkan untuk wilayah Kota Metro pengguna alat kontrasepsi peserta KB aktif yaitu Pil 17,04%, suntik 63,79%, inplan 7,18%, IUD 8,21%, MOW 1,8% MOP 1,27%, dan kondom 0,68% (BPS, 2007).
Data di atas menunjukkan bahwa pengguna alat kontrasepsi kondom untuk Wilayah Kota Metro masih sangat rendah. Sebagaimana hasil pra survey yang peneliti lakukan pada 5 Kecamatan di Kota Metro ada dua Kecamatan yang tidak terdapat pengguna alat kontrasepsi kondom yaitu Kec. Metro Selatan, dan Wilayah Metro Utara. Sementara untuk Wilayah Kecamatan Barat terdapat 1,2%, Kec. Metro Timur 0,9% dan Kec. Metro Pusat 1,0%. Dari data tersebut penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan menggunakan pendekatan kualitatif terhadap suami pengguna kondom di wilayah Kecamatan Metro Timur untuk mengetahui secara mendalam mengenai sebab-sebab suami memilih alat kontrasepsi kondom dan suami yang tidak menggunakan alat kontrasepsi kondom.
B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas, maka dapat diketahui bahwa masih rendahnya penggunakan alat kontrasepsi kondom di Wilayah Kecamatan Metro Timur yang baru mencapai 0,9%. Berdasarkan uraian tersebut maka rumusan masalah penelitian adalah ingin mengetahui lebih mendalam mengenai faktor penyebab suami memilih alkon kondom dan tidak memilih alkon kondom.
C. Ruang Lingkup Penelitian
Jenis Penelitian : Deskriptif dengan Pendekatan Kualitatif
Subyek : Suami pengguna alat kontrasepsi kondom dan suami yang tidak menggunakan alkon kondom.
Objek : Faktor penyebab suami memilih alat kontrasepsi kondom dan suami tidak memilih alat kontrasepsi kondom.
Lokasi Penelitian :
Waktu : April s.d Mei 2008.
Alasan Penelitian : Masih rendahnya pengguna alat kontrasepsi kondom di wilayah ...
D. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Secara umum, tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran secara mendalam mengenai faktor penyebab suami memilih alat kontrasepsi kondom dan tidak memilih alat kontrasepsi kondom.
2. Tujuan Khusus
Secara khusus, tujuan penelitian ini adalah:
a. Ingin mengetahui lebih mendalam tentang pengetahuan suami pemakai kondom dan yang tidak memakai kondom.
b. Ingin mengetahui lebih mendalam tentang sosial dan budaya suami pemakai kondom dan yang tidak memakai kondom.
c. Ingin mengetahui lebih mendalam mengenai masalah persamaan gender terhadap suami pemakai kondom dan yang tidak memakai kondom.
d. Ingin mengetahui lebih mendalam tentang tempat dan jarak yang ditempuh untuk mendapatkan alat kontrasepsi kondom
e. Ingin mengetahui lebih mendalam tentang dukungan istri/keluarga terhadap suami pemakai kondom dan yang tidak memakai kondom.
f. Ingin mengetahui lebih mendalam tentang sikap petugas kesehatan terhadap suami pemakai kondom dan yang tidak memakai kondom.
TINJAUAN PUSTAKA
A. Telaah Pustaka
1. Keluarga Berencana
a. Pengertian Keluarga Berencana
Menurut Hartanto (2003: 26) keluarga berencana adalah tindakan yang membantu individu atau pasangan suami istri untuk:
1) Mendapatkan objektif-objektif tertentu
2) Menghindari kelahiran yang tidak diinginkan
3) Mendapatkan kelahiran yang memang diinginkan
4) Mengatur interval di antara kehamilan
5) Mengontrol waktu saat kelahiran dalam hubungan dengan umur suami istri.
6) Menentukan jumlah anak dalam keluarga.
b. Tujuan Keluarga Berencana Nasional
Tujuan Gerakan KB Nasional adalah mewujudkan keluarga kecil bahagia sejahtera yang menjadi dasar bagi terwujudnya masyarakat yang sejahtera melalui pengendalian kelahiran dan pertumbuhan penduduk Indonesia. Sedangkan sasaran dari gerakan KB Nasional adalah (1) pasangan usia subur dengan prioritas PUS muda dengan paritas rendah, (2) generasi muda dan purna PUS, (3) pelaksana dan pengelola KB, (4) sasaran wilayah, yaitu wilayah dengan laju pertumbuhan penduduk tinggi dan wilayah khusus seperti sentra industri, permukiman padat, daerah kumuh, daerah pantai, dan daerah terpencil (Wiknjosastro, 2005: 903).
2. Kontrasepsi
a. Pengertian Kontrasepsi
Kontrasepsi adalah upaya untuk mencegah terjadinya kehamilan. Upaya ini dapat bersifat sementara dapat pula bersifat permanen. Penggunaan alat kontrasepsi merupakan salah satu variabel yang mempengaruhi fertilitas.
b. Kontrasepsi Pria
Dalam usaha meningkatkan keluarga berencana nasional, peranan pria sangat penting dan menentukan. Sebagai kepala keluarga, pria merupakan tulang punggung keluarga dan selalu terlibat untuk mengambil keputusan tentang kesejahteraan keluarga termasuk untuk menentukan jumlah anak yang diinginkan. Dengan demikian, telah dikembangkan bentuk kontrasepsi pria seperti: (1) kondom, (2) pengendalian hubungan seks (pantang berkala, senggama terputus), (3) pemakaian hormone, (4) penutupan vas deferen reversible dengan karet silicon dan (5) medis operasi pria (Manuaba, 1998: 478).
1) Kondom
a) Pengertian kondom
Kondom adalah salah satu alat kontrasepsi yang terbuat karet/lateks, berbentuk tabung tidak tembus cairan dimana salah satu ujungnya tertutup rapat dan dilengkapi kantung untuk menampung sperma.
Kondom merupakan selubung/sarung karet yang dapat terbuat dari berbagai bahan di antaranya lateks (karet) plastik (vinil) atau bahan alami (produksi hewani) yang dipasang pada penis saat hubungan seksual. Kondom terbuat dari karet (Saifuddin, dkk. 2003: MK 16).
b) Jenis-jenis Kondom
Pada dasarnya ada 2 jenis kondom, yaitu kondom kulit dan kondom karet. Kondom kulit dibuat dari usus domba dan kondom karet lebih elastis, murah, sehingga lebih banyak dipakai dan pada kondom karet banyak ditambahkan bahan lain baik untuk meningkatkan efektifitasnya maupun aksesoris aktivitas seksual.
Untuk memenuhi kebutuhan psikologis dan fisiologis akseptor KB, kondom saat ini dibuat dalam berbagai aneka model, seperti:
- Transparan
- Berwarna (merah, hitam, biru, hijau, kuning dan lain-lain)
- Berujung datar atau berujung kantong/reservoir
- Kering/berpelumas (non-toksik/non-irritans)
- Bermacam-macam ukuran.
c) Cara Kerja
- Kondom menghalangi terjadinya pertemuan sperma dan sel telur dengan cara mengemas sperma di ujung selubung karet yang dipasang pada penis sehingga sperma tersebut tidak tercurah ke dalam saluran reproduksi perempuan.
- Mencegah penularan mikroorganisme (IMS termasuk HBV dan HIV/AIDS) dari satu pasangan ke pada pasangan yang lain.
d) Cara Pengggunaan Kondom
- Pegang bungkus kondom dengan kedua belah tangan, lalu dorong kondom dengan jari ke posisi bawah. Tujuannya agar tidak tersobek saat membuka bungkusnya. Selanjutnya sobek bagian atas bungkus kondom
- Dorong kondom dari bawah agar keluar dari bungkusnya, kemudian pegang kondom dan perhatikan bagian yang menggulung harus berada di sebelah luar
- Pencet ujung kondom dengan ibu jari dan telunjuk agar tidak ada udara yang masuk dan letakan pada kepala penis.
- Pada saat kondom dipasang, penis harus dalam keadaan tegang (ereksi). Pasanglah kondom dengan menggunakan telapak tangan untuk mendorong gulungan kondom hingga pangkal penis (jangan menggunakan kuku karena kondom dapat robek).
- Setelah ejakulasi, cabut penis dari vagina ketika masih ereksi, dan tahan kondom di pangkal penis dengan jari agar kondom tidak lepas dan tidak meninggalkan air mani di vagina
- Setelah menggunakan, ikat kondom agar cairan sperma tidak keluar. Kondom bekas langsung dibuang ke tempat yang seharusnya, untuk mencegah mengkontaminasi orang lain, terutama anak-anak.
e) Waktu Penggunaan Kondom
Kondom dapat dipakai jika:
- Bila hubungan seksual dilakukan pada saat istri sedang dalam masa subur
- Bila istri tidak cocok dengan semua jenis alat/metode kontrasepsi
- Setelah vasektomi kondom perlu dipakai sampai enam minggu
- Sementara menunggu penggunaan metode/alat kontrasepsi lainnya
- Bagi calon peserta Pil KB yang sedang menunggu haid
- Apabila lupa minum pil KB dalam jangka waktu lebih dari 36 jam
- Apabila salah satu dari pasangan suami istri menderita Penyakit Menular Seksual termasuk HIV/AIDS
- Dalam keadaan tidak ada kontrasepsi lain yang tersedia atau yang dipakai pasangan suami istri
- Sementara menunggu pencabutan implant/susuk KB/alat kontrasepsi bawah kulit, bila batas pemakaian implant telah habis.
f) Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan kondom
- Periksalah tanggal kadaluwarsa pada bungkus kondom. Periksalah kondisi bungkus kondom, jangan menerima atau membeli kondom yang bungkusnya sudah rusak, ada gelembung udara di dalamnya dan berlubang
- Gunakan kondom baru setiap kali bersanggama
- Hati-hati membuka bungkus kondom, jangan sampai kondom sobek.
- Pasang kondom sebelum kontak genital, untuk mencegah masuknya sperma atau bibit penyakit ke dalam vagina, (atau sebaliknya)
- Hati-hati dalam memasang dan melepaskan kondom bagi mereka yang memiliki kuku panjang atau cincin dengan bagian yang tajam
- Jika pelican yang ada pada kondom dirasa kurang, gunakan lubrikan atau jelly yang dianjurkan. Jangan gunakan bahan-bahan seperti vaselin, lotion, atau produk minyak lainnya, karena dapat meningkatkan kemungkinan robeknya kondom.
- Bila kondom pecah atau robek selama senggama, gunakan segera spermisida (busa atau gel), dan pertimbangkan menggunakan kontrasepsi darurat, untuk mencegah terjadinya kehamilan.
- Simpan persediaan kondom di tempat yang sejuk dan kering. Jauhkan kondom dari sinar lampu neon, dan letakan di tempat yang tidak terkena matahari langsung atau di tempat yang panas.
- Sebaiknya tidak meletakan kondom di saku celana, karena suhu tubuh dapat mempengaruhi kualitas kondom. Jangan gunakan kondom bila terlihat rusak atau lapuk, karena cenderung robek
g) Kelebihan Penggunaan Kondom
- Efektif sebagai alat kontrasepsi bila dipakai dengan baik dan benar
- Murah dan mudah didapat tanpa resep dokter dan dapat didistribusikan oleh dan untuk masyarakat (community based)
- Praktis dan dapat dipakai sendiri
- Tidak ada efek hormonal
- Dapat mencegah kemungkinan penularan Penyakit Menular Seksual termasuk HIV/AIDS
- Mudah dibawa
- Kondom menggunakan pelicin/pelumas sehingga dapat menambah frekuensi hubungan seksual dan secara psikologis menambah kenikmatan
- Kondom membantu suami yang mengalami ejakulasi dini.
- Adanya jaminan pengawasan kualitas produksi bahwa produk layak dipasarkan. Sebelum dipasarkan kondom harus diuji di laboratorium dan harus memenuhi Standar Internasional yang ditetapkan oleh ISO (International Organitation Standardization), CEN (Comitee European de Normalization), dan ASTM (American Socienty for Testing and Materials).
2) Pantang Berkala
Metode pantang berkala dikenal dengan 2 sistem, yaitu menggunakan sistem kalender dan menggunakan penilaian suhu basal. Sistem kalender memerlukan sistem menstruasi yang teratur sehingga dapat memperhitungkan masa subur untuk menghindari kehamilan dengan tidak melakukan hubungan seks. Masa subur wanita dapat dihitung dengan melakukan perhitungan minggu subur, yaitu sebagai berikut: (1) menstruasi wanita teratur antara 26 sampai 30 hari. (2) masa subur dapat diperitungkan, yaitu menstruasi hari pertama ditambah 12 hari pertama menstruasi ditambah 19. (3) puncak minggu subur adalah hari pertama menstruasi di tambah 12. sistem pantang berkala dengan kalender mempunyai kegagalan berkisar 15 sampai 20%.
Pantang berkala dengan sistem pengukuran suhu basal memerlukan pengetahuan dan metode pengukuran yang akura, sehingga dapat bermanfaat. Kelemahan sistem pantang berkala adalah pengukuran suhu basal merepotkan dan tidak akurat, hanya dapat digunakan oleh orang yang terdidik dan berguna pada siklus menstruasi 20 sampai 30 hari.
3) Metode Senggama Terputus
Metode senggama terputus adalah mengeluarkan kemaluan menjelang terjadinya ejakulasi. Kekurangan metode ini adalah mengganggu kepuasan kedua belah pihak.
4) Metode operasi pria
Operasi pria yang dikenal dengan nama vasektomi merupakan operasi ringan, murah, aman, dan mempunyai arti demografis yang tingi, artinya dengan operasi ini kelahiran dapat dihindari (Manuaba, 1998: 481).
3. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Penggunaan Kondom
Tahun-tahun belakangan ini, banyak program-program keluarga berencana dan kesehatan reproduksi tertarik kepada topik laki-laki dan kesehatan reproduksi. Program-program tersebut melihat bahwa laki-laki mempunyai pengaruh yang penting dalam kesehatan perempuan dan anak-anak maupun kebutuhan kesehatan reproduksinya sendiri. Dalam beberapa situasi lain, laki-laki juga dapat berperan sebagai pengantar ibu ke pelayanan kesehatan reproduksi.
Program-program tersebut juga harus menemukan cara bagaimana mengatasi beberapa tantangan yang spesifik atau penghalang yang berkaitan dengan laki-laki, termasuk:
a. Kurangnya informasi tentang perspektif laki-laki yang dapat digunakan untuk membantu merancang program-program yang sesuai.
b. Ketidaknyamanan laki-laki; karena selama ini mereka tidak termasuk ke dalam pelayanan, banyak diantara mereka merasa bahwa pelayanan tersebut bukan tempatnya atau merasa tidak diperhatikan dalam klinik-klinik kesehatan reproduksi.
c. Keterbatasan metode kontrasepsi yang ada untuk laki-laki.
d. Sikap negatif dari para pembuat kebijakan dan provider pelayanan terhadap laki-laki.
e. Kebijakan-kebijakan yang tidak mendukung, seperti larangan terhadap iklan kondom.
f. Sumber daya yang terbatas, seperti kurangnya staf laki-laki terlatih, klinik untuk laki-laki, jam-jam yang sesuai atau pelayanan yang berbeda untuk laki-laki.
Selain faktor-faktor di atas, ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi penggunaan alat kontrasepsi khususnya kondom, di antaranya:
a. Sosial dan Budaya
Para peneliti mengemukakan bahwa ternyata faktor sosial dan kebudayaan bisa menjadi penyebab kalangan muda enggan menggunakan kondom saat berhubungan seksual. Dalam penelitian yang dilakukan terhadap kalangan muda berusia di bawah 25 tahun, ada yang merasa tak percaya dengan ‘alat pengaman’ tersebut dan juga ada yang berpikiran bahwa dengan selalu membawa kondom akan mempengaruhi pengalaman dan sensasi yang mereka dapatkan dalam melakukan kegiatan seksual. Dalam tinjauan terhadap 250 penelitian perilaku seksual kalangan muda, para peneliti di London School of Hygiene and Tropical Medicine menemukan kesamaan mendasar, yang mempengaruhi perilaku seksual kalangan di beberapa negara berbeda.
b. Pengetahuan
Pengetahuan dan sikap PUS tentang metode KB pria masih belum seimbang. Hal ini ditunjukkan bahwa pengetahuan wanita pernah kawin dan berstatus kawin tentang MOP/vasektomi sebesar 39 persen, sedangkan pengetahuan prianya hanya 31,9 persen. Pengetahuan wanita tentang kondom sebesar 76,3 persen dan prianya sebesar 82,3 persen.
c. Sikap
Sikap pria dan wanita dalam hal KB sangat bertolak belakang. Data menunjukkan bahwa 9 orang dari 10 orang suami setuju istri pengetahuan dan sikap PUS tentang metode KB pria masih belum seimbang. Hal ini ditunjukkan bahwa pengetahuan wanita pernah kawin dan berstatus kawin tentang MOP/vasektomi sebesar 39 persen, sedangkan pengetahuan prianya hanya 31,9 persen. Pengetahuan wanita tentang kondom sebesar 76,3 persen dan prianya sebesar 82,3 persen. Dilain pihak sikap pria dan wanita pun dalam hal KB sangat bertolak belakang. Data menunjukkan bahwa 9 orang dari 10 orang suami setuju istri menggunakan kontrasepsi, namun 7 orang dari 10 istri yang tidak mendukung suaminya ikut KB
d. Tempat/Jarak
Berdasarkan penelitian-penelitian yang telah dilakukan mengenai partisipasi pria dalam KB, diketahui bahwa rendahnya penggunaan kondom salah satunya karena sulitnya mendapatkan kondom. Kemudahan memperoleh kondom berpengaruh positif terhadap kesertaan pria dalam ber-KB. Artinya semakin mudah kondom diperoleh maka makin tinggi kemungkinan pria untuk ber-KB (LDFE UI). Dari hasil-hasil studi, diketahui bahwa penggunaan kontrasepsi pria akan tergantung pada dekatnya mendapatkan alat kontrasepsi tersebut, transportasi yang mudah dan harga yang murah. Sekitar 50% pria menyukai tempat pelayanan yang dekat dari rumah atau tempat mereka bekerja. Untuk itulah vending machine dicetuskan, dan ditempatkan di tempat-tempat strategis yang mudah dijangkau oleh pria/suami
e. Gender
Ketidaksetaraan gender dalam bidang KB dan Kesehatan Reproduksi sangat berpengaruh pada keberhasilan program. Sebagian besar masyarakat dan provider serta penentu kebijakan masih mengganggap bahwa penggunaan kontrasepsi adalah urusan perempuan. Oleh karena itu, peserta KB pria di Indonesia masih sangat rendah yaitu masih dibawah 2 persen, disamping masih relatif rendahnya kepedulian pria terhadap proses reproduksi keluarganya terutama dalam hal kehamilan dan kelahiran. Dimasa lalu, persoalan pengaturan kelahiran lebih banyak difokuskan kepada perempuan, sehingga terkesan bahwa keluarga berencana adalah urusan perempuan saja. Data berbagai survai menunjukkan bahwa prevalensi pengguna kontrasepsi pria masih dibawah 2 persen. Meskipun rendahnya rendahnya pengguna kontrasepsi berkaitan dengan pula dengan keterbatasan teknik kontrasepsi yang tersedia bagi pria, angka ini menunjukkan bahwa kepedulian pria terhadap keluarga berencana masih rendah. Mengingat upaya pengarus utamaan gender (gender mainstreaming) menjadi pendekatan umum pada setiap pembangunan nasional dan global, maka kesetaraan gender dalam mengatur kelahiran adalah menjadi ciri pembaharuan program keluarga berencana.
4. Peran Laki-laki terhadap Kesehatan Perempuan dan Anak-anak
Terdapat beberapa cara dimana laki-laki sebagai suami, pacar, ayah, saudara laki-laki dan teman dapat berpengaruh positif terhadap kesehatan perempuan, diantaranya:
a. Menggunakan atau mendukung pemakaian alat kontrasepsi yang dapat mengkontrol jumlah dan waktu kehamilan;
b. Mendorong perempuan untuk menda-patkan gizi yang seimbang selama kehamilan serta menyediakan kebutuhan-kebutuhan fisik, keuangan dan dukungan emosional;
c. Mendukung perempuan selama masa kehamilan, persalinan dan periode setelah persalinan;
d. Mendukung kebutuhan fisik dan emosional perempuan pasca aborsi;
e. Mencegah penyebaran penyakit menular seksual (PMS) kepada pasangan seksualnya;
f. Mencegah segala bentuk kekerasan terhadap perempuan;
g. Berperan dalam menghentikan praktek-praktek kekerasan tradisional, seperti sunat perempuan;
h. Berbagi hasil financial dengan perempuan, termasuk mendukung hak untuk menggunakan barang-barang;
i. Mendukung partisipasi perempuan dalam organisasi kemasyarakatan, termasuk akses terhadap kehidupan sosial, politik dan kesempatan mendapatkan pendidikan serta dampaknya baik langsung maupun tidak langsung terhadap kesehatan perempuan (http://situs.kesrepro.info/ gendervaw /gvaw04.htm, 2008).
B. Kerangka Konsep
Sesuaikan dengan definisinya…
C. Definisi Operasional
1. Pemilihan alat kontrasepsi kondom adalah keputusan laki-laki dalam menentukan alat kontrasepsi untuk melindungi diri dari kehamilan pasangannya..
2. Pengetahuan suami tentang kondom adalah kemampuan suami dalam memahami alat kontrasepsi kondom baik tujuan, manfaat, jenis, cara pemakaian, maupun kelemahan penggunaan kondom.
3. Sikap suami adalah perilaku dalam menentukan pilihan alat kontrasepsi kondom.
4. Sosial dan Budaya adalah keadaan dimana seorang suami memiliki kebiasaan dalam kehidupan bermasyarakat dan dalam kebiasaan dalam suku maupun agama.
5. Kesamaan Gender adalah kedudukan yang sama antara suami dan wanita/istri dalam memberikan keputusan untuk menentukan hal-hal yang dianggap paling baik dalam menentukan jenis alat kontrasepsi yang digunakan.
6. Tempat/Jarak adalah fasilitas yang menyediakan atau melayani/menjual alat kontrasepsi kondom yang akan digunakan.
7. Dukungan istri/keluarga adalah ada tidaknya motivasi dan bantuan yang diberikan kepada suami terhadap pemilihan alat kontrasepsi kondom. Dukungan ini dapat berupa anjuran untuk mendapatkan informasi yang akurat mengenai alat kontrasepsi kondom.
8. Sikap petugas kesehatan adalah ada tidaknya atau banyak sedikitnya informasi yang didapatkan suami tentang alat kontrasepsi kondom melalui tenaga kesehatan yang ada di lingkungan dimana informan tinggal, serta bagaimana petugas kesehatan menyampaikan informasi kepada pria/suami mengenai alat kontrasepsi kondom.
METODE PENELTIAIN
A. Rancangan Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan penerapan pendekatan kualitatif. Penelitian deskriptif yaitu suatu metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama untuk membuat gambaran atau deskripsi tentang suatu keadaan secara objektif (Notoatmodjo, 2002: 138). Pendekatan kualitatif didefinisikan sebagai suatu proses yang mencoba untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik mengenai kompleksitas yang ada dalam interaksi manusia.
Tujuan utama penelitian dengan pendekatan kualitatif ialah mengembangkan pengertian, konsep-konsep, yang pada akhirnya menjadi teori, tahap ini dikenal sebagai “grounded theory research”. Pada pendekatan kualitatif, data bersifat deskriptif, maksudnya data dapat berupa gejala-gejala yang dikategorikan ataupun dalam bentuk lainnya, seperti foto, dokumen, artefak dan catatan-catatan lapangan pada saat penelitian dilakukan bukan angka.
B. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian (Arikunto, 2002: 108). Populasi adalah keseluruhan objek penelitian atau objek yang diteliti (Notoatmodjo, 2002: 79).
Berdasarkan pendapat di atas maka yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah suami yang menggunakan kondom yang berjumlah 23 orang dan suami yang tidak memakai kondom sebanyak 2510 orang.
2. Sampel
Menurut Machfoedz (2006: 66) sampel adalah sebagian dari populasi yang merupakan wakil dari populasi. Sedangkan menurut Narbuko & Ahmadi (2007: 107) sampel adalah sebagian individu yang diselidiki dari keseluruhan individu penelitian. Lebih lanjut Narkubo & Ahmadi menjelaskan bahwa dalam menentukan berapa besar kecilnya sampel yang harus diambil untuk sebuah penelitian tidak ada ketentuan yang pasti.
Sampel kecil merupakan ciri pendekatan kualitatif karena pada pendekatan kualitatif penekanan pemilihan sampel didasarkan pada kualitasnya bukan jumlahnya. Oleh karena itu, ketepatan dalam memilih sampel merupakan salah satu kunci keberhasilan utama untuk menghasilkan penelitian yang baik. Sampel juga dipandang sebagai sampel teoritis dan tidak representatif. Adapun jumlah sampel dalam penelitian ini sebagai wakil dari populasi yang ada yaitu berjumlah 4 orang, yang terdiri dari 2 pemakai kondom dan 2 pengguna alat kontrasepsi lain.
Dalam memilih sampel penelitian kualitatif menggunakan teknik non probabilitas, yaitu suatu teknik pengambilan sample yang tidak didasarkan pada rumusan statistik tetapi lebih pada pertimbangan subyektif peneliti dengan didasarkan pada jangkauan dan kedalaman masalah yang ditelitinya. Sedangkan metode yang digunakan dalam pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling yaitu suatu pengambilan sampel berdasarkan pertimbangan tertentu yang dibuat oleh peneliti sendiri, berdasarkan ciri atau sifat-sifat populasi yang sudah diketahui sebelumnya. Pada penelitian kualitatif tidak ditujukan untuk menarik kesimpulan suatu populasi melainkan untuk mempelajari karakteristik yang diteliti, baik itu orang ataupun kelompok sehingga keberlakukan hasil penelitian tersebut hanya untuk orang atau kelompok yang sedang diteliti tersebut. Pemilihan sample tidak bergantung pada kuantitas tetapi lebih pada kualitas orang yang akan diteliti yang biasa kita sebut sebagai informan.
Pemilihan informan dalam penelitian kualitatif ini dilakukan berdasarkan kesesuaian dan kecukupan.
1. Dua orang pria yang telah menikah dan pernah menggunakan kondom sebagai informan 1 dan 2
- Informan 1 adalah pria yang telah menikah yang berpendidikan tinggi (sarjana) yang menggunakan kondom/pernah.
- Informan 2 adalah pria yang telah menikah yang berpendidikan rendah (SD) yang menggunakan kondom/pernah.
2. Dua orang pria yang telah menikah dan belum pernah menggunakan kondom sebagai informan 3 dan 4.
- Informan 3 adalah pria yang telah menikah yang berpendidikan tinggi (sarjana) tetapi belum pernah menggunakan kondom/menggunakan alat kontrasepsi lain.
- Informan 4 adalah pria yang telah menikah yang berpendidikan rendah (SD) tetapi belum pernah menggunakan kondom/menggunakan alat kontrasepsi lain.
C. Variabel Penelitian
bla...bla...bla.... :)
D. Instrumen Penelitian
Menurut Narbuko & Achmadi (2007: 83) wawancara adalah proses tanya jawab dalam penelitian yang berlangsung secara lisan antara dua orang atau lebih bertatap muka mendengarkan secara langsung informasi-informasi atau keterangan-keterangan.
Alat pengumpul data yang digunakan dalam penelitian kualitatif ini terdiri dari panduan wawancara mendalam (in-depth interview guidelines). Alat lain yang digunakan adalah alat perekam (tape recorder) dan alat tulis.
E. Analisa Data
Analisa kualitatif merupakan analisa yang mendasarkan pada adanya hubungan semantis antar variable yang sedang diteliti. Tujuannya ialah agar peneliti mendapatkan makna hubungan variable-variabel sehingga dapat digunakan untuk menjawab masalah yang dirumuskan dalam penelitian. Hubungan antar semantis sangat penting karena dalam analisa kualitatif, peneliti tidak menggunakan angka-angka seperti pada analisa kuantitatif. Yang dimaksud dengan data kualitatif ialah data dalam bentuk bukan angka. Data dapat berupa teks, dokumen, gambar, foto, artefak atau obyek-obyek lainnya yang diketemukan di lapangan selama melakukan penelitian dengan menggunakan pendekatan kualitatif.
Langkah-langkah yang dilakukan untuk mengolah dan menganalisis data adalah:
1. Membuat transkrip hasil wawancara
2. Menelaah seluruh data dan informasi dari berbagai sumber yaitu hasil wawancara dan studi dokumentasi
3. Meringkas data
4. Menguraikan kembali ringkasan data dalam bentuk narasi
5. Menyajikan data dalam bentuk matrik data kualitatif
6. Melakukan konseptualisasi
Data kualitatif pada penelitian ini disajikan dalam bentuk matriks data kualitatif. Ringkasan data dalam matriks data diuraikan kembali dalam bentuk narasi untuk kemudian dilakukan konseptualisasi.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Keadaan Monografi Tempat Penelitian
B. Hasil Penelitian
1. Karakteristik Informan
Wawancara mendalam telah dilakukan pada ke empat suami yang memilih alat kontrasepsi kondom dan yang tidak memilih alat kontrasepsi kondom. Karakteristik informan lebih lengkap digambarkan dalam tabel 4.1 dan tabel 4.2 di bawah ini. Hal ini dimaksudkan untuk memperlihatkan secara lebih rinci bahwa semua informan dalam penelitian ini secara umum telah sesuai dengan rencana semula penelitian ini.
Tabel 4.1 Karakteristik Informan Suami yang Memilih Alat Kontrasepsi Kondom
No Nama Usia Pendidikan Pekerjaan Penghasilan
1 Informan 1 48 tahun SMA Wirausaha 5.000.000
2 Informan 2 30 tahun SD Wiraswasta -
Sumber : Hasil Wawancara dengan suami yang memilih kondom dan suami yang tidak memilih kondom.
Tabel 4.2 Karakteristik Informan Suami yang Tidak Memilih Alat Kontrasepsi Kondom
No Nama Usia Pendidikan Pekerjaan Penghasilan
1 Informan 3 29 tahun S1 Pegawai karyawan swasta 2.000.000
2 Informan 4 28 tahun SLTP Wiraswasta 2.000.000
Sumber : Hasil Wawancara dengan suami yang memilih kondom dan suami yang tidak memilih kondom.
Karakteristik informan tersebut di atas adalah hasil wawancara mendalam. Wawancara mendalam tersebut menghasilkan gambaran karakteristik semua informan tersebut didukung oleh jawaban-jawaban yang mereka sampaikan, seperti wawancara dalam pertanyaan umum yang mencakup penggunaan alat kontrasepsi di bawah ini.
“Sekarang sih nggak, dulu-dulu aja, karena memang nggak enak dan nggak nyaman di pake dan nggak gunain itu lagi” (Informan 1)
(Sejak kapan Bapak menggunakan kondom) “4 tahun yang lalu” (Informan 2)
”Saat ini saya tidak menggunakan alat kontrasepsi apapun” (Informan 3)
”ngga pake apa-apa, tapi bojoku pake spiral, itu aja karena terpaksa soalnya istriku waktu nglairin anakku sesar dadi ya ngganggo spiral biar nggak resti gitulo” (Informan 4).
2. Pengetahuan
Gambaran mengenai pengetahuan keempat informan meliputi pengetahuan tentang jenis-jenis alat kontrasepsi khusus pria, jenis-jenis kondom, kelebihan dan kekurangan kondom, cara memakai kondom yang sesuai dengan anjuran petugas kesehatan. Rangkaian jawaban yang disampaikan dari keempat informan tentang pengetahuan seputar alat kontrasepsi diuraikan di bawah ini.
a. Jenis alat kontrasepsi khusus pria
Informan 1 yang memilih alat kontrasepsi kondom menyatakan tahu tentang jenis alat kontrasepsi khusus pria, demikian juga informan ke-3 dan ke-4. Berbeda dengan informan yang lain, informan ke-2 yang memilih alat kontrasepsi kondom menyatakan kurang tahu. Pengetahuan keempat informan tentang jenis-jenis alat kontrasepsi khusus pria dapat disimak dari jawaban yang disampaikan di bawah ini.
(Bapak tahu tentang jenis alkon khusus pria) ”Diantara yaitu kondom, yaitu aja yang untuk laki” (Informan 1)
”waduh kurang tahu” (Informan 2)
”apa ya fasektomi kalau gak salah, sama suntik itu setahu saya” (Informan 3)
”ya tau lah, wong sekarang tipi, radio, koran isine gur mbahas masalah kondom” (Informan 4)
Pengetahuan tentang alat-alat kontrasepsi khusus pria secara umum sudah diketahui oleh informan. Informan yang tidak memilih alat kontrasepsi kondom juga mampu menjawab dengan tegas.
b. Pengetahuan tentang jenis-jenis kondom
Jawaban yang diberikan oleh informan 1 dan 4 menyatakan bahwa mereka mengetahui beberapa jenis kondom. Sedangkan informan 2 dan 3 menyatakan tidak tahu, sebagaimana disampaikan di bawah ini.
“Kalau banyak ukuran-ukuran aja, ukuran luas kan beda, ukurannya tahu, ketebalan, saat ini kondom kan semakin tipis, terus ininya iklannya apa rasanya sudah nggak seperti dulu, kalau dulu kan nggak brasa, tebal, sudah itu ini juga apa, ada dampaknya juga bahannya itu mungkin ada pori yaitu yang biasa meresap, bisa gagal” (Informan 1)
“gak hafal lah banyak-banyak modelnya, banyak mereknya yang jelas gak apal. Banyak macemnya tahu. Mereknya gak apal” (Informan 2)
“kalau jenis saya nggak tahu, kalau merek mungkin saya sedikit tahu kalau merek ada viesta, 25, kemudian apa lagi ya yang inget Cuma dua itu hehehe. (tahunya darimana) sebagian dari iklan, sebagi lagi lihat langsung, yang masuk ke otak dari iklan”. (Informan 3)
“yang saya tahu ya mbak dari buku-buku yang tak baca jenis kondom macem-macem sih, jenis-jenis sing saya ketahui lewat buku ya ada yang transparan, ukurannya macem-macem, terus di tipi malah ada yang baru sing katanya dengan berbagai rasa, aneh-aneh aja memang sekarang” (Informan 4)
c. Kelebihan dan kekurangan kondom
Dari hasil wawancara yang didapat diketahui bahwa Informan 1 dan 2 baru mengetahui sedikit tentang kelebihan dan kekurangan kondom karena tidak menyebutkan kelebihan dari kondom. Sementara itu, informan 3 dan 4 menyatakan tahu tentang kelebihan dan kekurangan kondom, hal ini dapat dilihat pada jawaban yang disampaikan di bawah ini.
”kekurangannya bukan hanya lepas, tapi rasanya juga lain. Kan kehangatannya lain gitu... beda deh yang perempuan juga, perasaannya juga begitu, sama dia juga nggak nyaman”. (Informan 1)
”waduh kalau gitu kaya nya saya nggak terlalu memperhatikan sih, kalau kelebihan dan kekurangan. Kalau saya pribadi nggak tahu, ya untuk mencegah kehamilan, kalau istri kan nggak mungkin, mending kita aja yang KB” (Informan 2)
”kalau kelebihan, kelebihan kondom mungkin karena dia, jadi karena dipakenya diluar, tidak seperti fasek tomi jadi mungkin tidak menyakitkan. Kemudian kelemahannya tergantung dari produsennya sendiri, kalau kualitasnya jelek dia bisa bocor” (Informan 3)
”kelebihan... yang saya tahu mah adanya kekurangan gak ada kelebihan, lah wong ngrusak generasi muda kok masalahnya buatan manusia itu gak ada yang sempurna coba kalau kondomnya bocor atau mungkin Alloh berkehendak manusia itu hamil pasti lah hamil walaupun nganggo kondom. Tapi nek neng buku ya kelebihan ne jerene akeh mba, murah, mudah didapat terus praktis lah kira-kira ka kue lah” (Informan 4)
d. Cara Kerja dan cara memakai kondom
Dari keempat informan, mereka tahu tentang cara kerja dan cara memakai kondom, hal ini dapat dilihat pada jawaban yang disampaikan di bawah ini.
”tahu, yaitu kan cuman, nutupin waktu kita klemaks yang ngeluarin spermatozoa terlindung disitu”, (bagaimana cara penggunaannya) ”oh.. dilihat aja ketahuan, penggunaannya” (Informan 1)
”ya tahunya dari petunjuk sih” (bagaimana cara penggunaannya) ”he he he… yang jelas di masukan anunya alat kelaminnya dimasukkin ke kondom itu, selama ini tahunya hanya itu”. (Informan 2)
”kalau cara kerja kondom sendiri yaitu untuk istilahnya untuk menahan sperma agar tidak masuk rahim dan membuahi. Waktu penggunaannya pada saat berhubungan badan, pada saat akan ... bersenggama (saat tegang)”. (Informan 3)
”cara kerja kondom itu kalau gak salah ya mba katanya untuk ngalangin sperma biar gak terjadi pembuahan pada sel telur bahasa medisnya ya ovum gitulah, terus katanya juga bisa untuk nyegah penyakit menular apa ya. Terus untuk penggunaannya ya pasti waktu itunya berdirilah terus dilebokna terus ya terus lah...hehe” (Informan 4)
3. Sikap
Gambaran tentang sikap keempat informan mencakup informasi mengenai asalan memilih/tidak memilih kondom dan ketertarikan terhadap kondom. Jawaban dari keempat informan dapat dilihat pada uraian berikut.
a. Alasan Memilih/tidak memilih kondom
Keempat informan memberikan jawaban yang berbeda-beda mengenai alasan memilih/tidak memilih alat kotrasepsi kondom. Hal ini dapat dilihat pada uraian berikut.
”nggak tadinya kita kan Cuma coba-coba karena sulit mendapatkan pil, karena dulu pernah kita juga waktu pil atau suntikan gitu menstruasinya tidak teratur, siklusnya nggak teratur, akhirnya berubah. Akhinya lagi dicoba dengan pil, dicoba dengan pil agak lumayan gitu. Waktu yang dengan suntikan itu tambah gemuk hehe” (Informan 1)
“ya karena sementara ini tahunya hanya itu (kondom)” (Informan 2)
”keinginan memakai kondom tidak ada” (Informan 3)
”bertentangan karo aqidah ku mba” (Informan 4)
b. Ketertarikan terhadap kondom
Informan 1 sebagai suami yang memilih kondom mengatakan kurang tertarik terhadap kondom namun berbeda dengan informan ke-2 yang tertarik memilih memakai kondom. Sementara informan 3 dan 4 tidak tertarik terhadap kondom. Hal ini dapat dilihat pada uraian di bawah ini.
“waktu berhubungan itu kan kadang-kadang lepas di dalam, karena itu tadi dia melorot, licin kadang-kadang orang sudah tidak menghiraukan itu lagi untuk masang, karena itu kan sudah mau klemaks ah udah aja lah akhirnya tertinggal, ya tercecerlah spermanya di dalam” (Informan 1)
“ya selama ini untuk saya pribadi sejatinya ya kayak gitu, (selama 4 tahun nggak pernah ke bobolan), rasa takut nggak ada” (Informan 2)
“ya karena yang ngrasain bukan saya jadi saya nggak tertarik. Terus untuk rasa untuk apa saya rasain kan”. (Informan 3)
”tidak sama sekali, alias moh gitu lo mba. Soale ya itu tadi bertentangan dengan aqidah. Karena cara pemerintah dalam membiarkan kondom dijual bebas diwarung-warung itu justru membuat anak muda yang belum nikah untuk jajal, terus secara otomatis njajal kondom kan karo wadonan, terus nek kondome bocor kan terus hamil terus kan bisa putus sekolah kalau gak putus sekolah ya aborsi itu kan buruk sekali dampaknya untuk generasi sekarang ini yang moralnya lagi bobrok tambah bobrok. Kecuali peredaran kondom dibatasi jadi yang beli khusus yang sudah keluarga itu pun keluarga yang dalam keadaan darurat misale istrinya habis sesar atau lainnya lah yang bisa menimbulkan resti mungkin bukan malah dibebaskan kaya jual permen karet aja, apa mba mau mba untuk praktek kan nggak to” (Informan 4)
4. Sosial Budaya
Gambaran tentang sosial budaya dalam hal penggunaan alat kontrasepsi kondom mencakup tiga hal yaitu anggapan warga tentang laki-laki yang menggunakan alat kontrasepsi khususnya kondom, ada tidaknya larangan dari adat istiadat-agama dan larangan dari keluarga. Berikut hasil wawancara dari keempat informan yang telah diliput.
a. Anggapan warga tentang laki-laki yang menggunakan alat kontrasepsi khususnya kondom
Anggapan warga disekitar lingkungan informan berbeda-beda, hal ini dapat dilihat pada uraian di bawah ini.
”oh kalau temen-temen saya juga nggak suka, di antara temen-temen saya ada yang suka kondom karena lebih lama, karena apa sensitive itu kan menghambat itu aja” (Informan 1)
”ya aku sendiri nggak seberapa open kalau gitu mereka satu sama lain nggak pernah berbicara alat kontrasepsi, jarang berkomunikasi karena mereka sibuk sendiri-sendiri” (Informan 2)
”e… kalau menurut pandangan saya secara umum, mungkin mereka yang kaum muda mungkin sudah biasa, mungkin wajar, kemudian kalau yang tua-tua dianggap nggak wajar lah karena memang seharusnya niatnya berumah tangga itu untuk punya keturunan mungkin untuk pikiran mereka yang masih kolot mungkin nggak wajar. Tapi ini menurut pendapat pribadi saya karena untuk masalah seperti itu kadang-kadang masyarakat tertutup jadi saya juga kalau untuk memancing pertanyaan kesana rada susah” (Informan 3).
”kalau di lingkungan saya jarang sih yang ngobrolin alat kontrasepsi jadi saya kurang tahu mbak” (Informan 4)
b. Ada tidaknya larangan dari adat istiadat dan agama
Dalam hal ini, informan 1, 2 dan 3 menyatakan dengan berbagai alasan bahwa tidak ada larangan dari adat istiadat serta agama mereka mengenai alat kontrasepsi kondom. Namun berbeda dengan informan ke-4 yang menyatakan adanya larangan dari agama yang dianutnya. Hal ini dapat dilihat pada uraian di bawah ini.
“oh nggak, sejauh itu memang untuk kepentingan semua ya nggak masalah. Justru program KB itu kita dukung, emang masih tujuannya bener sih” (Informan 1)
“setahu saya kalau itu memang benar kayaknya nggak ada, karena kita juga kan antisipasi biar gak kebanyakan anak, terutama takutnyakan lihat ekobnomi sekarang kalau anaknya cepet-cepet repot kita kan” (Informan 2)
“kalau dalam istiadat saya sebagai orang jawa kayanya tidak ada, terus terang untuk keluarga saya sendiri terbuka saja, liberal saja terserah apa yang kita lakukan yang penting bertanggung jawab saja. Kalau agama saya kurang tahu secara detail. Yang saya tahu karena dalam lingkup muhammadiyah yang saya tahu untuk memantasi kehamilan boleh saja.” (Informan 3)
”kalau dalam adat orang ngapak ya ora eneng, tapi nek dalam agama ku jika orangnya itu pemahaman tidak batil atau orang tersebut pemahamannya benar ya jelas agama ku melarang dengan keras! Kita sebagai manusia mba itu tidak boleh menentang ajaran Alloh, karena setiap ajaran Alloh itu benar dan pasti baik untuk manusia dan Alloh tidak pernah menyuruh untuk membatasi anak, Rosullulloh sebagai utusan sang Kholiq tidak pernah menyuruh kita untuk membatasi. Tapi sebagian besar orang berpendapat katanya orang lagi musim peceklik hidup belum mapan banyak anak malah nambah sengsara. Itu semua pendapat salah rizki itu yang memberi Alloh, kita hanya bisa berusaha dan keputusan hasil usaha kita ya Alloh yang menentukan. Setiap orang itu sudah memiliki takdir baik rizki, jodoh, dan lain-lain itu sudah dicatat sebelum kita lahir. Namun dalam takdir tersebut bisa kita rubah dengan do’a kita. Oleh karena itu alat kontrasepsi tidak sepenuhnya baik untuk kita. Kecuali jika dalam keadaan terpaksa boleh kita gunakan, itu aja harus atas persetujuan ahlinya seperti dokter, untuk memutuskan akan resiko tinggi jika tidak ber KB misalnya”. (Informan 4)
c. Larangan dari Keluarga
Dari hasil wawancara Informan 1, 2 dan 3 menyatakan tidak ada larangan atau tentangan dari pihak keluarga. Namun berbeda dengan informan ke-4 yang menyatakan ada salah satu anggota keluarga yang menentang pembebasan alat kontrasepsi khususnya kondom. Adapun hasil wawancaranya diuraikan sebagai berikut.
” ngggak ada” (Informan 1)
”setahu saya nggak ada apapun alat kontrasepsi yang keluarga pake ya yang terbaik bagi kita nggak merugikan dia yang penting menguntungkan kita. Selama ini gak ada (gak ada yang menentang)” (Informan 2)
” tidak ada” (Informan 3)
”ada mba’ adikku hehe karena dia sama manhajnya (keyakinan) sama ama saya” (Informan 4)
5. Gender
Gambaran tentang kesamaan gender atau kedudukan yang sama antara suami dan wanita/istri dalam memberikan keputusan untuk menentukan hal-hal yang dianggap paling baik dalam menentukan jenis alat kontrasepsi yang digunakan mencakup informasi tentang kewajiban suami-istri dalam pemakaian alat kontrasepsi. Dari jawaban informan diketahui bahwa keempat informan setuju akan adanya kewajiban yang sama antara suami-istri dalam menentukan alat kontrasepsi yang digunakan. Jawaban informan diuraikan sebagai berikut.
”ya sebenarnya sama-sama tapi mana yang lebih praktis yang sama-sama pertimbangan suami istri...” (Informan 1)
”sama aja sih sebetulnya sama aja gak ada bedanya tergantung kemampuan orang, kalau istrinya gak mampu Kenapa harus memaksa istri berKB lebih baik kita aja sebagai lelaki wajarkan kita membantu program pemerintah” (Informan 2)
”kalau menurut saya tetap, dua-duanya posisinya seimbang sama-sama”. (Informan 3)
”ini bukan wajib lo mba alat kontrasepsikan dipakai bagi orang yang mau pake aja” (Informan 4)
6. Tempat/Jarak
Gambaran tentang tempat/jarak mencakup sulit tidaknya mendapatkan kondom, jarak yang ditempuh untuk mendapatkan kondom, sulit tidaknya transportasi untuk mendapatkan kondom. Jawaban informan dapat dilihat pada uraian berikut.
a. Sulit tidaknya mendapatkan kondom
Keempat informan 1 dan 2 menyatakan tidak sulit untuk mendapatkan kondom, demikian juga dengan informan 3 dan 4 walau informan ini tidak pernah menggunakan kondom namun mereka menyatakan tidak sulit untuk mendapatkan kondom. Pernyataan ini dapat dilihat pada uraian di bawah ini.
”kalau kondom gampang. Kita Cuma malu belinya. Asumsi mereka pedagang wah ini untuk ke tempat perempuan nakal ke tempat lokalisasi. Karena di zaman itu juga kerennya begitu, orang ngantongin kondom bukan untuk istrinya, untuk berhubungan di luar gitu lo” (Informan 1)
”untuk selama ini nggak sih, wah gampang banget. Mudah beli kondom timbang beli bensin kalau sekarang.” (Informan 2)
”saya pikir nggak, saya pikir orang jarang membeli kondom karena malu, tapi kalau saya karena belum tertarik untuk menggunakannya” (Informan 3)
”nggak mba gak sulit kok mbak orang kondom itu kaya permen aja bisa dibeli dimana-mana” (Informan 4)
b. Jarak yang ditempuh untuk mendapatkan kondom serta ketersediaan alat transportasi.
Keempat informan menyatakan jarak dari rumah untuk mendapatkan kondom tidak jauh. Hal ini dapat dilihat pada uraian berikut.
”deket, satu kilo lah” (apakah bapak kesulitan dalam masalah transportasi) ”oh nggak” (Informan 1)
”kalau dari rumah ya nggaklah, sekitar yang paling dekat 400 meter lah.” (apakah bapak kesulitan dalam masalah transportasi) kalau untuk wilayah di metro mungkin nggak sulit. Setahu saya hidup dimetro kan nggak sulit. (Informan 2)
”Dekat” (apakah bapak kesulitan dalam masalah transportasi) ”Tidak” (Informan 3)
”nek gelem mah tinggal angkat telepon aja di anter tempat kok mba hahaha” (apakah bapak kesulitan dalam masalah transportasi) kalau mau nyari pasti ya gak sulit lah mobil pirang-pirang (Informan 4)
7. Dukungan Istri/Keluarga
Gambaran dukungan istri/keluarga mencakup dukungan istri dan dukungan keluarga. Jawaban informan dapat dilihat pada uraian berikut.
a. Dukungan istri
Informan ke-1 menyatakan istri kurang setuju dalam masalah pemakaian alat kontrasepsi kondom, sementara informan 2 menyatakan bahwa telah mendapatkan dukungan dari istri. Untuk informan ke-3 tidak memberikan jawaban dengan alasan masih pengantin baru. Sedangkan informan ke-4 menyatakan bahwa tidak mendapatkan dukungan dari istri. Hal ini dapat dilihat pada uraian berikut.
“nggak setuju akhirnya. Awalnya karena keterpaksaan dan saling membungkam akhirnya kita tanya berdua akhirnya, ya memang nggak nyaman” (Informan 1)
”ya al hamdulillah setuju-setuju aja selama ini nggak ada problem (apa istri menganjurkan). Sedikit banyak menganjurkan. Bukan nggak cocok, tapi takut karena ada efek sampingnya, karena efek sampingnya kan lari nya ke tubuh” (Informan 2)
”karena usia pernikahan kami yang masih berjalan satu tahun, jadi sampai sekarang belum ada ngomong-ngomong ke arah situ jadi kami masih enjoy dan masih menikmati dan masih mengharapkan kebersamaan itu terus untuk sementara alat kontrasepsi belum kami pikirkan” (Informan 3)
“ngak pernah” (Informan 4)
b. Dukungan keluarga
Dalam hal ini, informan 1, 2 dan 4 menyatakan bahwa keluarga tidak memberikan dukungan. Namun informan ke-3 mendapatkan dukungan keluarga. Sebagaimana diuraikan di bawah ini.
”oh nggak, nggak ada” (Informan 1)
”nggak ada biasa aja, bahkan mereka nggak ada yang tahu kalau kita pakai kontrasepsi yang apa nggak tahu” (Informan 2)
“terus terang untuk keluarga saya sendiri terbuka saja, liberal saja terserah apa yang kita lakukan yang penting bertanggung jawab saja”. (Informan 3)
“nggak ada” (Informan 4)
8. Sikap Petugas kesehatan
Gambaran sikap petugas kesehatan mencakup ada tidaknya informasi/pelayanan dari petugas kesehatan (penyuluhan). Dari keempat informan yang telah diwawancarai mereka menyatakan tidak pernah mendapatkan penyuluhan. Sebagaimana uraian di bawah ini.
”oh ya, dari iklan-iklan yang kita baca, dan juga secara rasional kan kita kelihatan itu kan melindungin, kontaknya” (Informan 1)
”kalau selama ini saya sendiri belum pernah, belum pernah dapet apa ya, pengarahan kondom ini harus gimana. Karena selama ini saya nggak ada keluhan, nggak ada misalnya kalau anukan alergi apa gimana selama ini kan di kita nggak ada alhamdulillah, jarang juga kita konsultasi ke paramedis nggak pernah karena kita ngalamin enjoy aja, maaf ngomong sakit apa gimana nggak ada” (Informan 2)
”kalau mendapatkan secara langsung belum pernah, maksud saya, saya bertemu langsung ke petugas kesehatan yang memberi penyuluhan saya belum pernah tetapi cuman lewat media majalah dan media masa. kalau untuk di metro mungkin saya pikir memang kurang tahu mungkin karena dari segi dana yang belum ada, tetapi karena dulu saya pernah 11 tahun di jogya di sana memang genjar melakukan penyuluhan kondom walaupun saya belum pernah ikut, belum pernah ketemu namun saya tahu dari temen-temen saya ada mereka masuk ke kampus-kampus biar pun tidak secara langsung tetapi membagi selebaran segala macem, kalau di sini mungkin kendala itu, kemudian kendala kultur masyarakat sendiri untuk menerima penjelasan hal-hal seperti kadang rada susah jadi mereka kadang menemui kendala untuk memberikan penyuluhan tentang kondom” (Informan 3)
”informasi ya lewat media massa di tipi aja tiap menit ada. Tapi angger penyuluhan oleh petugas kesehatan belum pernah” (Informan 4).
C. Pembahasan
Keterbatasan Peneliti
Penelitian ini telah penulis lakukan dengan sungguh-sungguh, seoptimal mungkin, sesistematis mungkin, dan seobjektif mungkin. Namun penulis menyadari bahwa penulis bukanlah insan yang sempurna.
Penelitian ini adalah penelitian pertama yang penulis lakukan untuk setingkat D-III. Peneliti sadari bahwa kurangnya pengalaman dalam penelitian, tentu hasilnya akan berbeda dengan penelitian-penelitian yang dilakukan oleh peneliti-peneliti yang sudah berpengalaman.
Informan
Rencana semula penelitian ini mewawancarai empat orang suami, dua orang yang memilih alat kontrasepsi kondom, dua orang suami yang tidak memilih alat kontrasepsi kondom di wilayah Kecamatan Metro Timur pada tahun 2008. Kenyataan dilapangan telah sesuai dengan apa yang peneliti harapkan dan informasi yang perlu digali sudah dirasa cukup.
Biaya dan waktu penelitian
Sejak dimulainya pengumpulan data proposal, proses pembuatan proposal, pengumpulan data di wilayah penelitian, proses penyelesaian penelitian, hingga akhirnya menjadi sebuah karya tulis, peneliti merasakan mahalnya biasa yang dikeluarkan untuk proses penelitian ini. Keterbatasan biaya tersebut menyebabkan penyesuaian-penyesuaian dalam proses penelitian ini. Misalnya, untuk mengumpulkan data penulis harus beberapa kali pergi ke tempat penelitian. Upaya untuk mendapatkan informasi dari suami yang memilih alat kontrasepsi kondom dan yang tidak memilih alat kontrasepsi kondom penelitian juga harus melalui pendekatan dengan menjadi seorang calon tenaga kesehatan. Waktu yang tersedia untuk melakukan proses penelitian ini dirasakan kurang untuk sebuah penelitian perdana yang dilakukan oleh peneliti.
Berdasarkan dari uraian hasil penelitian yang telah diuraikan sebelumnya, maka pada uraian ini akan membahas variabel penelitian yang telah direncanakan yang meliputi hal-hal sebagai berikut:
1. Pengetahuan
Pengetahuan tentang alat kontrasepsi secara umum diketahui oleh informan di wilayah penelitian ini, namun pengetahuan secara lebih mendalam tentang alat kontrasepsi kondom belum diketahui banyak oleh masyarakat.
Kurangnya pengetahuan tentang alat kontrasepsi kondom baik jenis, kelebihan/kekurangan, serta cara kerja kondom dapat mempengaruhi secara langsung terhadap pemilihan alat kontrasepsi. Hal ini diungkapkan dalam http://www.aidsindonesia.co.id.2008 bahwa pengetahuan wanita tentang kondom sebesar 76,3% dan pria sebesar 82,3%.
Hal tersebut sejalan dengan pendapat Notoatmodjo (1997) bahwa pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (over behavior). Suatu perbuatan yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perbuatan yang tidak didasari oleh pengetahuan, dan orang yang mengadopsi perbuatan dalam diri seseorang tersebut akan terjadi proses sebagai berikut :
1. Kesadaran (Awareness) dimana orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui terlebih dahulu terhadap obyek (stimulus).
2. Merasa tertarik (Interest) terhadap stimulus atau obyek tertentu. Disini sikap subyek sudah mulai timbul.
3. Menimbang-nimbang (evaluation) terhadap baik dan tidaknya terhadap stimulus tersebut bagi dirinya. Hal ini berarti sikap responden sudah tidak baik lagi.
4. Trial, dimana subyek mulai melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh stimulus.
5. Adopsi (adoption), dimana subyek telah berprilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran dan sikapnya terhadap stimulus.
2. Sikap
Sikap merupakan respon atau reaksi yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau objek. Sikap mencerminkan kesenangan atau tidak senang seseorang terhadap sesuatu (Notoatmodjo, 1993). Green (dalam Cherawaty, 2004) menyatakan bahwa sikap sebagai referensi pribadi yang membawa seseorang untuk berprilaku sehat.
Dalam penelitian di wilayah ini menyatakan bahwa suami yang memilih kondom mempunyai sikap yang positif, hal ini ditunjukkan dengan tidak adanya rasa takut dalam pemakaian alat kontrasepsi kondom. Namun sikap tersebut tidak sejalan dengan suami yang tidak memilih kondom, hal ini ditunjukkan dengan penjelasan yang diberikan bahwa cara pemerintah dalam membiarkan kondom dijual bebas diwarung-warung itu justru membuat anak muda yang belum nikah untuk mencoba. Penjelasan tersebut juga didukung oleh penjelasan dari Buletin al-Islam edisi 287 dalam http://www.mail-archive.com/aroen99society, pernyataan tersebut yaitu sebagai berikut:
Katakanlah niat Pemerintah benar, program "kondomisasi" adalah didasarkan pada alasan untuk mencegah penyebaran HIV/AIDS. Namun demikian, alasan seperti ini tidak sepenuhnya logis karena beberapa hal. Pertama: Akar penyebab penyebaran HIV/AIDS adalah seks bebas (pelacuran, gonta-ganti pasangan, pergaulan bebas, homoseksualitas/lesbianisme). Karena itu, perang terhadap seks bebas inilah yang seharusnya dilakukan Pemerintah, bukan dengan program "kondominasi" yang lebih banyak ditujukan kepada pasangan yang bukan suami-istri.
Kedua: Program "kondomisasi" belum terbukti ampuh dalam mengurangi penyebaran HIV/AIDS. Di negara-negara Barat, meski program serupa sudah lama berlangsung, penyebaran HIV/AIDS di sana tetap tinggi dan terus meningkat.
Ketiga: sebagaimana legalisasi (pengesahan) aborsi, program "kondomisasi" yang antara lain diwujudkan dengan pendirian sejumah ATM Kondom hanya akan menyuburkan perilaku seks bebas, khususnya di kalangan anak-anak muda. Dengan berbagai kemudahan mendapatkan kondom, anak-anak muda akan merasa lebih "aman" melakukan seks bebas. Para remaja putri, misalnya, yang terjerumus ke dalam pergaulan bebas tidak akan lagi merasa khawatir hamil atau tertular HIV/AIDS, karena toh kondom-yang dipropagandakan sebagai dapat mencegah HIV/AIDS, di samping mencegah kehamilan-kini mudah mereka dapatkan. Bahkan boleh jadi, anak-anak muda yang tadinya tidak pernah melakukan seks bebas pun akan tergoda dan mulai coba-coba melakukan seks bebas dengan berbekal kondom yang sudah bisa didapatkan secara mudah dan bebas.
Keempat: Sebagian pakar kedokteran masih meragukan efektivitas kondom dalam mencegah HIV/AIDS. Alasannya, pori-pori karet lateks yang menjadi bahan pembuatan kondom adalah 0,003 mm, sedangkan ukuran virus AIDS adalah 0,000001 mm. Perbandingan keduanya adalah seperti pintu gerbang yang besar dengan seekor tikus. Logikanya, "tikus'' dengan sangat mudah bisa mondar-mandir di "pintu gerbang" yang sangat besar itu tanpa halangan sedikit pun. Memang, konon bahan lateks untuk kondom dibuat lebih baik sehingga pori-porinya bisa lebih kecil daripada virus AIDS. Namun, dengan adanya tekanan saat dipakai, atau akibat gesekan, kondom tetap saja bisa kebobolan. Apalagi sejak awal kondom memang hanya efektif untuk mencegah masuknya sperma ke dalam rahim, dan belum terbukti efektif untuk mencegah berbagai penyakit kelamin, apalagi HIV/AIDS yang sampai saat ini belum diketahui serum untuk mengatasinya.
Sikap tersebut di atas jelas akan mempengaruhi suami dalam memilih alat kontrasepsi kondom. Pada hal sikap seseorang itulah yang akan menentukan tindakan yang akan dilakukan.
3. Sosial Budaya
Di Indonesia penggunaan kondom sebagai metode KB saat ini masih sangat rendah yaitu sekitar 0.7% dari peserta KB yang ada. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor. Salah satu faktornya adalah citra negatif yang melekat pada kondom. Seringkali kondom diasosiasikan sebagai ketidakbersihan seseorang, seks gelap, ketidaksetiaan dan berbagai perilaku immoral lainnya. Bahkan ada pendapat wanita/istri yang menyatakan bahwa kondom hanya untuk "wanita dijalanan, bukan untuk di rumah". Selain itu masih banyak berbagai citra negatif lainnya yang sebenarnya sangat tidak benar, justru sebaliknya para suami yang menggunakan kondom adalah seorang yang senang menjaga kebersihan dirinya dan pasangannya, sedangkan masalah ketidaksetiaan adalah masalah lain yang tidak ada hubungannya dengan kondom. Untuk itu diperlukan upaya merubah persepsi kondom kearah citra positif dalam keluarga sehingga diperlukan komunikasi dan saling percaya antara suami istri (http://www.bkkbn.go.id/gemapria/article-detail., 2008).
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan sebagian informan menyatakan bahwa dari segi agama dalam masyarakat masih ada yang menganggap program pemerintah dalam membebaskan kondom kurang tepat untuk masyarakat saat ini. Namun ada juga masyarakat yang menganggap baik tujuan dari pemerintah untuk menggunakan kondom selain untuk menjarangkan kehamilan juga untuk melindungi dari penyakit menulas seksual (PMS).
Anggapan yang positif dari masyarakat ini akan mampu memberikan dukungan yang positif pula bagi program pemerintah. Namun bukan berarti pemerintah harus mengesampingkan pendapat masyarakat lainnya yang melakukan penolakan terhadap program kondomisasi ini, karena anggapan masyarakat pun tidak semua salah dan tidak semua benar. Anggriani (dalam http://www.halamansatu.net/index.2008) mengemukakan bahwa ternyata faktor sosial dan budaya bisa menjadi penyebab kalangan muda enggan menggunakan kondom saat berhubungan seksual. Dalam penelitian yang dilakukan terhadap kalangan muda berusia di bawah 25 tahun, ada yang merasa tidak percaya dengan “alat pengaman” tersebut dan juga ada yang berpikiran bahwa dengan selalu membawa kondom akan mempengaruhi pengalaman dan sensasi yang mereka dapatkan dalam melakukan kegiatan seksual.
4. Gender
Ketidaksetaraan gender dalam bidang KB dan Kesehatan Reproduksi sangat berpengaruh pada keberhasilan program. Sebagian besar masyarakat dan provider serta penentu kebijakan masih mengganggap bahwa penggunaan kontrasepsi adalah urusan perempuan. Oleh karena itu, peserta KB pria di Indonesia masih sangat rendah, disamping masih relatif rendahnya kepedulian pria terhadap proses reproduksi keluarganya terutama dalam hal kehamilan dan kelahiran. Dimasa lalu, persoalan pengaturan kelahiran lebih banyak difokuskan kepada perempuan, sehingga terkesan bahwa keluarga berencana adalah urusan perempuan saja. Data berbagai survai menunjukkan bahwa prevalensi pengguna kontrasepsi pria masih rendah. Meskipun rendahnya pengguna kontrasepsi berkaitan dengan pula dengan keterbatasan teknik kontrasepsi yang tersedia bagi pria, angka ini menunjukkan bahwa kepedulian pria terhadap keluarga berencana masih rendah (http://www.bkkbn.go.id/gemapria/article.2008).
Pernyataan di atas berbeda dengan hasil penelitian yang telah dilakukan di wilayah Metro Timur bahwa suami yang memilih alat kontrasepsi kondom dan suami yang tidak memilih alat kontrasepsi kondom menyatakan setuju dengan kesamaan kewajiban antara laki-laki dan perempuan dalam hal penggunaan alat kontrasepsi. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat memiliki kepedulian yang baik atas program pemerintah.
5. Tempat/Jarak
Jarak tempuh dari rumah ke tempat pelayanan alat kontrasepsi kondom erat kaitannya dengan kondisi geografis, sarana dan prasarana transportasi. Di wilayah penelitian ini, semua wilayah telah dapat ditempuh oleh kendaraan roda dua dan kendaraan roda empat.
Dalam penelitian ini, jarak tempuh untuk mendapatkan kondom ternyata tidak mempengaruhi suami untuk menggunakan atau terus menggunakan alat kontrasepsi kondom, namun justru alasan lain yang membuat para suami enggan menggunakan kondom misalnya karena adanya larangan dari kepercayaan, ketakutan bila terjadi kebocoran, saat berhubungan seksual menggunakan kondom bisa lepas, kondom dapat mengurangi kenikmatan saat berhubungan seksual, dengan memakai kondom wanita tidak merasa nyaman. Disini jelas bahwa jarak/tempat untuk mendapatkan kondom bukan merupakan salah satu penyebab suami menggunakan atau tidak menggunakan kondom, namun dikarenakan masih adanya ketidakpercayaan masyarakat tentang keefektifan dari alat kontrasepsi kondom.
6. Dukungan Istri/Keluarga
Keterlibatan istri atau keluarga sangat menentukan keputusan di dalam memilih alat kontrasepsi khususnya kondom. Keterlibatan istri dan keluarga selain dapat menjadi dukungan moril dalam penggunaan kondom juga dapat menjadi penyebab suami memilih alat kontrasepsi kondom. Keputusan memilih alat kontrasepsi kondom biasanya ditentukan berdasarkan hasil musyawarah antara suami dan istri. Persetujuan terkadang dapat diminta dari pihak orang tua, walaupun kadang ada juga orang tua yang justru mempunyai peranan penting dalam menentukan alat kontrasepsi.
Di wilayah penelitian ini, dukungan istri memiliki perbedaan sebagian suami yang memilih alat kontrasepsi kondom juga mendapatkan keluhan dari istri karena istri merasa tidak nyaman jika dalam berhubungan intim suami menggunakan kondom, salah satu responden yang memilih kondom menyatakan bahwa istri tidak merasa terganggu atau mendapatkan dukungan yang baik tentang alat kontrasepsi kondom. Selain hal tersebut ada juga istri yang memang tidak setuju dengan penggunaan alat kontrasepsi kondom.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dukungan istri/keluarga sangat besar pengaruhnya terhadap pemilihan alat kontrasepsi kondom. Bila dukungan yang diberikan istri/keluarga lebih besar untuk memilih alat kontrasepsi kondom maka ia akan memilih alat kontrasepsi kondom, begitu sebaliknya. Menurut Becker (dalam Cherawaty, 2004) untuk mendapatkan tingkat penerimaan yang benar tentang kerentanan, kegawatan dan keuntungan tindakan melawan dan mengobati penyakit diperlukan faktor eksternal seperti nasehat, anjuran dari teman-teman dan keluarga.
7. Sikap Petugas Kesehatan
Dukungan petugas kesehatan dalam hal ini adalah peran penyuluh dari dinas kesehatan sangat besar dalam mempengarui pendapat masyarakat dalam upaya meningkatkan program kondomisasi. Sarwono (dalam Cherawaty, 2004) menyatakan bahwa hubungan dokter-pasien atau petugas kesehatan merupakan titik tolak keberhasilan atau kegagalan upaya peningkatan kesadaran masyarakat akan hidup sehat, petugas kesehatan bertugas juta sebagai pendidik kesehatan.
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan di Kecamatan Metro Timur, seluruh responden menyatakan belum pernah mendapatkan penyuluhan dari pihak petugas kesehatan. Namun mereka mendapatkan informasi hanya melalui media massa. Kurangnya penyuluhan dari pihak petugas kesehatan jelas akan mempengaruhi suami dalam memilih alat kontrasepsi kondom.
Dalam http://www.aidsindonesia.or.id.2008 disebutkan bahwa petugas dan pengelola KB di lapangan umumnya merespon positif dan mendukung pelaksanaan peningkatan pastisipasi pria dalam KB dan kesehatan reproduksi, namun demikian karena keterbatasan sumber dana, daya dan tenaga, program ini masih mengalami banyak hambatan yang perlu mendapat perhatian dalam pelaksanaannya, seperti pengetahuan dan sikap PUS tentang metode KB pria masih belum seimbang.
ARTIKEL DAN INFORMASI LAINNYA
Faktor-faktor yang mempengaruhi ibu menyusui mengalami putting susu lecet pada awal laktasi
faktor penyebab suami memilih vasektomi dan tidak memilih vasektomi
SOP JANIN MANUSIA
KEKEJAMAN TENTARA PERANG SALIB DAN KEADILAN SALAHUDDIN
ALAT PERAGA PENGAJARAN DI SEKOLAH DASAR
Contoh Judul Karya Tulis, PTK (Penelitian Tindakan Kelas)
CONTOH PENELITIAN DENGAN MENGGUNAKAN METODE ANALISIS KUALITATIF
Sebuah Argumen Yahudi Atheis Terhadap Statemen Paus Benedictus XVI
HIPEREMESIS GRAFIDARUM
CIDERA KEPALA RINGAN
Sistem Kardio Vaskuler: DECOMPENSATIO CORDIS
SEROSIS HEPATIS
HEPATITIS
ULKUS DIABETES MELLITUS
ASMA BRONKIAL
GANGGUAN JIWA HALUSINASI (SCYZOFRENIA)
TB PARU, TBC
ISPA
DIARE
MENINGITIS
PENGOBATAN CARA NABI, THIBBUN NABAWI
PENDERITA ASMA
SEKS PRANIKAH FREE SEKS SEK BEBAS
ANALISIS KUALITATIF
JUMLAH PENDUDUK DUNIA
BUDIDAYA CABE UNGGUL
CONTOH PIDATO BAHASA INGGRIS, NASKAH PIDATO
CONTOH JUDUL KTI (KARYA TULIS ILMIAH) KEBIDANAN
MANFAAT MADU
MANFAAT KURMA


