==============================================
PENGUMUMAN !!! HARUS DIBACA!!!
==============================================

KARENA BANYAKNYA PESANAN MAKA UNTUK MEMPERLANCAR PROSES PEMBUATAN DIHARAP BAGI PEMESAN DAPAT MENGIRIMKAN CONTOH DAFTAR ISI, KARENA SISTEMATIKA PENULISAN MASING-MASING KAMPUS BIASANYA MEMILIKI PERBEDAAN.

BAGI PEMESAN KTI YANG SEKALIGUS MEMESAN BUKU REFERENSI DIHARAPKAN DAPAT MENGIRIMKAN ALAMAT YANG JELAS AGAR PROSES PENGIRIMAN BUKU TIDAK MENGALAMI HAMBATAN

BAGI MAHASISWA YANG MEMINTA BANTUAN PENGOLAHAN DATA HASIL PENELITIAN, MAKA DIHARAPKAN DAPAT MENGISI TABEL PENGOLAHAN DATA YANG KAMI SEDIAKAN DENGAN BENAR SEHINGGA PROSES UJI STATISTIK TIDAK MENGALAMI ERROR.

=====================================
PESAN KAMI... PENTING UNTUK DIBACA!!!
=====================================
IKUTILAH PETUNJUK/SARAN PEMBIMBING, JIKA TERJADI REVISI BERUSAHALAH SENDIRI SEMAMPUNYA, JIKA MASIH BINGUNG HUBUNGI KAMI.

LAKUKANLAH PENELITIAN DENGAN JUJUR, JANGAN MENGARANG HASIL PENELITIAN. JIKA MEMANG KESULITAN DALAM PENGOLAHAN DATA MAKA SILAHKAN HUBUNGI KAMI KARENA KAMI JUGA MELAYANI JASA PENGOLAHAN DATA.

KARENA ADA BEBERAPA PEMESAN KTI YANG BINGUNG DALAM PROSES PEMBAYARAN (PORSES TRANFER) MAKA SILAHKAN KLIK DI SINI UNTUK MENGETAHUI PANDUAN/CARA TRANFER.


====================================================

JUDUL KTI KEBIDANAN TERBARU!!!!

Selasa, 24 Maret 2009

HIPEREMESIS GRAVIDARUM

Kehamilan merupakan suatu proses fisiologis yang terjadi pada wanita di mana masa kehamilan dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin, lamanya kehamilan normal yaitu 280 hari (40 minggu atau 9 bulan 7 hari) dihitung dari pertama haid terakhir. Pengawasan antenatal memberikan manfaat bagi ibu hamil dan ditemukannya berbagai masalah/kelainan yang menyertai kehamilan secara dini. Berdasarkan penelitian WHO di selutuh duniat erdapat kematian sebesar 500.000 jiwa pertahun saat hamil atau bersalin dan kematian bayi khususnya neonatal sebesar 10.000.000 jiwa pertahuan saat hamil atau bersalin jiwa per tahun. Di negara berkembang antara 750-100 per 100.000 kelahiran hidup dan kematian maternal sebesar 99%. Tingginya AKI di id yaitu 390 per 100.000 kelahiran hidup (SDKI, 1994) tertinggi di ASEAN dan penyebab langsung kematian ibu di Indonesia adalah perdarahan infeksi, eklamsi, partus lama dan komplikasi abortus.

Mengingat pentingnya peningkatan kesehatan ibu dan bayi baru lahir, tanggal 12 Oktober 2000 pemerintah telah mencanangkan gerakan nasional kehamilan aman atau making pregnancy safer (MPS) sebagai strategi pembangunan kesehatan masyarakat menuju Indonesia sehat 2010 sebagai bagian dari program safe motherhood dalam arti kata luas tujuan safe motherhood dan makin pregnancy safer sama, yaitu melindungi hak reproduksi dan hak asasi manusia dengan cara mengurangi beban kesakitan, kecacatan dan kematian yang berhubungan dengan kehamilan dan persalinan yang sebenarnya tidak perlu terjadi. MPS merupakan strategi sektor kesehatan yang terfokus pada pendekatan perencanaan sistematis dan terpadu dalam melaksanakan intervensi klinis dan pelayanan kesehatan.

Pembuatan manajemen ini juga untuk menggunakan cakupan pelayanan antenatal, salah satu upaya penurunan AKI adalah dengan melakukan pelayanan antenatal yaitu dengan program AANC dengan periode 4 kali kunjungan. Jika upaya penerapan ANC ini dilakukan secara teratur, secara otomatis penurunan AKI dapat diturunkan. Penyuluhan kepada ibu hamil perlu dilakukan karena banyak ibu hamil yang tidak mengerti arti pentingnya pemeriksaan kehamilan, terutama penyuluhan tentang komplikasi sebagai akibat langsaung kehamilan yang merupakan hal yang patologis, salah satunya “Hyperemesis Gravidarum”. Hal ini merupakan gejala yang wajar dan sering didapatkan pada kehamilan trimeter I. Terjadinya pada pagi hari tapi bisa juga timbul setiap saat dan malam hari, mual dan muntah terjadi 6080% primigravida dan 40-60% multi gravida yang dapat berlangsung selama 4 bulan.

Diharapkan di Indonesia AKI menurun sebesar 75% pada tahun 2010 dari tahun 1990. di Indonesia pada tahun 2010 nanti seperti disebutkan dalam kontes pembangunan kesehatan menuju Indonesia sehat 2010 yaitu visinya adalah kehamilan dan persalinan di Indonesia berlangsung aman dapat terwujud dan standar pelayanan dapat ditingkatkan serta dimiliki oleh setiap pelaksanaan pelayanan kesehatan.

Definisi
Hiperemesis Gravidarum adalah keadaan dimana penderita mual dan muntah/tumpah yang berlebihan, lebih dari 10 kali dalam 24 jam atau setiap saat, sehingga mengganggu kesehatan dan pekerjaan sehari-hari.
Mual (nause) dan muntah (emesis gravidarum) adalah gejala yang wajar yang sering kedapatan pada kehamilan trimester I. Mual biasanya terjadi pada pagi hari, tetapi dapat pula timbul setiap saat dan malam hari. Gejala-gejala ini kurang lebih terjadi 6 minggu setelah hari pertama haid terakhir dan berlangsung selama kurang lebih 10 minggu.

Perasaan mual ini disebabkan oleh karena meningkatnya kadar hormon estrogen dan HCG dalam serum.

Etiologi
Penyebab Hiperemesis Gravidarum belum diketahui secara pasti. Beberapa faktor yang telah ditemukan yaitu :
1. Faktor presdisposisi yang sering dikemukakan adalah prininggravida, mola hidatidosa dan kehamilan ganda.
2. Masuknya vili khorialis dalam sirkulasi maternal dan perubahan metabolic akibat hamil serta resistensi yang menurun dari pihak ibu terhadap perubahan, ini merupakan faktor organic.
3. Alergi sebagai salah satu respons dari jaringan ibu terhadap anak.
4. Faktor psikologi memegang peranan penting pada penyakit ini, rumah tangga retak, kehilangan pekerjaan, takut terhadap kehamilan dan persalinan. Takut terhadap tanggug jawab sebagai ibu.

Patologi

1. Hati
Pada hipermesis gravidarum tanpa komplikasi hanya ditemukan degenerasi lemak tanpa nekronis, degenerasi lemak tersebut terletak sentrilobuler.
2. Jantung
Jantung menjadi lebih kecil dari pada biasanya dan beratnya atrofi, ini sejalan dengan lamanya penyakit.
3. Otak
Adakalanya terdapat bercak-bercak pendarahan pada otak dan kelainan seperti pada ensefolopati wernicle dapat dijumpai.
4. Ginjal
Ginjal tampak pucat dan generasi lemak dapat ditemukan pada tabuli konturti.


Gejala dan tanda
Hiperemesis Gravidarum, menurut berat ringannya dapat dibagi kedalam 3 (tiga) tingkatan.
1. Tingkat I
Mual terus menerus yang mempengaruhi keadaan umum penderita, ibu merasa lemah, nafsu makan tidak ada, berat badan menurun dan merasa nyeri pda epigastrium, nadi meningkat sekitar 100/menit, tekanan darah sistolik menurun, turgor kulit mengurang, lidang mengering dan mata cekung.
2. Tingkat II
Penderita tampak lebih lemah dan apatis, turgor kulit lemah mengurang, lidah mengering dan nampak kotor, nadi kecil dan cepat, suhu kadang-kadang naik dan mata sedikit ikteris, berat badan turun dan mata menjadi cekung, tensi turun, hemokonsentrasi, oliguria dan konstipasi. Aseton tercium dalam hawa pernafasan karena mempunyai aroma yang khas dan dapat pula ditemukan dalam kencing.
3. Tingkat III
Keadaan umum lebih parah, muntah keadaan umum lebih parah, muntah henti, kesadaran menurun dari somnolen sampai koma, nadi kecil dan cepat, suhu meningkat tensi menurun, komplikasi fatal terjadi pada susunan syaraf yang dikenal sebagai ensefalopati werniele, dengan gejala : nistagmus, dipolpia dan perubahan mental, keadaan ini adalah akibat sangat kekurangan zat makanan, termasuk vitamin B kompleks, timbulnya ikterus menunjukkan adanya payah hati.

Diagnosis
Diagnosis Hiperemesis Gravidarum biasanya tidak sukar. Harus ditentukan adanya kehamilan muda dan muntah yang terus menerus, sehingga mempengaruhi keadaan umum. Hiperemesis Gravidarum yang terus menerus dapat menyebabkan kekurangan makanan yang dapat mempengaruhi perkembangan janin, sehingga pengobatan perlu segera diberikan.

Pengolahan

1. Obat-obatan
Sedativa yang siring diberikan adalah phenobarbital, vitamin yang dianjurkan adalah vitamin B1 dan B6. Anti histamika juga dianjurkan seperti dramamin, ovamin pada keadaan lebih kuat diberikan antimetik seperti disiklomin hidrokhloride atau khlorpromasin.
2. Isolasi
Penderita disendirikan dalam kamar yang tenang, tetapi cerah dan peredaran udara baik. Cacat cairan yang keluar dan masuk. Hanya dokter dan perawat yang boleh masuk ke dalam kamar penderita. Sampai muntah berhenti dan penderita mau makan, tidak diberikan makan/minum selama 24 jam. Kadang-kadang dengan isolasi saja gejala-gejala akan berkurang atau hilang tanpa pengobatan.
3. Terapi Psikologik
Perlu diyakinkan kepada penderita bahwa penyakit dapat disembuhkan, hilangkan rasa takut oleh karena kehamilan, kurangi pekerjaan serta menghilangkan masalah dan konflik yang kiranya dapat menjadi latar belakang penyakit ini.
4. Cairan Parenteral
Berikan cairan parental yang cukup elektrolit, karbohidrat dan protein dengan glukose 5% dalam cairan garam fisiologik sebanyak 2-3 liter sehari. Bila perlu dapat ditambah kalium dan vitamin, khususnya vitamin B kompleks dan vitamin C dan bila ada kekurangan protein, dapat diberikan pula asam amino secara intravena.
5. Penghentian kehamilan
Bila keadaan memburuk dilakukan pemeriksaan medik dan psikiatrik, manifestasi komplikasi organis adalah delirium, kebutuhan, takikardi, ikterus, anuria dan perdarahan dalam keadaan demikian perlu dipertimbangkan untuk mengakhiri kehamilan keadaan yang memerlukan pertimbangan gugur kandung diantaranya :

a. Gangguan kejiwaan
- Delirium
- Apatis, somnolen sampai koma
- Terjadi gangguan jiwa ensepalopati wernicle

b. Gangguan penglihatan
- Pendarahan retina
- Kemunduran penglihatan

c. Gangguan faal
- Hati dalam bentuk ikterus
- Ginjal dalam bentuk anuria
- Jantung dan pembuluh darah terjadi nadi meningkat
- Tekanan darah menurun

CIDERA KEPALA RINGAN

Cedera kepala merupakan salah satu penyebab kematian dan kecacatan utama pada kelompok usia produktif dan sebagian besar terjadi akibat kecelakaan lalu lintas (Mansjoer, 2007: 3).
Di dunia diperkirakan sebanyak 1,2 juta jiwa nyawa melayang setiap tahunnya sebagai akibat kecelakaan bermotor, diperkirakan sekitar 0,3-0,5% mengalami cedera kepala. Di Indonesia diperkirakan lebih dari 80% pengendara kendaraan mengalami resiko kecelakaan. 18% diantaranya mengalami cedera kepala dan kecederaan permanen, tingginya angka kecelakaan lalu lintas tidak terlepas dari makin mudahnya orang untuk memiliki kendaraan bermotor dan kecelakaan manusia.
(Shell, 2008)

1. Pengertian
Cedera kepala ringan adalah hilangnya fungsi neurology atau menurunnya kesadaran tanpa menyebabkan kerusakan lainnya (Smeltzer, 2001:2211).
Cedera kepala ringan adalah trauma kepala dengan GCS: 15 (sadar penuh) tidak ada kehilangan kesadaran, mengeluh pusing dan nyeri kepala, hematoma, laserasi dan abrasi (Mansjoer, 2000:4).

Cidera kepala ringan adalah cedara otak karena tekanan atau kejatuhan benda tumpul.
(Bedong, M.A, 2001)

Cedera kepala ringan adalah cedera kepala tertutup yang ditandai dengan hilangnya kesadaran sementara (Corwin, 2000: 176)
Jadi cedera kepala ringan adalah cedera karena tekanan atau kejatuhan benda tumpul yang dapat menyebabkan hilangnya fungsi neurology sementara atau menurunya kesadaran sementara, mengeluh pusing nyeri kepala tanpa adanya kerusakan lainnya.

2. Etiologi
a. Trauma tumpul : Kecepatan tinggi (tabrakan motor dan mobil)
kecepatan rendah (terjatuh, dipukul)
b. Trauma tembus : Luka tembus peluru dari cedera tembus lainnya (Mansjoer, 2000: 3)
3. Klasifikasi Klinis
a. Cedera kepala ringan
CGS : 15, Tidak ada konkusi, pasien dapat mengeluh nyeri kepala dan pusing, pasien dapat menderita abrasi, laserasi atau hematoma kulit kepala.
b. Cedera kepala sedang
CGS : 9-14, konkusi, amnesia pasca trauma, muntah, tanda fraktur tengkorak, kejang.
c. Cedera kepala berat
GCS : 3-8, penurunan derajat kesadaran secara progresif, Tanda neurologist fokal.
(Mansjoer, 2000 :4)

4. Tanda dan Gejala
a. Hilangnya tingkat kesadaran sementara
b. Hilangnya fungsi neurology sementara
c. Sukar bangun
d. Sukar bicara
e. Konkusi
f. Sakit kepala berat
g. Muntah
h. Kelemahan pada salah satu sisi tubuh


Sistem Kardio Vaskuler: DECOMPENSATIO CORDIS

Gagal jantung (decompencatio cordis) yaitu suatu keadaan atau patofisiologi dimana jantung sebagai pompa tidak mampu memenuhi kebutuhan darah untuk metabolisme jaringan.
(Ruhyanuddin, 2006: 80)

Gagal jantung heart failure adalah tahap akhir yang sering fatal pada penyakit jantung, karena penderita yang didiagnosa gagal jantung bagaikan memasuki suatu fase tiada jalan kembali. Gagal jantung adalah satu-satunya jenis penyakit jantung yang morbiditas dan mortalitasnya justru meningkat, walaupun telah banyak dilakukan penelitian untuk mengetahui patofisiologi serta pengobatannya. Faktanya saat ini 50% penderita gagal jantung akan meninggal dalam waktu 5 tahun, sejak diagnosanya ditegakkan. Begitu juga dengan risiko untuk menderita gagal jantung, belum bergerak dari 10% untuk kelompok di atas 70 tahun, dan 5% untuk kelompok usia 60-69 tahun serta 2% untuk kelompok usia 40-59 tahun.

Data dari American Heart Association Society (AHA) 2003 menunjukkan, peran gagal jantung sebagai penyebab menurunnya kualitas hidup penderita dan penyebab kematian justru bertambah. Di AS 4,8 juta penderita dengan gagal jantung dan setiap tahun bertambah 550 ribu. Setiap tahun gagal jantung menyebabkan kematian 290 ribu orang.

Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO) jumlah penderita gagal jantung mencapai 22 juta pasien pada tahun 2002. Sedangkan di Indoensia menurut catatan Pusat Jantung Nasional Harapan Kita (bagian kardoiologi FKUI) melaporkan peningkatan dari 9% ditahun 1999 menjadi 11% ditahun 2001, dengan angka kematian 9% ditahun 2004 dengan angka kematian 8% di tahun 2007.

Sekian banyaknya kasus penyakit jantung, gagal jantung menjadi yang terbesar. Bahkan, di masa yang akan datang, penyakit ini diprediksi akan terus bertambah jumlah penderitanya. Menurut Syaifullah, dokter spesialis penyakit jantung Rumah Sakit Raden Mattaher Jambi, gagal jantung merupakan penyakit yang kompleks, di samping gagal jantung adalah suatu keadaan yang progresif dengan prognosis yang buruk.


SEROSIS HEPATIS

Serosis hepatis adalah penyakit hati menahun yang mengenai seluruh organ hati, ditandai dengan pembentukan jaringan ikat disertai nodul.

Penyakit hati yang kronis, termasuk serosis hepatis, berada pada urutan 9 sebagai penyakit yang paling sering menyebabkan kematian di Amerika Serikat kurang lebih 46% dari kematian tersebut berkaitan dengan konsumsi alkohol. Angka penyakit hati kronis untuk laki-laki adalah dua kali lipat lebih tinggi dari pada untuk wanita, penyakit hati kronis lebih sering dijumpai pada populasi Afro-Amerika dari pada kulit putih. (Smeltzer, 2001: 1153).
Angka kasus penyakit hati menahun di Indonesia sangat tinggi, jika tidak segera diobati, penyakit itu dapat berkembang menjadi serosis atau kanker hati. Untuk mengatasi hal itu, cangkok hati diperlukan agar penderita bisa hidup lebih lama dengan kualitas hidup yang baik dan dapat beraktivitas seperti semula tanpa ada batasan.
Menurut Prof. Ali Sukiman ahli hati, sekitar 20 juta penduduk Indonesia terserang penyakit hati menahun. Angka ini merupakan perhitungan dari prevalensi penderita dengan infeksi hepatitis B di Indonesia yang berkisar 5-10 % dan hepatitis C sekitar 2-3 %. Dalam perjalanan penyakitnya, 20-40% dari jumlah penderita penyakit hati menahun itu akan menjadi serosis hati dalam waktu sekitar 15 tahun tergantung sudah berapa lama seseorang menderita hepatitis menahun itu. (http://kompas.com).
Ini berarti sejumlah 4-8 juta pengidap virus itu akan jadi serosis hati. Tahapannya ada dua, tahap pertama adalah serosis hati awal atau disebut sebagai serosis hati yang belum terdapat komplikasi. Jika tidak melaksanakan pengobatan dan dibiarkan tidak terobati karena lalai atau tidak tahu, maka dalam beberapa waktu penderita yang semua tidak timbul komplikasi akan masuk dalam tahap serosis dengan komplikasi.

Proses perjalanan ke arah komplikasi ini bisa 5 tahun atau lebih tergantung beberapa faktor seperti gender, usia, penggunaan alkohol dan adanya penyakit penyerta. Komplikasi yang bisa terjadi diantaranya adanya cairan dalam rongga perut, kuning dan kanker hati. Jika telah muncul komplikasi, maka penderita itu sudah merupakan indikasi untuk cangkok hati.


HEPATITIS

Hepatitis sangat mematikan dan sulit terdeteksi secara dini. Menurut Masatoshi Makuuci penyakit hepatitis adalah masalah kesehatan global dan penyebab kesakitan serta kematian yang cukup besar di dunia. Dari data organisasi kesehatan dunia (WHO) virus hepatitis B kronis diperkirakan menyerang 350 juta orang di dunia, terutama Asia tenggara dan Afrika, dan menyebabkan kematian 1,2 juta orang pertahun. Dari jumlah itu 15 – 25% yang terinfeksi kronis meninggal dunia karena komplikasi dari sirosis dan kanker hati. Virus hepatitis B menjadi pembunuh nomor 10 di dunia dengan jumlah orang terinfeksi mencapai 2 milyar jiwa.

Ali Sulaiman mengatakan virus hepatitis menginfeksi sekitar 2 milyar orang di dunia. Setiap tahun lebih dari 1 juta orang meninggal dunia akibat hepatitis B berserta komplikasinya.Kini sekitar 10 % penduduk Indonesia menderita hepatitis dan yang tersering adalah hepatitis A, B, dan C. Prevalensi di Indonesia sekitar 5 – 10% jumlah penduduk atau sekitar 11 juta orang.

Hepatitis adalah suatu proses peradangan pada jaringan hati. (Seri Agrisehat, 2004: 4)
Di indonesia angka kejadian hepatitis B mencapai 5-10% dari total penduduk. Dari tahun ketahun jumlah penderita hepatitis B di Indonesia terus meningkat karena infeksi tersembunyi dari penyakit hepatitis ini membuat sebagian besar orang merasa sehat dan tidak menyadari bahwa mereka terinfeksi dan berpotensi untuk menularkan virus kepada orang lain. Selain itu penyebaran virus hepatitis ini dapat melalui transmisi perinatal dan horizontal sehingga sebesar 6% orang yang terinfeksi hepatitis sekitar usia 5 tahun akan menjadi kronik.

Sekitar 15 – 40 % dari seluruh penderita hepatitis akan mengalami perburukan penyakit. Perkembangan penyakit dipicu dari faktor-faktor seperti muatan virus, umur saat infeksi, status imun penjamu dan alkohol.


ENSEFALITIS

Ensefalitis adalah peradangan akut otak yang disebabkan oleh infeksi virus. Terkadang ensefalitis dapat disebabkan oleh infeksi bakteri, seperti meningitis, atau komplikasi dari penyakit lain seperti rabies (disebabkan oleh virus) atau sifilis (disebabkan oleh bakteri). Penyakit parasit dan protozoa seperti toksoplasmosis, malaria, atau primary amoebic meningoencephalitis, juga dapat menyebabkan ensefalitis pada orang yang sistem kekebalan tubuhnya kurang. Kerusakan otak terjadi karena otak terdorong terhadap tengkorak dan menyebabkan kematian.

Komplikasi jangka panjang dari ensefalitis berupa sekuele neurologikus yang nampak pada 30 % anak dengan berbagai agen penyebab, usia penderita, gejala klinik, dan penanganan selama perawatan. Perawatan jangka panjang dengan terus mengikuti perkembangan penderita dari dekat merupakan hal yang krusial untuk mendeteksi adanya sekuele secara dini. Walaupun sebagian besar penderita mengalami perubahan serius pada susunan saraf pusat (SSP), komplikasi yang berat tidak selalu terjadi. Komplikasi pada SSP meliputi tuli saraf, kebutaan kortikal, hemiparesis, quadriparesis, hipertonia muskulorum, ataksia, epilepsi, retardasi mental dan motorik, gangguan belajar, hidrosefalus obstruktif, dan atrofi serebral

Ensefalitis selain menjadi masalah di China juga merupakan penyakit yang menjadi masalah dibeberapa negara Asia lainnya, seperti: Jepang, Korea, Thailand, Taiwan, India. Negara yang masih mempunyai wabah berkala termasuk Vietnam, Cambodia, Myanmar, Nepal, dan Malaysia. Selain menyebabkan ensefalitis dengan cacat mental apabila sembuh, angka kematian yang ditimbulkan juga cukup tinggi. Penyakit ini ditularkan kepada manusia dengan melalui gigitan nyamuk Culex sp., Anopheles sp. Reservoir utama dari virusnya adalah babi.

Di Indonesia virus Japanese Echepalitis sudah banyak diisolasi baik dari vektornya maupun babi dan binatang mamalia yang lain, seperti; sapi, ayam dan kambing. Prevalensi dari kasus Japanesese encephalitis di Indonesia belum diketahui dengan pasti. Memang banyak dilaporkan adanya kasus ensefalitis dari rumah sakit di Indonesia, tetapi apakah ensefalitis itu disebabkan oleh virus Japanese Encephalitis tidak diketahui.

Dalam sebuah penelitian yang dilakukan di RSCM Jakarta didapatkan sebuah hasil bahwa dari 95 penderita ensefalitis karena infeksi virus. Dalam penelitian yang menggunakan metode yang spesifik dan sensitive yaitu ELISA diketemukan hanya 9 spesimen yang positif artinya ensefalitis disebabkan oleh virus Japanese Encephalitis.


ULKUS DIABETES MELLITUS

Diabetes melitus yang lebih dikenal dengan kencing manis merupakan sekelompok kelainan heterogen yang ditandai dengan kenaikan kadar glukosa dalam darah/hiperglikemia. Penyakit ini berjalan kronis dan terbagi dua yaitu gangguan pada pembuluh darah besar (makrovaskular) disebut makroangiopati, dan pada pembuluh darah halus (mikrovaskular) disebut mikroangiopati. Bila yang terkena pembuluh darah di otak timbul stroke, bila pada mata terjadi kebutaan, pada jantung penyakit jantung koroner yang dapat berakibat serangan jantung/infark jantung, pada ginjal menjadi penyakit ginjal kronik sampai gagal ginjal tahap akhir sehingga harus cuci darah atau transplantasi. Bila pada kaki timbul luka yang sukar sembuh sampai menjadi busuk (gangren) (Smettzer, 2002: 1220).

Ulkus kaki merupakan suatu komplikasi yang umum bagi pasien dengan diabetes mellitus, penyembuhan luka yang lambat dan meningkatkan kerentanan terhadap infeksi cenderung terjadi. Gangguan dapat berkembang dan terdapat resiko tinggi perlu dilakukan amputasi tungkai bawah. (Morison, 2004: 181)

Menurut data statistik dari WHO tahun 1995 terdapat 135 juta penderita DM di seluruh dunia, tahun 2005 jumlah penderita DM meningkat mencapai sekitar 230 juta. Di Indonesia sendiri Pada 2006, jumlah penyandang diabetes (diabetasi) mencapai 14 juta orang. Dari jumlah itu, baru 50% penderita yang sadar mengidap, dan sekitar 30% di antaranya melakukan pengobatan secara teratur. Menurut beberapa penelitian epidemiologi, prevalensi diabetes di Indonesia berkisar 1,5% sampai 2,3%, kecuali di Manado yang cenderung lebih tinggi, yaitu 6,1 %. Faktor lingkungan dan gaya hidup yang tidak sehat, seperti makan berlebihan, berlemak, kurang aktivitas fisik, dan stres berperan besar sebaga pemicu diabetes. Tapi, diabetes juga bisa muncul karena faktor keturunan (Anonim, 2008).

Pada tahun 2006, sedikitnya 350 ribu orang atau 5 persen dari jumlah penduduk Lampung terserang diabetes. Penyakit ini juga bisa menyerang siapa saja mulai balita hingga orang tua. Berdasarkan survei, penyakit ini teryata membunuh lebih banyak manusia dibandingkan HIV/AIDS.


ASMA Bronkial

Asma adalah suatu kelainan berupa inflamasi kronik saluran napas yang menyebabkan sensitifnya trakea dan cabang-cabangnya (hipereaktivitas bronkus) terhadap berbagai rangsangan. Rangsangan ini dapat menimbulkan obstruksi saluran napas yang menyeluruh dengan derajat yang bervariasi dan dapat membaik dengan atau tanpa diobati. Pada kelainan ini berperan berbagai sel inflamasi antara lain sel mast dan eosinofil. Penyakit asma dapat terjadi pada berbagai usia baik laki-laki maupun perempuan.
Angka kejadian asma bervariasi di berbagai negara, tetapi terlihat kecenderungan bahwa penderita penyakit ini meningkat jumlahnya, meskipun belakangan ini obat-obat asma banyak dikembangkan. Di negara maju angka kesakitan dan kematian karena asma juga terlihat meningkat. Tanggal 4 Mei 2004 ditetapkan oleh Global Initiative in Asthma (GINA) sebagai World Asthma Day (Hari Asma se-Dunia). Menurut data organisasi kesehatan dunia (WHO), penyandang asma di dunia mencapai 100-150 juta orang. Jumlah ini diduga terus bertambah sekitar 180 ribu orang per tahun.

Di negara tetangga seperti Malaysia, Thailand, Brunei Darussalam dan Singapura, bronkitis, emfisema dan asma merupakan penyebab kematian ke delapan. Penelitian di Amerika Serikat mendapatkan prevalensi asma sekitar 3%, sementara di Inggris angkanya adalah sekitar 5%. Penelitian pada guru-guru di India menghasilkan prevalensi asma sebesar 4,1 %, sementara laporan dari Taiwan menunjukkan angka 6,2%.
National Health Interview Survey di Amerika Serikat memperkirakan bahwa setidaknya 7,5 juta orang penduduk negeri itu mengidap bronkitis kronik, Iebih dari 2 juta orang menderita emfisema dan setidaknya 6,5 juta orang menderita salah satu bentuk asma. Di tahun 1981 di Amerika Serikat dilaporkan ada 60.000 kematian akibat PPOM dan keadaan yang berhubungan dengannya. Laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam World Health Report 2000 menyebutkan, lima penyakit paru utama merupakan 17,4% dari seluruh kematian di dunia, masing-masing infeksi paru 7,2%, PPOK 4,8%, tuberkulosis 3,0%, kanker, paru/trakea/bronkus, 2,1%, dan asma 0,3%.

Peningkatan penderita asma bronchial juga terjadi di Indonesia, penelitian pada anak sekolah usia 13-14 tahun dengan menggunakan kuesioner ISAAC (International Study on Asthma and Allergy in Children) tahun 1995 menunjukkan, prevalensi asma masih 2,1%, dan meningkat tahun 2003 menjadi dua kali lipat lebih yakni 5,2%.

Asma terbukti menurunkan kualitas hidup penderitanya. Dalam salah satu laporan di Journal of Allergy and Clinical Immunology tahun 2003 dinyatakan bahwa dari 3.207 kasus yang diteliti, 44-51% mengalami batuk malam dalam sebulan terakhir. Bahkan 28,3% penderita mengaku terganggu tidurnya paling tidak sekali dalam seminggu. Penderita yang mengaku mengalami keterbatasan dalam berekreasi atau olahraga sebanyak 52,7%, aktivitas sosial 38%, aktivitas fisik 44,1%, cara hidup 37,1%, pemilihan karier 37,9%, dan pekerjaan rumah tangga 32,6%. Absen dari sekolah maupun pekerjaan dalam 12 bulan terakhir dialami oleh 36,5% anak dan 26,5% orang dewasa. Selain itu, total biaya pengobatan untuk asma di USA sekitar 10 milyar dollar per tahun dengan pengeluaran terbesar untuk ruang emergensi dan perawatan di rumah sakit. Oleh karena itu, terapi efektif untuk penderita asma berat sangat dibutuhkan.

Baru-baru ini Howarth dan rekan menemukan bahwa ekspresi dari sitokin yang disebut tumor necrosis factor alpha (TNF-α) pada saluran napas berkaitan dengan tingkat keparahan asma. TNF-α adalah salah satu sitokin inflamasi yang berhubungan dengan alergi. Hasil penelitiannya memperlihatkan bahwa penderita asma berat memiliki TNF-α yang lebih tinggi konsentrasinya dibandingkan dengan orang normal. Pada penderita asma berat ditemukan bahwa tingkat ekspresi gen TNF-α lebih besar daripada pada penderita asma sedang maupun yang terkontrol, meskipun telah dilakukan terapi kortikosteroid dosis tinggi. Penelitian Berry dan rekan kemudian membuktikan bahwa TNF-α adalah efektor utama hiperresponsivitas bronkial pada penderita asma yang sulit disembuhkan dengan terapi kortikosteroid. Namun faktor TNF-α ini tidak berlaku pada semua tipe asma. Berbeda dengan pada asma berat, pada asma sedang, jumlah TNF-αnya sama dengan penderita asma yang terkontrol.

Halusinasi

Hidup sehat dan memperoleh derajat kesehatan yang optimal itu merupakan hak setiap orang di republik ini, termasuk masalah kesehatan jiwa. Dalam UU No.23 tahun 1992 tentang kesehatan, pasal (4) disebutkan setiap orang mempunyai hak yang sama dalam memperoleh derajat kesehatan yang optimal.

Makna kesehatan itu sendiri diartikan sebagai keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Jadi, betapa indahnya kondisi hidup sehat itu.
Menurut Aris Sudiyanto, ciri utama kesehatan jiwa seseorang, adalah ada keserasian antara pikiran, perasaan, perilaku, dapat mandiri, bertanggung jawab, bersikap matang, serta dapat merasakan kebahagiaan dalam sebagian besar kehidupannya. Kalau salah satu dari ciri utama itu terganggu, berarti kesehatan jiwa seorang individu bisa dikatakan terganggu.

Apabila fungsi kejiwaan seseorang itu terganggu, maka ia dapat mempengaruhi bermacam-macam fungsi seperti pada ingatan, orientasi, psikomotor, proses berpikir, persepsi, intelegensi, pada kepribadian, dan lainnya. Oleh sebab itu, menurut WHO, jika 10 persen dari populasi mengalami masalah kesehatan jiwa maka harus mendapat perhatian karena termasuk rawan kesehatan jiwa. Sejalan dengan paradigma sehat yang dicanangkan Departemen Kesehatan yang lebih menekankan upaya proaktif, melakukan pencegahan daripada menunggu di rumah sakit- kini orientasi upaya kesehatan jiwa lebih pada pencegahan (preventif) dan promotif. Upaya itu melibatkan banyak profesi, selain psikiater/dokter juga perawat, psikolog, sosiolog, antropolog, guru, ulama, jurnalis, dan lainnya.

Menurut Irmansyah, salah seorang psikiater dari Universitas Indonesia, gejala seseorang yang menderita masalah kejiwaan sebenarnya bisa diketahui sejak dini. Dengan demikian, pengobatannya juga dapat diupayakan dengan segera. Namun, hingga kini data nasional untuk mengetahui jumlah penderita gangguan jiwa di Indonesia tidak diketahui secara pasti. Data Badan Kesehatan Dunia (WHO) hingga Oktober tahun 2007 mencatat jumlah penderita gangguan jiwa di Indonesia mencapai 26 juta orang

Pada tahun 2008 data sepuluh besar angka kesakitan rawat inap di Rumah Sakit Jiwa Propinsi Lampung bulan Juli tahun 2008 terhadap 351 pasien dan untuk rawat inap terdapat 189 (53,84%) pasien yang mengalami skizofrenia. Sedangkan di ruang Kutilang pada bulan Juli tahun 2008 terdapat 32 pasien rawat inap diantaranya Halusinasi 22 (68,75%), Isolasi sosial 6 (18,75%), Harga diri rendah 2 (6,25%), Resiko bunuh diri 1 (3,125%), dan Waham 1 (3,125%).

Pengertian halusinasi menurut teori:
Halusinasi adalah perubahan sensori persepsi pendengaran atau penglihatan adalah sesuatu dimana keadaan seseorang mengalami dalam jumlah dan pola dari stimulus yang mendekat (yang diprakarsai secara internal atau eksternal) disertai dengan suatu pengurangan, berlebih-lebihan, destresi, atau kelainan berespon terhadap stimulus.


TB Paru atau TBC

Selama berabad-abad penyakit TB paru telah dikenal sebagai penyakit klinis yang serius dan tersebar luas serta menimbulkan kematian dan ketidakmampuan yang lama di seluruh dunia. Tuberkulosis masih merupakan penyebab utama penyakit dan kematian di negara berkembang. Di Amerika Serikat telah terjadi penurunan besar dalam insiden penyakit ini. Pada tahun 1991 dilaporkan adanya infeksi baru sebanyak 26283, termasuk 1662 infeksi baru pada anak di bawah 19 tahun. Angka ini menunjukkan suatu peningkatan yang berjalan lama pada total infeksi baru dan infeksi pada anak.
Sebagai salah satu penyakit yang ditakuti pada abad ke-19, TB adalah penyebab kematian anak usia 1 hingga 4 tahun pada tahun 20-an. Dengan meningkatnya standar kehidupan dan pelayanan kesehatan di Amerika Serikat, tingkat kejadian TB menurun. Pada tahun 60-an penyakit ini bahkan tidak termasuk di antara 10 penyebab kematian utama pada anak dalam usia berapapun. Namun TB menyerang kembali di Amerika Serikat akhir-akhir ini terutama di antara para gelandangan, narapidana, dan mereka yang rentan akibat berinfeksi HIV. Selain itu, munculnya kasus TBC yang resisten terhadap kombinasi obat juga semakin meningkat. (Harnawatiaj, 2008. Paragraph 2).

Tuberkulosis adalah penyakit infeksi pada manusia yang disebabkan oleh basil tuberkel mamalia (mycobacterium tuberculosis, M. bovis).
Penyakit TBC dapat menyerang siapa saja (tua, muda, laki-laki, perempuan, miskin, atau kaya) dan dimana saja. Setiap tahunnya , Indonesia bertambah dengan seperempat juta kasus baru TBC dan sekitar 140.000 kematian terjadi setiap tahunnya disebabkan oleh TBC. Bahkan, Indonesia adalah negara ketiga terbesar dengan masalah TBC di dunia. Survei prevalensi TBC yang dilakukan di enam propinsi pada tahun 1983 – 1993 menunjukkan bahwa prevalensi TBC di Indonesia berkisar antara 0,2–0,65%. Sedangkan menurut laporan penanggulangan TBC global yang dikeluarkan oleh WHO pada tahun 2004, angka insidensi TBC pada tahun 2002 mencapai 555-000 kasus (256 kasus/100.000 penduduk), dan 46% diantaranya diperkirakan merupakan kasus baru.
TB paru pada anak dapat tidak menimbulkan gejala, TB dapat terdeteksi kalau diketahui adanya kontak dengan pasien TBC dewasa. Kira-kira 30-50% anak yang kontak dengan penderita TBC paru dewasa memberikan hasil uji tuberkulin positif. Pada anak usia 3 bulan – 5 tahun yang tinggal serumah dengan penderita TBC paru dewasa dengan BTA positif, dilaporkan 30% terinfeksi berdasarkan pemeriksaan serologi/darah.

Uji tuberculin pada anak merupakan pemeriksaan paling bermanfaat untuk menunjukkan sedang/pernah terinfeksi mikrobakterium tuberculosa dan sering digunakan dalam “screening TBC”. Efektifitas dalam menemukan infeksi TBC dengan uji tuberculin adalah lebih dari 90%.
Penderita anak umur kurang dari 1 tahun yang menderita TBC aktif uji tuberculin positif 100%, umur 1-2 tahun 92%, 2-4 tahun 78%, 4-6 tahun 75%, dan umur 6-12 tahun 51 %. Dari persentase tersebut dapat dilihat bahwa semakin besar anak maka hasil uji tuberkulin semakin kurang spesifik.
(Medicastore, 2008. Paragraph 3)


ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Atas)

Salah satu penyakit yang banyak diderita oleh masyarakat adalah ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Atas ) yaitu meliputi infeksi akut saluran pernapasan bagian atas dan infeksi akut saluran pernapasan bagian bawah. ISPA adalah suatu penyakit yang terbanyak diderita oleh anak- anak, baik dinegara berkembang maupun di negara maju dan banyak dari mereka perlu masuk rumah sakit karena penyakitnya cukup gawat. Penyakit-penyakit saluran pernapasan pada masa bayi dan anak-anak dapat pula memberi kecacatan sampai pada, masa dewasa. Dimana ditemukan adanya hubungan dengan terjadinya Chronic Obstructive Pulmonary Disease. (Rosmaliah, 2008. Paragraph 1)
ISPA masih merupakan masalah kesehatan yang penting karena menyebabkan kematian bayi dan balita yang cukup tinggi yaitu kira-kira 1 dari 4 kematian yang terjadi. Setiap anak diperkirakan mengalami 3-6 episode ISPA setiap tahunnya. 40 % -60 % dari kunjungan di puskesmas adalah oleh penyakit ISPA. Dari seluruh kematian yang disebabkan oleh ISPA mencakup 20 % -30 %. Kematian yang terbesar umumnya adalah karena pneumonia pada bayi berumur kurang dari 2 bulan. (Rosmaliah, 2008. Paragraph 3)

Hingga saat ini angka mortalitas ISPA yang berat masih sangat tinggi. Kematian seringkali disebabkan karena penderita datang untuk berobat dalam keadaan berat. Data morbiditas penyakit pneumonia di Indonesia per tahun berkisar antara 10 -20 % dari populasi balita. Hal ini didukung oleh data penelitian di lapangan (Kecamatan Kediri, NTB adalah 17,8 % ; Kabupaten Indramayu adalah 9,8 %). Bila kita mengambil angka morbiditas 10 % pertahun, ini berarti setiap tahun jumlah penderita pneumonia di Indonesia berkisar 2,3 juta. Penderita yang dilaporkan baik dari rumah sakit maupun dari Puskesmas pada tahun 1991 hanya berjumlah 98.271. Diperkirakan bahwa separuh dari penderita pneumonia didapat pada kelompok umur 0-6 bulan. (Rosmaliah, 2008. Paragraph 2)


DIARE

Menurut catatan WHO (World Health Organization), diare membunuh 2 juta anak di dunia setiap tahun. Di Inggris, satu dari lima orang menderita diare infeksi setiap tahunnya, dan satu dari enam orang pasien yang berobat ke praktek umum menderita diare infeksi. Tingginya kejadian diare di negara barat oleh karena foodborne infections dan waterborne infections yang disebabkan bakteri salmonella spp, Campylobacter jejuni, Stafhilococcus aureus, Bacillus cereus, Clostridium perfringens dan Enterohemorrhagic Escherichia coli (EHEC). Diare infeksi di negara berkembang, menyebabkan kematian, sekitar 3 juta penduduk setiap tahun. Di Afrika anak terserang infeksi diare 7 kali setiap tahunnya dibanding di negara berkembang lainnya mengalami serangan diare 3 kali setiap tahun.

Angka kejadian diare, penyakit yang ditandai perubahan konsistensi tinja dan peningkatan frekuensi berak, di sebagian besar wilayah Indonesia hingga saat ini masih tinggi. Kepala Subdit Diare dan Kecacingan Departemen Kesehatan I Wayan Widaya di Jakarta, menerangkan angka kejadian diare Indonesia menurut survei morbiditas yang dilakukan Departemen Kesehatan tahun 2003 berkisar antara 200-374 per 1000 penduduk.

Menurut hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2004 angka kematian akibat diare 23 per 100 ribu penduduk dan pada balita 75 per 100 ribu balita. Selama 2006, sebanyak 41 Kabupaten di 16 provinsi melaporkan Kejadian Luar Biasa (KLB) diare di wilayahnya. Jumlah kasus diare yang dilaporkan, sebanyak 10.980 dan 277 diantaranya menyebabkan kematian (Case Fatality Rate/CFR=2,5 persen).

Penelitian terdahulu mengenai penyebab gastroenteritis akut menyatakan bahwa sebanyak 20% sampai 30% adalah bakteri. Namun, setelah dua dekade ini teknik yang diperbaharui untuk mendeteksi virus penyebab dan Antigen virus ditinja (pengembangan virus menular dalam biakan jaringan, mikroskop electron (Elisa) dan pemeriksaan penggumpalan lateks) telah memperluas pengertian tentang agen virus penyebab gastroenteristis akut pada masa bayi dan anak.
(Rudolph, 2006: 719).

Penyakit diare hingga kini masih merupakan salah satu penyakit utama pada bayi dan anak di Indonesia. Diperkirakan angka kesakitan berkisar diantara 150-430 perseribu penduduk setahunnya. Dengan upaya yang sekarang telah dilaksanakan, angka kematian di rumah sakit dapat ditemukan menjadi kurang dari 3%.
(Rusepno H. et al., 2005: 283)


MENINGITIS

MENINGITIS
Meningitis adalah peradangan pada selaput meningen, cairan serebrospinal dan spinal column yang menyebabkan proses infeksi pada sistem saraf pusat (Suriadi & Yuliani, 2001: 201).

Meningitis adalah infeksi ruang subaraknoid dan leptomeningen yang disebabkan oleh berbagai organisme patogen. meningitis adalah gangguan yang sangat serius untuk terus memiliki insidensi mortalitas dan morbiditas signifikan. (Rudolph, 2002: 610)
Meningitis adalah inflamasi akut pada meninges (Cecily L. Bettz, 2002: 316)
Meningitis adalah peradangan selaput otak, sumsum tulang belakang atau keduanya. (Speer, Kathleen. M, 2007: 91)
Meningitis adalah infeksi pada meninges yang biasanya disebabkan oleh invasi bakteri dan hanya sedikit oleh virus. (Muscary, Mary. E. 2001: 188)

Meningitis adalah radang membran pelindung sistem saraf pusat. Penyakit ini dapat disebabkan oleh mikroorganisme, luka fisik, kanker, atau obat-obatan tertentu. Meningitis adalah penyakit serius karena letaknya dekat otak dan tulang belakang, sehingga dapat menyebabkan kerusakan kendali gerak, pikiran, bahkan kematian. Kebanyakan kasus meningitis disebabkan oleh mikroorganisme, seperti virus, bakteri, jamur, atau parasit yang menyebar dalam darah ke cairan otak. Daerah "sabuk meningitis" di Afrika terbentang dari Senegal di barat ke Ethiopia di timur. Daerah ini ditinggali kurang lebih 300 juta manusia. Pada 1996 terjadi wabah meningitis di mana 250.000 orang menderita penyakit ini dengan 25.000 korban jiwa.

Satu penyebab meningitis terparah adalah bakteri pneumokokus. Penelitian yang diungkapkan konsultan penyakit menular dari Leicester Royal Infirmary, Inggris, Dr Martin Wiselka, menunjukkan bahwa 20-30 persen pasien meninggal dunia akibat penyakit tersebut, hanya dalam waktu 48 jam. Angka kematian terbanyak pada bayi dan orang lanjut usia lebih besar persentasenya dari tahun-tahun sebelumnya. Pasien yang terlanjur koma ketika dibawa ke rumah sakit, sulit untuk bisa bertahan hidup. Infeksi pneumokokus lebih sering terjadi pada anak dibanding orang dewasa karena tubuh anak belum bisa memproduksi antibodi yang dapat melawan bakteri tersebut. Sebanyak 50 persen pasien meningitis yang berhasil sembuh biasanya menderita kerusakan otak permanen yang berdampak pada kehilangan pendengaran, kelumpuhan, atau keterbelakangan mental. Komplikasi penyakit tersebut akan timbul secara perlahan dan semakin parah setelah beberapa bulan.


RUANG KERJA

RUANG KERJA
Kerja Lembur Yang Melelahkan